Memang, sudah ada kampus negeri di Kota Kediri. Yakni IAIN Kediri. Tapi, itu menurut saya belum cukup. Kota Kediri harus punya universitas negeri. Bukankah sudah ada kampus Universitas Brawijaya (UB)? Ini juga menurut saya belum cukup. Sebab, pada dasarnya itu bukan universitas negeri Kediri. Tapi, universitas negeri (UB) yang buka cabang di Kediri.
Sudah waktunya, menurut saya, Kota Kediri punya universitas negeri sendiri. Beberapa waktu lalu, saya sempat ngobrol agak lama dengan salah seorang pimpinan perguruan tinggi di Kediri. Dia setuju dengan wacana, bahwa Kediri harus punya universitas negeri sendiri. Yang paling mungkin untuk mewujudkannya adalah dengan cara merger beberapa perguruan tinggi yang ada di Kediri. "Daripada sekarang, berdiri sendiri-sendiri, hasilnya kurang optimal. Lebih baik digabung, lalu dirintis untuk menjadi embrio universitas negeri di Kediri," katanya.
Mengapa Kota Kediri harus punya universitas negeri sendiri? Setidaknya ada tiga alasan.
Pertama, Kota Kediri adalah kota terbesar ketiga di Jawa Timur. Bahkan, menurut data Sensus Sosial dan Ekonomi (Susenas) Badan Pusat Statistik tahun 2018, Kota Kediri pernah dinobatkan menjadi kota terkaya ke-3 di Indonesia, jauh di atas Surabaya. Data itu menyebutkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri di tahun 2018 mencapai Rp 291,48 juta per kapita.
Dengan PDRB tersebut, Kota Kediri berada di urutan ketiga setelah Jakarta Pusat dan Teluk Bintuni. Kota Surabaya berada di urutan ke 16.
Kedua, sebentar lagi, Kediri punya bandara. Keberadaan bandara di sebuah daerah, cepat atau lambat pasti akan berdampak terhadap perkembangan daerah itu. Begitu nanti bandara beroperasi, bakal terjadi perubahan. Baik dari sisi sosial, budaya dan ekonominya. Apalagi jika bandara itu nanti akan berkembang menjadi bandara internasional. Masak, kota yang ada bandara internasionalnya, tidak punya universitas negeri?
Ketiga, dalam konteks kebijakan publik, perguruan tinggi merupakan bagian dari epistemic community. Ini adalah istilah yang pertama kali disampaikan oleh Peter M. Haas. Menurut Haas, komunitas epistemik merupakan kelompok kaum profesional dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi pengambilan kebijakan publik tentang isu-isu teknis tertentu.
Jadi, berpijak pada hal ini, keberadaan perguruan tinggi sangatlah penting sebagai partner pemerintah (pemerintah daerah) dalam membuat dan merumuskan sebuah kebijakan. Dan bagi Kediri, keberadaan universitas negeri menjadi keniscayaan. Karena itu sudah saatnya mulai dipikirkan.
Mengapa masih harus universitas negeri? Karena hingga kini, setidaknya menurut data dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2019, yang disebut perguruan tinggi terbaik, masih didominasi perguruan tinggi negeri.
Selain itu, kuliah di universitas negeri biayanya relatif lebih terjangkau. Karena ada peran negara atau pemerintah di dalamnya (subsidi). Begitu juga dengan kualitas pendidikannya. Sudah pasti akan lebih terjamin standarisasinya.
Ayo, Mas Wali Kota Kediri, Mas Bupati Kediri, bersinergilah untuk mewujudkan cita-cita besar itu: universitas negeri di Kediri. Syukur, jika didalamnya ada Fakultas Kedokterannya.
Orang tua saya selalu menasihati saya, jika akan mencapai sesuatu, utamakan kemauan. Jangan kemampuan. Karena kemampuan itu selalu ada batasnya. Kalau kemauan itu tidak pernah ada batasnya."Man Jadda Wa Jadda". Di mana ada kemauan, pasti ada jalan.
Maka, bisa tidaknya didirikan universitas negeri di Kediri, sangat tergantung dari kemauan kita, wabil khusus kemauan para pemimpin kita. (Kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/iG:kum_jp).
Editor : adi nugroho