Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apakah saya pangling? Rasanya tidak. Tidak ada yang berubah secara signifikan. Setidaknya ada dua catatan untuk air terjun yang berada di kawasan dengan ketinggian 1.438 di atas permukaan laut, di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk itu.
Pertama, kawasan wisata Sedudo masih sangat lemah dari sisi amenitas. Yakni, lemah dari sisi segala fasilitas pendukung. Mulai dari areal parkir di dekat lokasi yang seharusnya luas, tapi kenyataannya sangat sempit. Toiletnya kurang memadai. Juga penginapan, dan lain-lain.
Kedua, padahal Sedudo punya potensi pariwisata yang (sebenarnya) cukup besar untuk digali dan dikembangkan lebih lanjut. Paling tidak ada dua potensi.
Potensi pertama, adalah berbagai kisah yang bersumber dari cerita rakyat yang diceritakan secara turun-temurun, yang mewarnai keberadaan Sedudo. Misalnya, ada mitos atau kepercayaan yang hingga kini masih diyakini warga di sekitarnya, jika mandi di air terjun Sedudo di Bulan Sura (penanggalan Jawa), maka akan membuat awet muda. Makanya, setiap malam 1 Sura, di lokasi Sedudo selalu dijubeli pengunjung. Kebanyakan mereka ingin mandi di kawasan tersebut.
Khasiat dari air terjun Sedudo, diyakini oleh masyarakat setempat secara turun-temurun, berasal dari sosok bernama Sanak Pogalan. Dia sebetulnya adalah petani biasa. Suatu saat, dia bertapa selama bertahun-tahun. Menyucikan dirinya dari berbagai urusan dunia. Demi agar bisa membuat sumber air yang sangat besar. Dan upayanya berhasil. Hingga muncullah sumber air yang akhirnya menjadi air terjun seperti yang bisa disaksikan sekarang ini: Sedudo.
Tak jauh dari Sedudo, terdapat lokasi wisata yang juga berupa air terjun. Yakni, air terjun Singokromo. Dari cerita yang berkembang di masyarakat (secara turun-temurun), nama Singokromo berasal dari seekor singa yang pernah bertapa di lokasi air terjun tersebut.
Versi kisah lainnya menyebutkan, bahwa di balik air terjun Singokromo itu adalah tempat menyimpan berbagai senjata pusaka milik Kerajaan Majapahit di era Patih Gajah Mada. Konon, di balik air terjun itu ada gua. Dan gua tersebut berbentuk tangga-tangga dan kamar-kamar. Di dalam kamar-kamar itulah tersimpan senjata-senjata pusaka milik Patih Gajah Mada. Disembunyikan di tempat itu agar tidak dirampas musuh-musuhnya.
Air terjun Singokromo juga diyakini punya beberapa khasiat. Ada yang meyakini, air terjun itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Buktinya, setiap malam bulan purnama, banyak warga yang mengambil air di tempat itu untuk dijadikan sebagai obat. Ada pula yang meyakini, mandi di air terjun itu bisa menjadi perantara mempercepat jodoh. Hingga kini, selalu ada pemuda-pemudi yang mandi di sana, salah satunya ingin cepat mendapatkan jodoh.
Berbagai cerita di atas, bisa dijadikan bahan untuk “story telling”. Selanjutnya, “story telling” itu yang diceritakan kepada para wisatawan. Turis-turis asing sangat suka dengan “story telling”, setiap kali menyaksikan obyek wisata di sebuah daerah di Indonesia. Apalagi, jika di dalam “story telling” mengandung cerita-cerita berbau mistis dan ada sentuhan budayanya.
Saya sering menceritakan, pengalaman saya berwisata di tempat-tampat lain di beberapa negara, salah satu yang bikin menarik adalah “story telling” dari si guide. Bisa jadi, tempat wisatanya biasa saja. Ada yang berupa batu besar. Ada yang berupa sungai. Ada pula yang berupa hutan lebat. Tapi, bukan objek-objek itu yang bikin menarik. Justru kekuatan “story telling”-lah yang bikin menarik ketika mengunjungi berbagai objek wisata tersebut.
Saya membayangkan, jika kisah rakyat seputar Sedudo dan Singokromo itu dikemas dengan baik. Dibikin dalam bahasa Inggris. Dan diceritakan dengan baik oleh para pendamping turis (guide) kepada para turis asing, maka ini akan menjadi daya tarik tersendiri. Sayangnya, wisata Sedudo miskin “story telling”.
Potensi kedua, adalah “atraksi wisata”. Sebetulnya, di kawasan Sedudo setiap setahun sekali ada tradisi ritual “Siraman Sedudo”. Ini adalah salah satu contoh dari adanya “atraksi wisata”. Dan ini sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Tujuan dari dilakukannya “Siraman Sedudo” adalah: Pertama, syukuran atau selametan satu Sura, sebagai ucapan syukur masyarakat Desa Ngliman, kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta penghormatan kepada jasa-jasa leluhur yang membuka Desa Ngliman. Kedua, merupakan rangkaian dari prosesi hari jadi Nganjuk. Ketiga, memperlihatkan berbagai hasil kerajinan dan kesenian masyarakat setempat.
Sebetulnya, ada yang khas dalam rangkaian ritual “Siraman Sedudo” itu. Yakni, ritual itu diawali dengan menarik tali “amek tirta” yang dilakukan oleh enam penari yang masih gadis, dan diikuti sembilan gadis berambut panjang yang masih perawan. Selain itu, ritual tersebut juga diwarnai dengan menabur bunga tujuh rupa. Sungguh, ini adalah sebuah “atraksi wisata” yang sangat menarik jika dikemas dengan baik. Dan pasti akan bikin terkesan para turis mancanegara.
Sebuah survei dengan metode “exit poll” terhadap para turis asing yang pulang berwisata dari Indonesia menyebutkan, sekitar 60-80 persen mereka menyukai tempat wisata di Indonesia yang kental dengan nilai budaya. Makanya, “atraksi wisata” di Sedudo itu, (sebetulnya) sangat layak untuk dipamerkan kepada para turis asing.
Sayangnya, pelaksanaan ritual “Siraman Sedudo” dari tahun ke tahun cenderung monoton. Kurang greget. Kurang dikemas dengan lebih baik. Sehingga, hasilnya pun terkesan begitu-begitu saja. Dan ini memang problem khas di Indonesia. Negara ini sebenarnya punya banyak “atraksi wisata” yang berbasis budaya. Tapi, sejauh ini yang dikenal oleh turis asing hanya itu-itu saja. Hanya di Bali. Hanya di Toraja. Dan hanya di Jogja. Di daerah-daerah lain, sangat kurang dikenali.
Jadi, wisata Sedudo jika diibaratkan produk, bahan bakunya sebetulnya amazing dan impressif. Kesalahan yang terjadi selama ini: kurang inovatif mengemasnya. Dan kurang taktis cara mempromosikannya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



