Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Magnet Lirboyo

Kurniawan Muhammad • Senin, 29 Desember 2025 | 18:00 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Konflik yang terjadi di tubuh PBNU mereda. Dua kubu (kubu Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan kubu Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf) yang sebelumnya berseberangan, akhirnya mau bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kabupaten Kediri, Kamis lalu (25/12).

Mereka hadir di rapat konsultasi yang diinisiasi oleh Syuriah PBNU, dan bersepakat untuk islah. Selain itu juga disepakati untuk mempercepat pelaksanaan Muktamar ke-35 tahun depan (2026).

Diakui atau tidak, Pesantren Lirboyo sangat berperan dalam terjadinya islah tersebut. Bahwa akhirnya kedua belah kubu yang sebelumnya saling ngotot dengan pendiriannya masing-masing, bersedia bertemu dan akhirnya mau untuk berislah, ini sedikit-banyak karena ada faktor “Lirboyo”-nya. Hingga kini, suara dari Lirboyo masih dianggap sebagai “titah” bagi warga Nahdliyin. Setidaknya ada tiga alasan fundamental:

Pertama, sanad keilmuan yang terjaga. Lirboyo adalah penjaga tradisi turats (kitab kuning) yang sangat murni. Kualitas keilmuan para pengasuhnya diakui secara luas, menjadikannya rujukan utama dalam menentukan hukum Islam (bahtsul masail). Kedua, kekuatan jaringan alumni. 

Para alumni Lirboyo tersebar di seluruh pelosok nusantara. Di antara mereka tak sedikit yang mendirikan pondok pesantren baru, dan menduduki posisi strategis di struktur NU. Loyalitas alumni (Himasal) terhadap dawuh (perintah) kiai Lirboyo menciptakan struktur kekuatan akar rumput yang solid. Ketiga, kewibawaan spiritual (kharisma).

Para masyayikh Lirboyo selama ini dikenal dengan gaya hidup yang zuhud dan sikap politik yang tidak oportunistik. Hal ini membangun kepercayaan publik bahwa keputusan yang keluar dari Lirboyo, didasarkan pada maslahat umat, bukan kepentingan sesaat.

Sejak berdirinya NU pada tahun 1926, Lirboyo telah menjadi pilar penyangga utama organisasi NU. Banyak tokoh besar NU, mulai dari tingkat cabang hingga pusat, merupakan jebolan Lirboyo. Pesantren ini adalah “pabrik pencetak” sumber daya manusia bagi NU.

Lirboyo secara konsisten memproduksi literatur dan kajian yang memperkuat paham Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah di tengah gempuran ideologi transnasional. Dan Lirboyo seringkali menjadi tempat "pulang" ketika terjadi kebuntuan komunikasi di tingkat elit PBNU.

Kedudukan Lirboyo yang netral namun berwibawa memungkinkan terjadinya islah, seperti yang terjadi pada peristiwa 25 Desember 2025.

Peristiwa islah di Lirboyo baru-baru ini menunjukkan bahwa ketika struktur formal organisasi di NU mengalami guncangan, sistem kepemimpinan informal (pesantren) bertindak sebagai safety valve (katup pengaman).

Lirboyo berhasil mempertemukan pihak-pihak yang berselisih dalam bingkai persaudaraan santri. Pertemuan ini menegaskan bahwa dalam NU, hukum organisasi (AD/ART) tetap harus tunduk pada etika santri terhadap kiai.

Di Pesantren Lirboyo, saat ini setidaknya terdapat dua figur sentral yang diakui atau tidak telah menunjukkan perannya menjadi jangkar perdamaian. Kedua tokoh ini merepresentasikan perpaduan antara senioritas (sepuh) dan manajemen organisatoris yang kuat.

Kedua figur tersebut adalah: Pertama, KH M. Anwar Manshur, pengasuh utama Pesantren Lirboyo. Kiai Anwar Manshur adalah figur paling sepuh di Lirboyo saat ini. Dalam struktur NU, menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, yang menjadikannya salah satu pilar utama di jajaran Mustasyar PBNU secara de facto. Peran Kiai Anwar cukup besar dalam kaitannya dengan islah di PBNU. Figurnya dianggap sebagai “payung agung”.

