Apa nama julukan Persedikab? Bledug Kelud. Lalu, makna bledug di depan Kelud bermakna apa? Debu ataukah anak gajah?
Persedikab adalah fenomena sepak bola Kediri. Jauh sebelum Persik merajai sepak bola tanah air-di medio 2003 hingga 2006-Persedikab telah muncul di tengah-tengah klub-klub peserta divisi utama Liga Indonesia. Meskipun, kehadirannya ibarat numpang lewat. Dua kali hadir meramaikan Liga Indonesia, dua kali pula mereka segera terdegradasi kembali ke divisi satu.
Yang membuat klub perserikatan ini boleh disebut fenomena adalah, dia justru lahir jauh sebelum Persik ada. Bila Persik dibentuk pada 1051, Persedikab baru muncul 30 tahun setelahnya. Atau, hampir 40 tahun. Karena klub berjulukan Bledug Kelud ini baru ada pada 1989.
Konon, munculnya Persedikab setelah ada ketidakpuasan dalam organisasi Persik. Sebelum itu, Persik-Persatuan Sepak Bola Indonesia Kediri, yang tidak ada frasa kota di nama itu-ibarat wadah dari sepak bola Kediri. Namun, akhirnya beberapa tokohnya kemudian membentuk wadah sepak bola di kabupaten dengan nama Persedikab.
Terlepas dari apa penyebab ‘pecah’ itu, sisi positifnya adalah, sepak bola Kediri langsung terangkat. Satu dekade setelah pembentukan itu, Persedikab bisa mencicipi kompetisi kasta tertinggi tanah air. Yaitu ketika kompetisi sepak bola di Indonesia sudah dibaurkan dalam satu wadah, Liga Indonesia. Sebelumnya, ada kompetisi Galatama dan Perserikatan dengan dua kelompok peserta yang berbeda.
Pertama kali, Persedikab tampil di musim 1996-97. Kala kompetisi berlabel Liga Kansas. Dulu, formatnya masih dua wilayah. Berada di Wilayah Timur, sayangnya Persedikab gagal tampil menawan. Mereka hanya bisa duduk sebagai juru kunci. Otomatis, klub ini langsung didegradasi ke divisi I.
Namun, Persedikab adalah simbol kengototan dan tak pantang menyerah. Mereka mampu menyembul kembali ke divisi utama. Yaitu pada musim 2002 ketika kompetisi disponsori Bank Mandiri sehingga namanya adalah Liga Bank Mandiri. Sayang seribu sayang, lagi-lagi, Bledug Kelud hanya semusim berpartisipasi. Mereka kembali tergelincir ke divisi 1.
Menariknya, di musim ini ‘saudara tua’ mereka-Persik-mampu promosi ke divisi 1. Dan berlanjut menjadi juara Ligina musim 2003.
Ketika ‘saudara tua’-nya panen prestasi, giliran Persedikab terseok-seok. Hingga ke jurang terdalam kompetisi tanah air, divisi 3. Toh, sekali lagi, Persedikab adalah simbol ketidakmenyerahan. Dengan segala kekurangan yang melibatnya, Persedikab mampu bertahan. Dan musim ini, mereka berkesempatan naik satu kelas. Di bawah asuhan pelatih kelas atas Tony Ho, Bledug Kelud masuk di level divisi 3 nasional. Setahap lagi mereka promosi ke divisi 2. Satu level di bawah Divisi 1.
Tapi, saya tak ingin berpanjang kata dengan kilas balik kisah sang Bledug Kelud. Saya ingin berkisah tentang julukan yang disematkan pada klub ini. Memang, saat ini ada beberapa julukan yang disematkan ke tim asal daerah yang berada di lereng Gunung Kelud ini. Ada yang menyebut sebagai Kediri Merah. Tapi, masih banyak pula yang menggunakan julukan Bledug Kelud. Bila melihat situs PSSI Jatim, di situ tertera julukan tim ini adalah Bledug Kelud.
Penyematan Bledug Kelud bukan tanpa histori. Ada sejarah panjang dan mendalam pada penggunaan sebutan itu. Nama itu menjadi usulan warga Kabupaten Kediri melalui polling sederhana yang diprakarsai pengurus kala itu. Kebetulan, induk Koran ini, Jawa Pos biro Kediri, menjadi salah satu pemrakarsa polling kecil tersebut. Menjadi penggalang usulan yang akhirnya menelurkan Bledug Kelud.
Mengapa bledug? Lalu, apa sejatinya arti bledug? Debu ataukah anak gajah. Sebab, dua-duanya juga masuk akal sebagai arti sebutan Bledug Kelud. Bisa anak gajah dari Kelud atau debu Kelud.
Namun, yang paling mendekati maksud Bledug Kelud adalah anak gajah. Ini bisa dikaitkan dengan logo Persedikab yang bergambar Dewa Ganesha. Dewa simbol kepintaran dan kekuatan yang berwajah gajah. Simbol ini juga digunakan oleh Pemkab Kediri. Tentu saja wajar, karena klub perserikatan saat itu merupakan milik pemerintah daerah. Sebagai wadah pembinaan sepak bola.
Namun, memaknai bledug sebagai debu juga tak salah. Karena Kelud adalah gunung berapi yang sangat aktif. Yang sangat kuat letusannya. Beberapa kali meletus, dampak debunya bisa sampai ke luar provinsi. Nah, memaknai Bledug Kelud sebagai debu masih masuk kan? Sebagai simbol kedahsyatan dari Kelud.
Kini, ada julukan lagi yaitu Kediri Merah. Toh, ini juga tak masalah. Semakin banyak julukan, semakin baik juga. Yang penting, kita semua berharap agar napk tilas prestasi Bledug Kelud terus terjaga. Kita semua berharap Persedikab mampu kembali mewarnai sepak bola tanah air. ‘Memerahkan’ persaingan seperti warna khas kostum mereka saat ini. Dan, ini semua butuh bantuan semua pihak agar memberi dukungan besar. Senyampang mereka akan berjuang di babak nasional mulai 6 Februari besok. Selamat berjuang dan semoga melenggang ke divisi 2. Bravo si Merah Persedikab. (*)
Editor : adi nugroho