
Hiruk-pikuk di jagat media sosial (medsos) belakangan ini, pasca-Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto secara resmi menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres). Isu ini pun sempat menjadi trending topic.
Lembaga analis medsos “Drone Emprit” mengungkapkan mayoritas netizen kecewa dengan penunjukan Gibran sebagai cawapres-nya Prabowo. Sebab, Gibran adalah putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan penunjukannya dikaitkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dianggap janggal, berbau “rekayasa politik” dan nepotisme.
“Drone Emprit” membuat analisa emosi terkait kabar pencalonan Gibran. Hasilnya: mayoritas warganet, atau sekitar 3.000 cuitan kecewa dengan penunjukan Gibran sebagai cawapres Prabowo. Sekitar 2.700 cuitan meyakini bahwa Pemilu 2024 penuh dengan settingan drama, seperti halnya putusan MK. Dan sekitar 2.400 cuitan warganet mengaku terkejut dengan penunjukan Gibran sebagai cawapres Prabowo.
Isu ini juga mendapat sentimen negatif sebesar 41 persen di medsos. Mayoritas warganet menggaungkan kritik atas putusan MK terkait soal batasan usia cawapres, mengecam politik dinasti Jokowi, hingga menyindir sikap Gibran yang tak loyal kepada partai (PDIP).
Meski demikian, isu tersebut tetap mendapat sentimen positif sebesar 39 persen di medsos. Narasi mereka terkesan membela. Ada yang mengulas, langkah politik Gibran itu karena seringnya Jokowi diremehkan oleh PDIP dan ketua umumnya Megawati Soekarnoputri.
Di media online, masih menurut analisa “Drone Emprit”, isu tentang Gibran ini kebalikan dari yang terjadi di medsos. Mayoritas malah memberikan sentimen positif (56 persen). Di antaranya, mengulas soal Rakornas Golkar mendukung Gibran sebagai cawapres koalisi Prabowo. Juga diulas tentang deklarasi Prabowo yang mengumumkan Gibran sebagai cawapresnya. Bahkan ada juga yang mengulas prestasi-prestasi Gibran selama memimpin Solo.
Sementara media online yang memberikan sentimen negatif hanya sekitar 19 persen. Di antaranya mereka memberitakan tentang hasil survey mayoritas publik menilai Gibran tak etis menjadi cawapres-nya Prabowo. Ada yang memberitakan bahwa pencawapresan Gibran disebut sebagai pengkhianatan politik. Ada yang mengulas tentang politik dinasti Jokowi. Bahkan ada pula yang mengulas berbagai permasalahan yang akan muncul jika Gibran menjadi cawapres.
Baca Juga: Mahfud MD
Ibarat bola salju, berbagai isu terkait pilpres, wabil khusus terkait Gibran dan Jokowi, tentu akan terus menggelinding seiring berjalannya waktu.
Di negara demokrasi, kita boleh menilai, kita boleh mengkritik, bahkan kita boleh mengecam, berbagai peristiwa yang terjadi saat ini. Termasuk, kita boleh-boleh saja mengkritik, mengecam, dan menghujat Jokowi dan keluarganya.
Saya selalu meyakini, bahwa apa pun yang terjadi, semuanya sudah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Artinya, semesta punya cara kerja sendiri. Dengan kata lain, semesta punya algoritma-nya sendiri.
Jika memang, dibalik semua drama majunya Gibran menjadi cawapres ada rekayasa yang tidak baik yang diotaki Jokowi, saya yakin, “algoritma semesta” tidak akan tinggal diam. Salah satu kaidah dari “algoritma semesta” itu terdapat di dalam Alquran Surat Az-Zalzalah ayat 7-8: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”.
“Algoritma semesta”-lah yang akan mengkurasi, apakah ada kejahatan atau tidak di dalam sebuah peristiwa atau kejadian. Semuanya akan ada kibatnya.
Dengan meyakini adanya “algoritma semesta” ini, maka kita tidak akan terlalu larut dalam hiruk-pikuk yang tidak produktif.
Pilpres akan berlangsung tahun depan (2024). Pemilihnya adalah seluruh rakyat Indonesia. Dan di dalam sistem demokrasi, ada adagium: “Suara Rakyat adalah suara Tuhan”. Adagium ini sebetulnya adalah salah satu tools dari sistem kerja “Algoritma Semesta”. Jadi, biarlah “algoritma semesta” yang bekerja. Ayo kita ngopi saja. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