Dalam tradisi pesantren, kehadiran Kiai Anwar adalah simbol restu. Dikenal jarang berbicara banyak di media, namun satu kalimah dawuh-nya, mampu membuat pihak-pihak yang berselisih untuk tunduk dan menanggalkan ego sektoralnya.

Selain itu, sosok Kiai Anwar sangat disiplin dalam menjaga tradisi salaf. Kewibawaannya muncul dari konsistensinya mengajar kitab kuning setiap hari, meskipun di usia senja. Inilah yang membuat para elite di PBNU, baik dari kubu mana pun, tetap menaruh hormat yang luar biasa tinggi.

Figur kedua adalah KH Abdullah Kafabihi Mahrus, menantu dari almarhum KH Mahrus Ali (salah seorang tokoh besar NU) dan saat ini menjadi salah satu Ketua PBNU. Jika Kiai Anwar adalah simbol spiritual, maka Kiai Kafabihi adalah penggerak organisatoris. Dialah yang berperan sebagai jembatan komunikasi antara aspirasi pesantren-pesantren di daerah dengan kebijakan di tingkat pusat.

Tentu, selain dua figur tersebut, terdapat figur-figur lain yang juga memiliki peran cukup besar di balik terjadinya islah di PBNU tersebut. Di antaranya ada nama KH Nurul Huda Djazuli (Pesantren Ploso, Kediri), KH Said Aqil Siradj dan KH Ma’ruf Amin.

Kediri sungguh beruntung, punya pesantren Lirboyo, yang hingga kini masih sangat terjaga nama besar dan marwahnya. Dan dalam pusaran konflik di tubuh PBNU belakangan ini, Lirboyo telah memposisikan dirinya sebagai “kiblat moral” yang baik.

Terjadinya islah antar elite di  PBNU yang sebelumnya sempat terjadi tarik menarik kuat antara dua kubu, dan islah itu terjadi di Pesantren Lirboyo, menunjukkan bahwa simpul sejarah antara Pesantren Lirboyo dan NU bukan lah sekadar hubungan antara lembaga pendidikan dan organisasi massa. Melainkan adanya sebuah ikatan batin yang tak terpisahkan.

Lirboyo, bagaimana pun juga, adalah ruh bagi NU. Dan NU, adalah wadah perjuangan bagi nafas keislaman yang diajarkan di Lirboyo. Kedekatan ini telah teruji oleh zaman. Setiap kali NU menghadapi badai besar, Lirboyo selalu berdiri di garda terdepan sebagai penopang ideologis sekaligus jangkar moral yang menjaga organisasi agar tetap berada di atas rel khittah nya.

Peristiwa islah di tubuh elite PBNU pada 25 Desember lalu menjadi bukti paling mutakhir, bahwa kharisma pesantren belum luntur oleh arus modernisasi birokrasi.

Di saat jalur formal organisasi menemui jalan buntu, “diplomasi meja kayu” di dalam kediaman Kyai Lirboyo justeru mampu mencairkan ketegangan. Hal ini menegaskan bahwa dalam tubuh NU, otoritas spiritual dan kepatuhan santri terhadap guru tetap menjadi kekuatan pemersatu yang jauh lebih ampuh, dibandingkan dengan perangkat aturan administratif mana pun.

Sekali lagi, Kediri sungguh beruntung. Karena punya institusi sekaliber Lirboyo. Kehadiran pondok ini tidak hanya menempatkan Kediri dalam peta destinasi pendidikan Islam dunia, tetapi juga menjadikannya sebagai episentrum perdamaian bagi umat.

Wal akhir, eksistensi Lirboyo adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kearifan lokal dan keteguhan memegang tradisi, bisa menjadi solusi bagi persoalan nasional yang kompleks. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kediri #pondok pesantren #ponpes #lirboyo