25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Dua Minggu Jadi Teman, Pergi Bawa Kabur Handphone

- Advertisement -

Sedih, bingung, dan malu. Tiga perasaan itu dirasakan Boscu saat bangun tidur. Pemuda asal Sukomoro ini kaget saat mengetahui handphone kesayangannya lenyap. Mau lapor ke perangkat desa atau polisi, Boscu malu dan tidak berani. Karena dia mengakui jika apa yang dilakukan juga tidak benar. Boscu memberi memberi tumpangan tidur pria yang identitasnya tidak jelas selama dua minggu. Padahal, aturannya, tamu yang menginap 1×24 jam wajib lapor ke RT/RW. Ini sudah dua minggu, tinggal di rumah Boscu, tetapi dibiarkan. “Saya akui salah menerima tamu dan mengizinkannya menginap dua minggu,” ungkap Boscu.

Awalnya, Boscu sama sekali tidak menduga jika pria asal Magetan itu adalah orang jahat. Karena sebelumnya, mereka berkenalan lewat Facebook (FB). Setelah berteman dan saling curhat, pria itu mendatangi Boscu. Mereka menjadi akrab. Karena tidak memiliki tempat tinggal di Nganjuk, Boscu menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Hitung-hitung untuk temannya ngobrol saat malam hari. Semalam, dua malam, tidak ada masalah. Semua berjalan baik-baik saja. Teman Boscu juga membantunya mengerjakan plat nomor di kiosnya.

Baca Juga :  Salah Sasaran, Tetangga Jadi Bulan-bulanan

Petaka muncul saat tepat dua minggu kemudian. Saat bangun pagi, Boscu tidak menemukan pria tersebut. Awalnya, Boscu menduga teman barunya itu sedang mandi atau jalan-jalan. Sehingga, Boscu sama sekali tidak curiga. Saat dia mencari handphone kesayangan di meja dan tidak menemukan, Boscu mulai khawatir. Apalagi, semua baju dan tas milik temannya juga tidak ada. Dia mulai berpikir sang teman itu pergi sambil membawa kabur handphonenya. Biyuh-Biyuh. Teman kok begitu?.

Seketika Boscu mulai panik. Setelah beberapa jam menunggu dan temannya tak kunjung datang, Boscu baru sadar. Dia adalah pencuri yang berkedok menjadi seorang teman. Modusnya adalah mengajak berteman, menumpang tidur, kemudian membawa kabur barang berharga milik korbannya. Akun FB sang teman itu pun sudah ditutup atau dihapus.

Baca Juga :  Jembatan Janeng di Desa Mlorah, Rejoso yang Jadi Spot Swafoto Dadakan

Merasa menjadi korban pencurian, Boscu tidak berani melapor ke polisi atau perangkat desa. Dia menganggap apa yang menimpanya adalah kesalahannya sendiri. Karena dia tidak mematuhi aturan yang ada di desa. Yaitu, melaporkan tamu yang tinggal 1×24 jam. Apalagi, dia juga tidak mengetahui identitas sang teman yang sebenarnya. Kartu tanda penduduk (KTP) pria asal Magetan itu juga  tak pernah dilihatnya. “Iya ini murni kesalahan saya,” ujarnya pasrah.

- Advertisement -

 






Reporter: Karen Wibi
- Advertisement -

Sedih, bingung, dan malu. Tiga perasaan itu dirasakan Boscu saat bangun tidur. Pemuda asal Sukomoro ini kaget saat mengetahui handphone kesayangannya lenyap. Mau lapor ke perangkat desa atau polisi, Boscu malu dan tidak berani. Karena dia mengakui jika apa yang dilakukan juga tidak benar. Boscu memberi memberi tumpangan tidur pria yang identitasnya tidak jelas selama dua minggu. Padahal, aturannya, tamu yang menginap 1×24 jam wajib lapor ke RT/RW. Ini sudah dua minggu, tinggal di rumah Boscu, tetapi dibiarkan. “Saya akui salah menerima tamu dan mengizinkannya menginap dua minggu,” ungkap Boscu.

Awalnya, Boscu sama sekali tidak menduga jika pria asal Magetan itu adalah orang jahat. Karena sebelumnya, mereka berkenalan lewat Facebook (FB). Setelah berteman dan saling curhat, pria itu mendatangi Boscu. Mereka menjadi akrab. Karena tidak memiliki tempat tinggal di Nganjuk, Boscu menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Hitung-hitung untuk temannya ngobrol saat malam hari. Semalam, dua malam, tidak ada masalah. Semua berjalan baik-baik saja. Teman Boscu juga membantunya mengerjakan plat nomor di kiosnya.

Baca Juga :  Bakar Sampah, Sapi Boscu Terpanggang

Petaka muncul saat tepat dua minggu kemudian. Saat bangun pagi, Boscu tidak menemukan pria tersebut. Awalnya, Boscu menduga teman barunya itu sedang mandi atau jalan-jalan. Sehingga, Boscu sama sekali tidak curiga. Saat dia mencari handphone kesayangan di meja dan tidak menemukan, Boscu mulai khawatir. Apalagi, semua baju dan tas milik temannya juga tidak ada. Dia mulai berpikir sang teman itu pergi sambil membawa kabur handphonenya. Biyuh-Biyuh. Teman kok begitu?.

Seketika Boscu mulai panik. Setelah beberapa jam menunggu dan temannya tak kunjung datang, Boscu baru sadar. Dia adalah pencuri yang berkedok menjadi seorang teman. Modusnya adalah mengajak berteman, menumpang tidur, kemudian membawa kabur barang berharga milik korbannya. Akun FB sang teman itu pun sudah ditutup atau dihapus.

Baca Juga :  Boscu Teler Makan Mi Ayam Dobel L

Merasa menjadi korban pencurian, Boscu tidak berani melapor ke polisi atau perangkat desa. Dia menganggap apa yang menimpanya adalah kesalahannya sendiri. Karena dia tidak mematuhi aturan yang ada di desa. Yaitu, melaporkan tamu yang tinggal 1×24 jam. Apalagi, dia juga tidak mengetahui identitas sang teman yang sebenarnya. Kartu tanda penduduk (KTP) pria asal Magetan itu juga  tak pernah dilihatnya. “Iya ini murni kesalahan saya,” ujarnya pasrah.

 






Reporter: Karen Wibi

Artikel Terkait

Bakar Sampah, Sapi Boscu Terpanggang

Salah Sasaran, Tetangga Jadi Bulan-bulanan

Scaffolding Hilang, Boscu Pusing

Tawuran, Lapor Polisi, Ngaku Jadi Korban

Most Read


Artikel Terbaru

/