
Ada guyonan tentang selingkuh. Kata guyonan itu, selingkuh adalah singkatan dari “SELINGan indah, Keluarga utUH,” Jadi, menurut versi guyonan itu, selingkuh adalah aktivitas untuk mencari “selingan” bagi orang yang sudah berkeluarga.
Sambil menjaga agar keluarganya tetap utuh. Mencari “selingan” dalam hal ini adalah berselingkuh. Sekali lagi, ini adalah guyonan.
Baru-baru ini, jagat di dunia maya, dihebohkan dengan dua nama: Lisa Mariana (LM), mantan model majalah dewasa dan Ridwan Kamil (RK), mantan Gubernur Jawa Barat.
Kabar ini berawal dari pengakuan LM, yang katanya adalah selingkuhan dari RK. Bahkan, versinya LM, dari hubungan tersebut sudah membuahkan anak.
Berita ini pun terus meggelinding bak bola liar. Kabar terbaru, LM menggelar jumpa pers, menceritakan secara blak-blakan di depan para wartawan tentang bagaimana dia awalnya berhubungan dengan RK.
Diceritakan pula di depan wartawan hingga urusan “ranjang”, bahkan sampai pada hal yang sebetulnya bersifat sangat pribadi.
Saya pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa se-percaya diri itu, seorang perempuan yang menceritakan aib-nya sendiri, di depan para wartawan, dan kemudian aib tersebut tersebar begitu luasnya di semua platform media massa dan media sosial?
Secara tidak langsung, si LM sudah menceritakan aibnya di depan publik, bahwa dia pernah terlibat hubungan terlarang dengan RK.
Bahkan hingga membuahkan seorang anak perempuan. Terlepas bahwa anak perempuan itu anak biologis si RK atau bukan.
Saya sangat kasihan dengan anak perempuan LM yang kini umurnya baru sekitar 3 tahun. Saya tidak bisa membayangkan, betapa berat beban psikologisnya kelak ketika dia mulai beranjak remaja, lalu mengetahui tentang perilaku atau masa lalu ibunya.
Apalagi, jika anak perempuan LM itu kelak mengetahui bahwa dia adalah buah dari hubungan terlarang ibunya.
Artinya, ketika LM berkoar-koar dan mempublikasikan aibnya, dia tidak berpikir panjang alias tidak memikirkan masa depan anaknya. Dia terkesan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Pada kasus LM dan RK ini, setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, perspektif media sosial. Kedua, perspektif relasi antara kekuasaan dan perselingkuhan.
Pada perspektif pertama, keberadaan media sosial dewasa ini disadari atau tidak, telah memicu era baru, yakni era pascakebenaran (post-truth era).
Menurut “Oxford Dictionary”, “post-truth era” adalah situasi dimana fakta objektif kurang berpengaruh dibanding emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik. Dalam era ini, kebenaran menjadi relatif, karena didominasi oleh narasi yang viral, meskipun akurasinya belum bisa dipastikan.
Bahwa publik saat ini seperti dibuat percaya oleh perselingkuhan LM dan RK, itu karena narasi dan informasi masih bersumber dari pihak LM.
Dan itu bersumber pada opini dan keyakinannya LM. Sedangkan dari pihak RK, sejauh ini belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi. Jadi, karena pihak RK diam, maka seakan-akan kabar perselingkuhan itu benar adanya.
Media sosial telah menjadi katalis utama “post-truth era”. Salah satunya, karena di media sosial, eksosistem informasinya mudah terfragmentasi.
Platform seperti Facebook, Twitter (X), dan TikTok, menggunakan algoritma yang menampilkan konten sesuai preferensi pengguna. Ini yang disebut dengan “filter bubble”. Sehingga, hal ini menyebabkan terjadinya bias informasi.
Antara berita yang benar-benar fakta berbasis data yang obyektif, dengan berita-berita yang hoaks dan disinformasi, menjadi sulit dibedakan.
Dengan adanya era seperti ini, dimana media sosial telah menjadi pembangun opini publik yang cepat dan kuat, berhati-hatilah Anda jika Anda adalah seorang pejabat atau public figure.
Sebab, jika Anda tidak berhati-hati, reputasi Anda akan bisa dihancurkan dengan mudahnya melalui algoritmanya media sosial.
Pada perspektif kedua, terdapat beberapa teori untuk menjelaskannya yang hingga kini masih relevan.
Misalnya, “Teori Patriarki dan Kontrol Seksual” yang dicetuskan oleh Kate Millett dan Sylvia Walby. Menurut teori tersebut, dalam sistem patriarki, perselingkuhan laki-laki penguasa (raja atau politisi) mencerminkan kontrol atas tubuh perempuan sebagai alat kekuasaan.
Contohnya, adalah tradisi selir di zaman kerajaan. Contoh lainnya adalah skandal seks, kasus perselingkuhan yang sempat menghebohkan antara mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dengan Monica Lewinsky.
Kasus ini kala itu hampir membuat Clinton di-impeach. Karena terjadi saat Clinton menjadi presiden, dan saat itu Monica adalah mantan pegawai magang di gedung putih.
Teori yang lainnya adalah “Social Exchange Theory” (Teori Pertukaran Sosial) yang dicetuskan oleh George Homans dan Peter Blau. Menurut teori ini, perselingkuhan bisa dilihat sebagai transaksi, dimana individu mengevaluasi untung-rugi (reward vs cost).
Dalam konteks kekuasaan, orang mungkin berselingkuh untuk mendapatkan keuntungan materiil, status, atau pengaruh. Misalnya, gundik raja mendapatkan kekayaan, sementara raja memperoleh kepuasan seksual atau legitimasi politik.
Teori-teori tersebut, menurut saya, masih cukup relevan di masa kini. Sama masih relevannya dengan kredo “harta-tahta-wanita”.
Orang yang punya kekuasaan (jabatan atau pengaruh), orang yang punya kekayaan, seringkali kehidupannya tak jauh dari wanita. Saya termasuk yang percaya, bahwa perselingkuhan antara RK dan LM ini (jika memang benar), seperti fenomena gunung es.
Yang tampak di permukaan jauh lebih sedikit, ketimbang yang ada di dalam. Dalam arti lain, pejabat yang berselingkuh kemudian terbongkar, jumlahnya jauh lebih sedikit, ketimbang pejabat yang berselingkuh tapi masih aman, alias belum terbongkar.
Mereka ini masih menerapkan “selingkuh” yang versi guyon tadi: selingan indah keluarga utuh. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
