Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lima Tantangan Bandara Dhoho

K
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

JP Radar Kediri- Saya sempat menduga, peresmian Bandara Dhoho Kediri pada 18 Oktober lalu akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Advertisement

Kala itu, saya mengira, peresmian bandara tersebut akan menjadi legacy terakhir pemerintahan Jokowi sebelum lengser. Tapi, ternyata yang datang bukan Jokowi, tapi Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP).

Memang, peran LBP di balik dibangunnya Bandara Dhoho cukup penting. Dari informasi yang beredar, sebetulnya lokasi bandara yang akan dibangun di wilayah Jawa Timur bagian selatan itu bukan di Kabupaten Kediri. Tapi di Kabupaten Tulungagung. 

Gubernur Jawa Timur, waktu itu Soekarwo, yang mewacanakan akan membangun bandara di Kabupaten Tulungagung pada 2011. Bahkan, konon, sudah masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) di Provinsi Jawa Timur waktu itu.

Advertisement

Di sisi lain, pihak PT Gudang Garam “ngotot” untuk diizinkan membangun bandara di Kabupaten Kediri. Mereka waktu itu mengklaim punya lahan yang sudah dibebaskan. Bahkan Gudang Garam juga sudah menyediakan anggaran pembangunan bandara.

Jadi, tinggal disetujui dan diizinkan saja. Nah, di sinilah peran sentral LBP. Sehingga proses perizinan untuk pendirian bandara di Kabupaten Kediri begitu lancarnya. Walhasil, berdirilah Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri saat ini.

Berarti, ini adalah bandara ketujuh yang ada di Jawa Timur. Keenam bandara yang lebih dulu ada adalah: Pertama, Bandara Juanda di Sidoarjo. Kedua, Bandara Abdulrachman Saleh di Kabupaten Malang. Ketiga, Bandara Notohadinegoro di Kabupaten Jember.

Advertisement

Ini adalah bandara pertama di Indonesia yang dibangun oleh Pemkab dengan APBD. Bandara ini diresmikan pada 2014. Sempat beberapa tahun ditutup karena faktor jumlah penumpang yang minim. Baru pada Desember 2022 dibuka kembali, dengan membuka jalur penerbangan Jember – Surabaya. Sebulan kemudian, dibuka rute Jember – Sumenep. 

Keempat, Bandara Banyuwangi. Sebetulnya, diresmikan pada Desember 2010, waktu itu dengan rute Banyuwangi – Surabaya. Tapi, lagi-lagi sempat pasang-surut dalam pengoperasiannya. Hingga kemudian bandara itu dipermak lagi menjadi lebih luas dan lebih indah arsitekturnya. Pada 2017 dibuka rute penerbangan Banyuwangi – Jakarta (PP).

Kelima, Bandara Trunojoyo di Kabupaten Sumenep. Bandara ini sebenarnya dibangun sejak 1979. Sempat saat itu digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari Sumenep ke Surabaya. Sama dengan bandara-bandara lain, bandara di Sumenep ini juga sempat mengalami kesulitan. Kemudian dilakukan revitalisasi.

Pada 20 April 2022, revitalisasi bandara selesai dilakukan, dan saat itu diresmikan kembali penggunaannya oleh Presiden Jokowi. Kini, rute penerbangan yang dilayani di Bandara Trunojoyo adalah Sumenep – Pagerungan (PP), Sumenep – Jember (PP), dan Sumenep – Bawean (PP). Keenam, Bandara Harun Thohir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.

Bandara ini beroperasi sejak 2016. Runway-nya paling pendek dibandingkan bandara-bandara lainnya di Jawa Timur, dan memang tidak bisa lagi dipanjangkan karena faktor alam. Saat ini, di bandara itu melayani rute Bawean – Surabaya (PP), dan Bawean – Sumenep.

Setidaknya ada tiga catatan dari keberadaan bandara-bandara di Jawa Timur itu, kecuali Bandara Juanda. Pertama, semua bandara itu mengalami pasang-surut dalam hal jumlah penumpang. Ada bandara yang menutup beberapa rute penerbangannya (seperti Bandara Abdulrachman Saleh), ada pula  beberapa di antaranya yang sempat tidak beroperasi selama beberapa tahun.

Artinya, faktor jumlah penumpang, sangatlah penting dalam menunjang operasional bandara. Kedua, rute yang masih sangat terbatas, dengan kapasitas penumpang antara 10-12 orang. Dan untuk rute dan kapasitas pesawat yang mini ini, raja-nya masih Maskapai Penerbangan Susi Air.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda signifikan, bahwa Susi Air akan membuka rute penerbangannya dari Bandara Dhoho Kediri. Dan catatan ketiga, kesemua bandara yang ada di Jawa Timur itu (kecuali Juanda) belum ada yang berfungsi sebagai bandara Internasional.

Nah, di sinilah yang menjadi diferensiasi atau keunggulan dari Bandara Dhoho Kediri. Dengan statusnya sebagai Bandara Internasional, Bandara Dhoho akan menjadi bandara terbesar kedua di Jawa Timur setelah Juanda, menyalib keberadaan Bandara Abdulrachman Saleh Malang dan Bandara Banyuwangi.

Bandara Dhoho juga menjadi proyek percontohan pertama di Indonesia dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). 

Setelah Bandara Dhoho diresmikan, berbagai tantangan berat sudah menanti. Setidaknya ada lima tantangan, di mana kelima tantangan ini akan sangat mempengaruhi eksistensi dan performance dari bandara.

Pertama, adalah faktor pertumbuhan penumpang. Nyawa-nya bandara adalah jumlah penumpang. Kedua, kaitannya dengan pengembangan teknologi. Saat ini, teknologi harus semakin bisa memudahkan masyarakat. Dalam konteks bandara, keberadaan bandara yang “smart airport” menjadi keniscayaan.

Ini juga harus ditunjang dengan “smart plane”. Ketiga, faktor peningkatan aspek operasional dan infrastruktur. Dalam hal ini terkait dengan peningkatan kapasitas bandara. Kapasitas bandara harus berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penumpang. 

Tantangan keempat dan kelima adalah faktor lingkungan. Yakni terkait dengan penggunaan Sustainable Aviation Fuel sebagai bahan bakar ramah lingkungan, dan emisi karbon. Untuk tantangan keempat dan kelima ini sangat terkait dengan regulasi internasional.

Untuk menjawab kelima tantangan tersebut, tak cukup hanya diatasi oleh PT Gudang Garam saja. Sekuat-kuatnya PT Gudang Garam, tak akan bisa mengatasi kelima tantangan tersebut. Maka, harus melibatkan semua pihak, termasuk peran penting dari pemda-pemda (pemerintah daerah) yang ada di Jawa Timur bagian selatan. Jadi, PT Gudang Garam harus lebih membuka diri. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

 Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Advertisement
Editor : Anwar Bahar Basalamah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer