Pemkab Kediri dan pihak PT Surya Dhoho Investama (PT SDHI), anak perusahaan dari PT Gudang Garam yang membangun dan mengelola Bandara Dhoho Kediri, tengah menyiapkan tiga rute utama penerbangan di bandara tersebut. Pertama, Kediri-Jakarta. Kedua, Kediri-Bali. Dan ketiga, Kediri-Jeddah (JPRK, 15/10)
Saya mencoba membahas satu per satu dari ketiga rute tersebut. Untuk rute Kediri-Jakarta, menurut saya cukup prospektif. Segmen pasar dari rute ini adalah mereka yang selama ini terbang ke Jakarta melalui Bandara Juanda. Dengan adanya rute Kediri-Jakarta, maka akan memperpendek perjalanan. Jika sebelumnya harus ke Bandara Juanda (sekitar 1,5 jam dari Kediri ke Juanda), kelak akan langsung berangkat dari Bandara Kediri. Masyarakat yang memanfaatkan rute Kediri-Jakarta ini tak hanya berasal dari Kediri Raya saja (Kota Kediri dan Kabupaten Kediri). Tapi juga bisa masyarakat yang berasal dari Tulungagung, Trenggalek, Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Jika kelak di Bandara Kediri sudah terhubung dengan tol, maka masyarakat yang berasal dari Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan, akan lewat Bandara Kediri jika akan ke Jakarta.
Di Bandara Juanda, rute Surabaya-Jakarta merupakan rute tertinggi dan terbanyak dalam hal jumlah penumpangnya, dibandingkan dengan rute domestik lainnya. Data 2022 menyebutkan, rute Surabaya-Jakarta mengangkut 2.004.698 orang. Jumlah ini ekuivalen dengan 28 persen dari seluruh jumlah penumpang domestik di Bandara Juanda. Jumlah terbanyak kedua adalah rute ke Makassar, sejumlah 962.892 penumpang (13 persen). Kemudian ke Denpasar, sejumlah 809.624 penumpang (11 persen).
Jadi, rute ke Jakarta masih sangat prospektif. Makanya, jika di Bandara Kediri kelak dibuka rute Kediri-Jakarta, ini akan cukup prospektif.
Untuk rute Kediri – Bali, ini sebenarnya juga cukup prospektif. Di Bandara Juanda, setahu saya saat ini ada 12 kali penerbangan dari Surabaya-Bali, atau sebaliknya. Bandara Abdul Rahman Saleh di Malang, dulu ada rute Malang-Bali. Tapi, kini sudah ditutup rute tersebut.
Dengan adanya rute Kediri-Bali itu, maka penumpang dari wilayah Kediri Raya, plus wilayah-wilayah lain di Jatim bagian selatan (Trenggalek, Tulungagung, Madiun, Ponorogo, Pacitan, dan Magetan) yang biasanya harus ke Juanda jika ingin ke Bali, maka kali ini cukup ke Bandara di Kediri.
Hanya saja, orang yang bepergian ke Bali, pastilah tidak akan sebanyak ke Jakarta.
Jika rute Kediri-Jakarta dan Kediri-Bali bisa diwujudkan begitu bandara beroperasi, rute ketiga: Kediri-Jeddah, agaknya yang perlu dipikirkan ulang. Saya tahu, rute ini merupakan bagian dari cita-cita besar menjadikan Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji dan umrah. Cita-cita seperti ini boleh-boleh saja. Tapi, butuh proses dan butuh tahapan-tahapan serta berbagai persiapan yang agak panjang untuk mewujudkannya.
Jika ingin ada rute ke luar negeri, menurut saya, yang bisa diwujudkan begitu bandara beroperasi adalah ke Kualalumpur, Hongkong atau Taiwan. Negara-negara ini adalah termasuk destinasi terbanyak para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berasal dari daerah-daerah di wilayah Jatim bagian selatan. Makanya, jika rute penerbangan ke negara-negara itu dibuka di Bandara Dhoho Kediri, ini akan cukup prospektif. Paling tidak, calon penumpangnya adalah para PMI yang berasal dari Kediri Raya, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, Madiun, Ponorogo dan Magetan.
Jadi, rute Kediri-Jeddah, menurut saya, untuk sementara jangan menjadi prioritas untuk rute ke luar negeri. Akan lebih prospektif, jika rute ke luar negeri itu misalnya: Kediri-Kualalumpur, Kediri-Hongkong, atau Kediri-Taiwan.
Setidaknya, untuk rute-rute ini sudah ada calon penumpangnya. Yakni para PMI yang bekerja di negara-negara tersebut.
Untuk membuat rute baru, apalagi bagi bandara baru, tantangannya cukup berat. Salah satunya adalah soal harga tiket. Rute Kediri-Jakarta akan menjadi pilihan utama, jika harga tiketnya rata-rata minimal sama dengan harga tiket Surabaya-Jakarta di Juanda. Jika harga tiket Kediri-Jakarta lebih mahal, dan selisihnya cukup signifikan jika dibandingkan dengan di Juanda, maka penumpang pastilah akan berhitung. Lebih baik agak jauh sedikit ke Bandara Juanda, daripada lewat Bandara Kediri, tapi harga tiketnya kelewat mahal.
Makanya, Pemkab Kediri dan PT SDHI sudah menyiapkan skema perhitungan untuk memberikan subsidi rute-rute yang akan dibuka tersebut. Bagi rute baru, apalagi untuk bandara baru, subsidi memang sebuah keniscayaan. Sebab, ini adalah bagian dari daya tarik kepada penumpang.
Sekarang ini, yang terpenting, Bandara Dhoho Kediri segera bisa diselesaikan. Acara “first landing” di tahun ini, jangan molor lagi. Infrastruktur yang melengkapi keberadaan bandara juga harus dituntaskan. Selesainya harus pararel dengan bangunan bandaranya.
Dan ini yang penting: Kediri Raya harus bikin sesuatu yang membuat orang-orang tertarik untuk datang ke wilayah ini. Maaf, sejauh ini, menurut saya, yang ada di Kediri Raya, baik itu tempat wisatanya, atau pun event-event yang sudah dibikin, masih belum menjadi magnet kuat untuk membuat orang datang ke sini. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah