Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika para Purnawirawan Bermanuver

K
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

 


Advertisement

Mereka ini bukan sembarang purnawirawan TNI. Mereka pernah menjadi jenderal di masanya, dan jabatannya saat itu bukan kaleng-kaleng.

Ada Try Sutrisno (mantan wakil presiden ke enam), Fachrul Razi (mantan Menteri Agama), Tyasno Soedarto (mantan KSAD), Slamet Soebijanto (mantan KSAL), dan Hanafie Asnan (mantan KSAU). Mereka ini, bersama ratusan purnawirawan lainnya menyampaikan petisi kepada Presiden Prabowo Subianto.

Salah satu bunyi petisinya: mendesak kepada MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) mengambil langkah mengganti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Alasannya, proses pencalonannya dianggap melanggar hukum.

Advertisement

Jujur, saya agak terusik dengan aksi para purnawirawan tersebut. Karena, mereka punya porto folio yang “bukan sembarang purnawirawan”.

Artinya, mereka (pernah) punya kapasitas dan reputasi yang istimewa di masanya. Tapi, mengapa mereka malah bermanuver dengan mengangkat isu yang tidak penting?

Gibran sudah dipilih, ditetapkan, dan dilantik menjadi wakil presiden, yang mendampingi Presiden Prabowo lima tahun mendatang.

Advertisement

Prosesnya sudah konstitusional. Dan sejauh ini, tidak ada pelanggaran yang dilakukan Gibran, yang secara konstitusi dapat menjadi alasan untuk pemberhentiannya.

Kemudian tiba-tiba, muncul tuntutan dari para purnawirawan untuk mendesak MPR agar mengganti Gibran. Bagaimana logika publik bisa menerima atau membenarkan tuntutan dari para purnawirawan itu?

Coba Anda bayangkan, seandainya tuntutan para purnawirawan itu direspon oleh MPR, kemudian MPR bersidang, lalu pada akhirnya memberhentikan Gibran, apa yang akan terjadi di negeri ini? Kekacauanlah yang akan terjadi.

Sedikit banyak, Gibran pasti punya pendukung. Mereka pasti tidak akan terima jika Gibran dilengserkan tanpa ada alasan konstitusional.

Dan ini menimbulkan aksi massa, konflik horizontal, bahkan bisa menjadi potensi anarkis. Ini akan menjadi preseden buruk, bahwa konstitusi bisa diganti atau dirusak dengan adanya manuver sekelompok orang.

Mau jadi apa negeri ini? Tidak kah berbagai kemungkinan ini terbayang di benak para purnawirawan itu? Atau, jangan-jangan, karena faktor usia, mereka akhirnya kurang mampu mengukur dampak dari manuvernya tersebut?

Saya tidak membantah, dari sisi usia, Gibran masih tergolong muda. Dari sisi pengalaman, masih belum benar-benar matang. Dia baru satu periode menjadi wali kota. Itu pun wali kota untuk kota yang relatif kecil.

Tapi, saat ini, suka atau tidak,  Gibran adalah wakil presiden. Dia terpilih satu paket dengan Prabowo dalam sebuah kontestasi politik yang demokratis. Ingat: Gibran adalah “wakil”, bukan “presiden”.

Dan dalam sistem pemerintahan kita yang sudah baku, presiden dan wakil presiden dibantu oleh para menteri.

Dengan sistem dan mekanisme ini, maka keterbatasan yang ada pada Gibran, akan dapat dikurasi dan dilengkapi oleh elemen-elemen lain dalam sistem dan mekanisme pemerintahan yang sudah baku itu.

Manuver dari para purnawirawan tadi, jika ditanggapi dan direspon, maka akan merusak sistem dan mekanisme dalam pemerintahan yang sudah baku tersebut.

Para purnawirawan seharusnya bisa menjadi figur-figur pelindung dan pengayom dengan kebijaksanaan yang mereka punya.

Salah satu yang kita harapkan dari figur yang berusia lanjut, apalagi kalau bukan pikiran dan tindakan yang bijak. Bukan tindakan yang berpotensi memecah belah bangsa.

Erik Erikson dalam bukunya berjudul “Childhood and Society” menyebutkan ada delapan tahap perkembangan usia manusia.

Tahap terakhir, kelompok usia 65 tahun ke atas, adalah tahap “integrity vs despair” (integritas vs keputusasaan).

Orang yang berada di usia ini, ketika berhasil mencapai integritas, cenderung lebih bijak, karena telah merefleksikan pengalaman hidupnya, dan belajar dari kesalahan di masa lalu.

Jadi, berpijak dari teori Erikson, dapat dikatakan, bahwa ketika seseorang di usia lanjut, tapi tindakan dan perilakunya tidak malah menjadi bijak, maka dia masih belum berhasil mencapai integritas. Dengan kata lain, di usia yang lanjut itu,  ada problem integritas di dalam dirinya.

Bahwa kebijaksanaan (wisdom) sering dikaitkan dengan semakin bertambahnya usia, juga dibenarkan oleh banyak studi dan penelitian ilmiah.

Salah satunya disampaikan oleh Monika Ardelt, sosiolog dan juga peneliti tentang wisdom. Ardelt menemukan bahwa kebijaksanaan (wisdom) sering terkait dengan usia tua, karena melibatkan refleksi kognitif, empati emosional dan perspektif moral yang berkembang melalui pengalaman hidup.

Dengan kata lain, dapat juga dikatakan, bahwa semakin tua usia seseorang, ketika dia berhasil melakukan refleksi kognitif di masa lalunya, dan ketika dia punya empati emosional yang baik, maka ini akan dia cerminkan dalam tindakan dan perilakunya yang bijak.

Tapi, ketika seseorang di usia tuanya tindakan dan perilakunya malah tidak bijak, maka dapat dikatakan, ada problem pada refleksi kognitif dan empati emosionalnya.

Nah, silakan Anda menilai, terhadap manuver yang dilakukan para purnawirawan tersebut. Apakah tindakan mereka tergolong tindakan yang bijak? Pendapat Anda, mencerminkan kapasitas Anda. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer