“Setelah dicermati candi di Kediri ternyata penuh dengan nilai karya sastra yang berkualitas”
Akhir-akhir ini agaknya warga Kediri terviralkan oleh temuan penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) di Candi Adan-Adan. Karena selain ditemukan sebuah Arca Dwarapala yang utuh dan pastinya indah. Beberapa spekulasi pun banyak berkembang.
Seperti selain memang peninggalan Kerajaan Kediri di masa lampau. Candi ini juga diduga dulunya berkukuran besar. Hingga diduga bisa sebesar Candi Prambanan di Jogjakarta.
Belum lagi temuan peneliti tahun lalu, yang menemukan sebuah Makara (gapura candi) yang berukuran sangat besar. Juga ukirannya yang sangat indahnya itu. Membuat nilai plus dari candi yang berada di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah ini.
Terlepas dari dugaan-dugaan yang menjadi viral tersebut. Dengan temuan benda bersejarah ini. Menggambarkan betapa beradabnya dan sudah canggihnya masyarakat wilayah sekitar Kediri di masa lalu ini.
Dengan memiliki potensi sebesar itu. Mulai potensi seni, budaya, hingga sejarah yang mampu menunjang edukasi hingga pariwisata. Agaknya sangat rugi jika potensi ini dibiarkan begitu saja.
Walaupun kini masih dalam proses penelitian untuk Candi Adan-adan. Tapi memang Kediri sangat kaya akan nilai-nilai budaya yang tertuang dalam berbagai hal lain. Terutama Kediri yang kaya dengan peninggalan candi-candinya.
Sedikit refleksi, beberapa candi-candi yang sudah jelas sudah ada atau ditemukan sejak lama di Kediri. Seperti Candi Surowono, Gambyok, hingga Tegowangi. Beberapa candi ini ternyata bukan main-main jika dicermati kisah-kisah yang ada di candi di Kediri ini.
Setelah dicermati candi di Kediri ternyata penuh dengan nilai karya sastra yang berkualitas. Dengan menceritakan Kidung Sudamala yang tergambar di Candi Tegowangi ini. Hal ini membuat salah satu candi yang kisahnya menurut saya sangat berkualitas dan rugi jika warga Kediri sendiri sampai tidak tahu.
Oke, jika ditelaah dari reliefnya memang secara kasat mata sulit dipahami. Sehingga membaca buku dan referensi penting kaitannya dengan memahami sebuah relief. Tidak jauh-jauh kalau ingin menikmati keindahan cerita di Candi Tegowangi ini.
Coba baca buku berjudul Gandamayu karya Putu Fajar Arcana. Kalian pasti akan terenyuh mengetahui cerita kesetiaan Dewi Uma yang dikutuk menjadi Raksasa Dewi Durga oleh Dewa Siwa suaminya, akibat melakukan serong demi keselamatan suaminya sendiri.
Belum lagi beberapa seperti Candi Gambyok di Grogol yang menceritakan fragmen Panji Asmara Bangun yang hendak memboyong Anggraini ke kerajaannya. Kisah cinta yang mengharukan bagi Anggraini yang harus mengorbankan diri dan cintanya demi negaranya bisa utuh. Dengan beberapa cerita sastra yang tinggi ini, sayang kiranya jika masyarakat terutama para pelajar Kediri sendiri tidak mengetahuinya.
Dengan ini membuktikan bahwa di Kediri pada masa lalu masyarakatnya pun sudah sangat familier dan memang menggemari kisah sastra yang tinggi seperti diatas. Belum lagi jika dikaji terkait bangunannya. Seperti candi adan-adan yang memiliki keunikan Arca Dwarapala yang posisinya berdiri dan jarang ditemukan di tempat lain. Ini menambah kasanah kecanggihan bangunan Kediri di masa lampau.
Belum lagi beberapa situs-situs maupun bangunan bersejarah lain yang ditemukan secara tidak utuh seperti hanya arcanya saja atau bebatuannya saja. Seperti Situs Tondowongso hingga Situs Tunglur. Hal ini menambah keyakinan bahwa memang wilayah Kediri Kota maupun Kabupaten dulunya adalah memiliki banyak sekali candi. Hal ini membuat tidak berlebihan bahwa Kediri bisa dikatakan Kota Seribu Candi yang memang memiliki daya tarik wisata yang tinggi.
Sehingga dengan potensi kekayaan cerita-cerita sastra di Kediri ini yang dijewantahkan dalam sebuah candi-candinya. Diharapkan memang bisa menjadi media edukasi tersendiri terutama bagi para pelajar di Kediri.
Sehingga setelah menikmati cerita sastra yang sudah ada di sekitarnya dengan memahami candi-candinya. Bisa membuat setidaknya warga maupun pemuda Kediri semakin cinta dan bangga terhadap Kotanya sendiri. Lebih-lebih bisa mengambil dan menjalankan petuah dari setiap karya sastranya tersebut.
Editor : adi nugroho