Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Deny Widyanarko dan Blangkon Ijo

K
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Suatu ketika, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Deny Widyanarko  di sebuah mal di Kota Kediri. Saya sempat pangling, karena saat itu dia tidak mengenakan “blangkon ijo” yang menjadi ciri khasnya saat berkontestasi pada pilkada Kabupaten Kediri tahun lalu. Kami pun terlibat ngobrol hingga hampir dua jam.


Advertisement

Dia menceritakan berbagai aktivitasnya. Mulai dari bisnis rokoknya (Tajimas Group), hingga aktivitas sosial-nya. Lha, ini yang menarik. Meski dalam pilkada tahun lalu dia kalah, tapi hingga kini dia mengaku masih terus berupaya mewujudkan visi-misinya saat maju pilkada tersebut.

Ketika saya bertanya alasannya, “Saya punya tanggung jawab moral kepada para pemilih saya. Makanya, saat ini berusaha keras semampu saya untuk memenuhi janji-janji saya kepada masyarakat pada saat kampanye dulu,” kata Deny.

Pada pilkada Kabupaten Kediri tahun lalu, Deny yang berpasangan dengan Mudawamah berhasil mendapatkan perolehan 376.770 suara (43,47 persen). Hanya terpaut 113.130 suara dengan pemenang pilkada, pasangan Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa yang memperoleh 489.900 suara (56,53 persen).

Advertisement

Perolehan suara Deny yang mencapai 40 persen lebih itu, memang agak mengejutkan. Pertama, dia melawan incumbent yang diusung oleh partai besar pemenang pemilu (PDIP).

Sedangkan Deny diusung oleh PKB. Kedua, Deny bukanlah sosok politisi yang telah malang melintang di dunia politik. Di panggung politik Kabupaten Kediri, dia adalah pendatang baru. Dia adalah pengusaha, owner dari Tajimas Group, salah satu pabrik rokok di Kediri.

Inilah yang membuat Deny merasa bertanggung jawab untuk tetap memenuhi janji-janjinya saat kampanye kepada para pemilihnya, meskipun dia kalah.

Advertisement

“Saya penuhi semampu saya,” tegasnya. Apakah ini berarti Anda akan maju lagi nanti di pilkada berikutnya? “Saya tidak berpikir ke sana. Terpenting, saya bisa melakukan apa sekarang untuk mereka yang telah memilih saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka,” tandasnya.

Saya lantas bertanya ke orang-orang terdekatnya Deny seputar aktivitasnya itu. Dari mereka saya mendapatkan informasi, bahwa saat ini di area rumah Deny di kawasan Plosoklaten, di lahan sekitar 1 hektare, dibikin semacam “laboratorium” untuk berbagai praktik pertanian dan peternakan. Dengan melibatkan masyarakat setempat, di tempat itu, Deny membuat kandang untuk ayam petelur.

Juga mendatangkan kambing dengan varietas unggul, untuk disilangkan dengan kambing lokal. Di tempat itu juga dibuat kolam untuk perikanan. Serta green house untuk pertanian. Dan yang terbaru, Deny juga membudidayakan kelinci. Dia bikin taman kelinci di sekitar rumahnya tersebut.

Saya penasaran, ingin sekali melihat langsung “laboratorium”-nya Deny itu.

Ternyata, apa yang saat ini dilakukan oleh Deny, terpacu oleh filosofi “blangkon ijo” yang selama ini menjadi trade-mark-nya selama kampanye pilkada tahun lalu. Saya sempat menduga, bahwa “blangkon ijo” yang dikenakan Deny adalah terkait dengan partai pengusungnya, PKB, yang memang identik dengan warna ijo.

Ternyata dugaan saya salah. “Blangkon ijo” bagi Deny punya makna “mencari dan mengembalikan sesuatu yang hilang”. 

“Blangkon Ijo” adalah simbol dari Mahesa Jenar.  Dia adalah karakter utama dalam cerita silat terkenal “Naga Sasra dan Sabuk Inten” karya Singgih Hadi Mintardja (SH Mintardja). Cerita ini kemudian terbit sebagai buku pada tahun 1966 dan menjadi salah satu kisah epik dalam kesusasteraan Indonesia.

Dikisahkan, Mahesa Jenar adalah mantan prajurit Kesultanan Demak, yang sedang fokus mencari dua pusaka keris Kesultanan Demak, yaitu “Naga Sasra” dan “Sabuk Inten”. Ini dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Kesultanan Demak.

Mahesa Jenar digambarkan sebagai simbol ksatria yang teguh, kuat, dan memiliki misi mulia dalam menghadapi berbagai konflik yang bergejolak di masa Kesultanan Demak.

Ketika masih bergabung di dalam pasukan Kesultanan Demak, Mahesa Jenar adalah prajurit yang sangat dihormati. Dalam perjalanan hidupnya, dia berinteraksi dengan banyak tokoh sejarah seperti Sultan Trenggana, Jaka Tingkir, dan Panjawi.

Hingga akhirnya Mahesa Jenar meninggalkan jabatannya setelah dituduh terlibat dalam pencurian pusaka kerajaan: “Naga Sasra” dan “Sabuk Inten”. Peristiwa ini menjadi titik awal pengembaraannya untuk menemukan kembali keris yang menjadi pusaka kerajaan tersebut, demi memulihkan nama baiknya dan membawa kehormatan bagi Kesultanan Demak.

Secara filosofi, dengan “blangkon ijo” yang menjadi simbol dari gerakannya itu, rupanya Deny ingin mengatakan bahwa saat ini ada “sesuatu yang hilang” di Kabupaten Kediri.  Dan “sesuatu yang hilang” ini lah yang saat ini sedang dicari dan akan terus dicari oleh Deny sampai ketemu, demi mengembalikan kejayaan dan kehormatan Kabupaten Kediri. Semoga si “blangkon ijo” bisa menemukan “sesuatu yang hilang” itu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Advertisement

Artikel Terkait

Usung Misi Bangkitkan Ekosistem Bisnis, HIPMI Kabupaten Kediri Kolaborasi dengan Radar Kediri

Usung Misi Bangkitkan Ekosistem Bisnis, HIPMI Kabupaten Kediri Kolaborasi dengan Radar Kediri

Sinergi yang dibangun dengan Jawa Pos Radar Kediri diharapkan bisa membuka jalan organisasi pengusaha muda ini untuk mengabdikan diri bagi masyarakat Kediri.

Siap Unjuk Bakat! Peserta School Contest XVIII Antusias Mengikuti TM

Siap Unjuk Bakat! Peserta School Contest XVIII Antusias Mengikuti TM

Antusiasme menyambut School Contest XVIII – GENZVERSE Digital Roots Local Soul semakin terasa. Kemarin (21/10), peserta dari empat kategori lomba bersemangat

Excited Menunggu School Contest 2026! Empat Lomba Ikuti Technical Meeting Hari Pertama

Excited Menunggu School Contest 2026! Empat Lomba Ikuti Technical Meeting Hari Pertama

Atmosfer persaingan di antara para peserta School Contest  2026 mulai terasa. Setidaknya terlihat dalam technical meeting (TM) hari pertama-dari rencana tiga hari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer