Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika mengunjungi RS HVA Senin lalu (10/10), saya terkesan dengan beberapa bagian dari bangunannya yang masih tampak asli. Ada angka 1908 di bagian atap rumah sakit, dengan model angka yang sangat khas. Ini menandai tahun didirikannya rumah sakit tersebut.
Ciri visual pada bangunan RS HVA yang paling menonjol, dan hingga kini masih dipertahankan, adalah fasade (sisi luar sebuah bangunan) yang memiliki pola simetri. Di samping itu, penggunaan elemen-elemen bangunan dengan ukuran besar, dan ornamen-ornamennya yang khas, yang merupakan ciri dari bangunan Belanda tempo dulu.
Tegel lantai di ruang lobi, hingga ke sebagian kamar dari 170 kamar yang ada, masih asli dari sejak awal rumah sakit itu dibangun. Berarti umur tegel lantai itu 114 tahun. Tegel-tegel lantai itu masih sangat terawat. Bersih. Mengkilap. Begitu pula dengan daun jendela serta pintu-pintu kamar di sebagian ruang rawat inap. Juga masih asli dari sejak awal rumah sakit itu dibangun. Sungguh, benar-benar eksotik dan mengesankan.
Direktur atau Kepala RS HVA, dr Yetty Nusaria NI, MMRS menceritakan, hingga kini masih saja ada orang dari Belanda yang datang ke RS HVA, hanya untuk melihat tempat atau ruangan, di mana dulu dia dilahirkan. “Mereka mengatakan dilahirkan di HVA, ketika orang tuanya dulu bertugas dan tinggal di Pare,” tutur dr Yetty. Jadi, datang ke Pare, ke RS HVA, hanya ingin bernostalgia karena pernah dilahirkan di tempat itu.
Dokter Yetty juga menceritakan, hingga kini selalu saja ada pasangan yang minta izin untuk berfoto pre-wedding di beberapa sudut di RS HVA yang memang kental dengan nuansa vintage dan heritage.
Ini sebetulnya adalah potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi wisata heritage. Tinggal dilengkapi dengan sejumlah narasi tentang sejarah RS HVA, agar bisa lebih dipahami oleh para pengunjung. Akan lebih baik jika dilengkapi dengan foto-foto tempo dulu terkait dengan wajah dan bangunan RS HVA. Kata dr Yetty, sebagian foto-foto bersejarah itu hingga kini masih tersimpan dengan sangat rapi.
Keberadaan RS HVA di Pare, juga menjadi saksi sejarah tentang eksistensi kawasan Pare yang sejak era penjajahan Hindia Belanda, sudah begitu diperhitungkan. HVA yang berdiri di atas lahan seluas 25.111 meter persegi itu dibangun oleh perusahaan perdagangan swasta di bidang perkebunan milik Belanda bernama NV Handels Vereeniging Amsterdam. Ini yang lantas dijadikan nama rumah sakit hingga kini. Perusahaan tersebut kala itu memfokuskan usaha bisnisnya pada industri gula, molase dalam bentuk alkohol yang digunakan untuk rumah sakit, spiritus, dan tembakau.
Kediri di masa itu sudah menjadi kota strategis, karena menjadi pusat pertanian, perkebunan dan industri. Perusahaan HVA saat itu memiliki beberapa perusahaan pabrik gula (PG) yang berada di Kediri, yaitu PG Meritjan dan PG Pesantren.
Jadi, sebetulnya Kediri sejak dulu “cetak birunya” adalah kawasan yang menjadi pusat pertanian, perkebunan dan industri. Hingga kini, jejak-jejak dari “cetak biru” masa lalu itu masih ada. Sebetulnya, tinggal dikembangkan, ditingkatkan, atau dimodifikasi lebih lanjut, disesuaikan dengan era masa kini.
Kawasan Pare pun kini semakin menggeliat. Bisa dijadikan sebagai destinasi wisata dengan beberapa keunikan. Selain sebagai kawasan heritage, dengan RS HVA sebagai ikonnya, juga bisa dijadikan sebagai pusat pendidikan bahasa Inggris, dengan kampung Inggris sebagai ikonnya.
Dua ikon itu jika mampu mempermaknya, jika mampu mengemasnya, maka akan menjadi daya tariknya Pare. Sayang, kawasan Pare masih terkesan "apa adanya". Belum terlihat signifikan upaya pembangunan dari para pembuat kebijakan yang tujuannya mempercantik, memperindah kawasan Pare sehingga menjadi kawasan yang lebih menyenangkan dan lebih mengesankan.
Mungkin bisa dimulai dari bikin event yang mengangkat "local genius" dari kawasan Pare. Apakah itu peninggalan bersejarah, makanan khas, atau pun budaya.
Misalnya, bikin acara Pekan Seni dan Budaya Pare. Atau bikin tagline: Pare Van Java, dimirip-miripkan dengan yang ada di Bandung: Paris Van Java.
Intinya, kawasan Pare butuh sentuhan inovasi dan kreativitas. Bagaimana menurut Anda?
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



