Kabar bahwa Bandara Dhoho Kediri berhenti beroperasi sejak Mei lalu, sungguh sangat menyedihkan. Semoga, berhenti beroperasi itu sifatnya sementara. Dari informasi yang dihimpun melalui pemberitaan di koran ini, penerbangan di bandara yang terletak di Lereng Gunung Wilis itu diliburkan hingga Juli 2025.
Penerbangan di bandara tersebut dihentikan karena maskapai yang selama ini beroperasi di sana sedang melakukan upaya maintenance. Satu-satunya maskapai yang beroperasi di bandara tersebut hingga pengoperasian dihentikan sejak Mei lalu adalah Citilink. Kala itu Citilink mengoperasikan rute Kediri-Jakarta pp (pulang-pergi), dalam seminggu dua kali: Rabu dan Jumat.
Sebelumnya, sempat beroperasi rute Kediri-Balikpapan dengan maskapai Super Air Jet. Namun karena animo masyarakat rendah, akhirnya rute tersebut ditiadakan hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.
Bahwa pihak Citilink mengatakan penghentian operasional pesawatnya di rute Kediri-Jakarta karena sedang melakukan maintenance, ini menurut saya adalah "alasan diplomatis"-nya. Alasan sebenarnya, saya menduga karena semakin sepinya penumpang di rute itu.
Saya pernah terbang ke Jakarta dari Bandara Dhoho dengan menggunakan Citilink. Saat itu, karena ingin tahu saja. Ternyata, harga tiketnya, lebih mahal ketimbang ke Jakarta lewat Juanda dengan maskapai yang sama. Kawan-kawan saya juga merasakan hal yang sama.
Jadi, terbang melalui Bandara Dhoho ke Jakarta, ternyata lebih mahal ketimbang melalui Bandara Juanda. Ini lah yang menurut saya, bisa jadi penyebab, mengapa animo masyarakat untuk terbang melalui Bandara Dhoho semakin menurun. Hingga membuat jalur penerbangannya menjadi sepi. Dan bagi maskapai, tidak ada pilihan lain, selain menghentikan operasional penerbangannya.
Sejak awal, pembangunan Bandara Dhoho di Kediri memang terkesan agak dipaksakan. Ini adalah satu-satunya bandara di Indonesia, yang dibangun dengan biaya penuh pihak swasta (PT Gudang Garam). Sesuatu yang "agak dipaksakan" belum tentu tidak baik. Menurut saya, tidak ada masalah, ada pihak swasta yang terkesan "memaksa" untuk membangun bandara di Kediri. Bukankah bandara adalah jenis fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat?
Niat awalnya, keberadaan Bandara Dhoho dimaksudkan sebagai bandara alternatif di Jatim, untuk melayani masyarakat Jatim di bagian selatan atau Jatim bagian Mataraman. Bahkan bandara itu didesain menjadi bandara internasional. Dan diharapkan bisa dijadikan embarkasi jemaah haji dan umrah.
Nah, jika memang sejak awal niatnya seperti itu, maka harusnya diimbangi dengan keseriusan dan kesungguhan pihak pemerintah daerah. Dalam hal ini, yang menjadi "sohibul bait"-nya adalah Pemkab Kediri, didukung Pemprov Jatim. Akan lebih baik jika Bupati-nya lebih proaktif. Misalnya, melakukan pendekatan secara personal sambil melobi para kepala daerah di wilayah Mataraman. Untuk diajak kerja bareng, memikirkan secara kolektif tentang keberadaan dan keberlangsungan bandara.
Pihak Gudang Garam sudah melaksanakan tugas utamanya: membangun bandara dengan segala fasilitas pendukungnya. Selanjutnya, pihak pemdalah yang harus berada di garda terdepan untuk memikirkan bagaimana caranya agar bandara tersebut eksis, sustain, dan semakin ramai dipadati penumpang.
Untuk membahas soal ini, haruslah ada pertemuan yang intensif antar-kepala daerah di wilayah Mataraman. Dikoordinir oleh Bupati Kediri sebagai tuan rumah bandara, dan Pemprov Jatim harus menjadi back-up nya.
Masyarakat wilayah Mataraman, umumnya adalah masyarakat Jawa halus, yang sangat menghargai jika "dipangku" atau "disrondoi". Dan dalam hal ini, akan lebih afdhol jika Bupati Kediri mau lebih "mangku" dan mau lebih "nyrondohi". Tidak ada cara lain menurut saya untuk menghidupkan Bandara Dhoho, kecuali dengan spirit kebersamaan. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan kebersamaan. Bagaimana menurut Anda?
Editor : Jauhar Yohanis