Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

R. SOERARJO

adi nugroho • Senin, 24 Agustus 2020 - 23:55 WIB
r-soerarjo
r-soerarjo

‘Lagu Dari Sabang Sampai Merauke  sebagai bukti sumbangan membanggakan dari seniman Kota Kediri untuk Indonesia’


 


Oleh : Suko Susilo


 


Selalu pada setiap bulan Agustus, nasionalisme bangsa Indonesia seolah meluap lagi. Dada seolah berdegup kencang oleh semangat perjuangan. Rasa benci dan permusuhan pada bangsa penjajah menyeruak memenuhi otak.  Kibaran bendera dan berbagai umbul-umbul dengan dominasi warna merah dan putih di jalanan menyempurnakan letupan cinta tanah air Indonesia. Itu semua masih dilengkapi oleh pengumandangan sejumlah lagu wajib dan lagu perjuangan yang menyembur dari pengeras suara sejumlah upacara dan lain-lain acara Agustusan.


Terkait lagu wajib nasional, tentu bukan hal mengejutkan jika sebagian terbesar masyarakat Kota Kediri tak mengenal pencipta lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Informasi pencipta lagu wajib selama ini memang hanya sebatas nama penciptanya saja. Tidak tentang informasi data diri penciptanya apalagi proses penciptaan melodi lagu serta lirykasinya.


Adalah R. Soerarjo penduduk Kelurahan Mojoroto Kota Kediri yang menciptakan lagu tersebut. Fakta ini didasarkan pada Surat Pernyataan Depdikjarbud (Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan) No. 17928/F/103/61 tertanggal 11 Maret 1961, yang mengukuhkan bahwa R. Soerarjo sebagai pencipta lagu wajib nasional berjudul Dari Barat Sampai Ke Timur.


Memang  pada awalnya lagu yang ia ciptakan pada Jumat Kliwon 20 Mei 1942 saat malam telah menjangkau pagi itu diberinya judul Dari Barat Sampai Ke Timur. Lagu itu diciptakan pada saat R. Soerarjo sedang prihatin karena Jepang menutup semua sekolah yang ada sehingga karirnya sebagai guru terhenti. R. Soerarjo menulis lagu itu dalam keheningan yang mistis di Pendapa Perguruan Taman Siswa Nganjuk karena memang ia menjadi guru di perguruan tersebut.


Pada tanggal 6 Mei 1963, saat Presiden Sukarno pidato di acara rapat umum di Ujungpandang (sekarang Makassar), di tengah pidatonya, ia minta izin pada pencipta lagu Dari Barat Sampai Ke Timur untuk mengubah judulnya menjadi Dari Sabang Sampai Merauke. Bung Karno memang tidak mengenal penciptanya, tetapi secara kebetulan R. Soerarjo mendengarkan siaran langsung pidato Bung Karno tersebut melalui radio.


Terkait perubahan judul lagu, tentu Bung Karno memiliki pertimbangannya sendiri. Pertimbangan itu adalah demi kejelasan yang menegaskan bahwa wilayah geografis Indonesia merentang dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. Bukan barat dan timur yang bisa saja dual meaning (bermakna ganda) karena ketidakjelasannya secara geografis.


Setelah Indonesia merdeka, pria kelahiran Ponorogo 17 Juli 1915 yang bernama lengkap Raden Soerarjo Marwotokoesoemo itu pindah bekerja di Kediri. Menurut penuturan putranya, setelah bertempat tinggal di Mojoroto R. Soerarjo menjadi Kepala Sekolah Rakyat di kelurahannya.


Karier terakhirnya sebelum ia pensiun pada tahun 1971 adalah Kepala Ditjora Depdikbud Kotamadya Kediri. Setelah pensiun R. Soerarjo justru menjadi guru olahraga di SMAK Agustinus. Karirnya sebagai guru olah raga dijalani selama empat tahun sebelum akhirnya dokter menganjurkan untuk beristirahat total setelah menjalani operasi hernia.


R. Soerarjo wafat pada 4 Mei 1993 dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Kelurahan Mojoroto. Di nisan pusaranya tertulis Di sini Disemayamkan Pencipta Lagu Dari Sabang Sampai Merauke.


Ia meninggalkan warisan artistik berupa sebuah lagu yang semoga selalu berkumandang untuk waktu yang tidak ada batasnya. Lagu itu  sebagai bukti sumbangan yang membanggakan dari seniman Kota Kediri untuk Indonesia. Semoga masyarakat Kediri tak kehilangan rasa hormat pada R. Soerarjo dengan membuktikan melalui kesediaannya menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke selepas menyanyikan Indonesia Raya. (Penulis adalah Direktur Pascasarjana IAI Tribakti)

Editor : adi nugroho
#radarkediri