29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Mercon Meledak, Boscu Menangis Terisak-isak

- Advertisement -

Boscu sedang leyeh-leyeh di rumah malam itu. Seperti biasa, setiap malam, dia selalu menonton televisi di rumah. Secangkir kopi pahit menemaninya. Rasanya hidup Boscu asal Patianrowo ini ayem tentram. Tidak mikir utang. Tak juga bingung soal politik. Setiap hari, yang dipikirkan hanya ke sawah. Menanam padi, merawat, dan panen. Kemudian, ngarit untuk  makan sapi di kandang. Karena itu, setiap pulang dari sawah, Boscu selalu membawa rumput segar. Setelah memberi makan sapi dan minum, dia membuat perapian. Tujuannya, sapi bisa tidur nyenyak. Tidak digigit nyamuk.

Ketenangan Boscu itu sama sekali tidak terusik. Padahal, bunyi “Duarrr.. Duarrr… Duarrrr…” beberapa kali terdengar. Boscu tak terpengaruh. Karena dia yakin itu hanya bunyi petasan dari anak-anak. “Hanya lombok impling. Aman,” ujar Boscu dalam hati.

Baca Juga :  Boscu Teler Makan Mi Ayam Dobel L

Kembali Boscu nyeruput kopi pahitnya. Dia melanjutkan nonton televisi. Tiba-tiba, Boscu kaget. Karena ada teriakan. “Kebakaran… Kebakaran… Kebakaran…,” teriak tetangga sambil menggedor pintu rumah Boscu.

Bingung tentu saja. Karena Boscu tidak sedang membakar apa-apa. Kompor juga tidak menyala. Namun, kenapa tetangga berteriak kebakaran. Rumah siapa yang terbakar? Seketika, Boscu beranjak dari tempat duduknya. Dia membuka pintu. Saat itulah, warga sudah ramai menuju rumah Boscu. Alangkah terkejutnya Boscu, saat melihat si jago merah berkobar. Kandang sapinya terbakar.

Dengan buru-buru Boscu dan tetangga langsung menuju kandang sapi di belakang rumah. Keselamatan sapi yang diutamakan. Sapi dibawa keluar kandang. Api yang berkobar membuat sapi juga ketakutan. Setelah sapi berhasil diselamatkan, Boscu dan tetangga berusaha memadamkan api dengan alat seadanya.

Baca Juga :  Boscu Kabur setelah Hajar Mbak Pur 
- Advertisement -

Api terus berkobar. Boscu dan tetangga semakin panik. Jika tidak dipadamkan, rumah Boscu akan disantap si jago merah. Untuk menghentikan amukan si jago merah, warga menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk.

Beruntung, petugas datang cepat. Belum sempat api menjalar ke rumah, petugas segera menyemprotnya. Api akhirnya bisa dipadamkan. Namun, kandangnya Boscu tidak selamat. Jadi arang. Boscu menangis terisak-isak. Kesedihan dialaminya. Karena besok pagi, dia harus membangun lagi kandang. Tentu, uang yang dikeluarkan juga tidak sedikit.

Saat diselidiki ternyata api berasal dari ledakan petasan. Hal itu membuat Boscu tambah sedih. Karena dia tidak mungkin minta ganti rugi ke anak-anak. “Tidak tega,” ujarnya.






Reporter: Karen Wibi
- Advertisement -

Boscu sedang leyeh-leyeh di rumah malam itu. Seperti biasa, setiap malam, dia selalu menonton televisi di rumah. Secangkir kopi pahit menemaninya. Rasanya hidup Boscu asal Patianrowo ini ayem tentram. Tidak mikir utang. Tak juga bingung soal politik. Setiap hari, yang dipikirkan hanya ke sawah. Menanam padi, merawat, dan panen. Kemudian, ngarit untuk  makan sapi di kandang. Karena itu, setiap pulang dari sawah, Boscu selalu membawa rumput segar. Setelah memberi makan sapi dan minum, dia membuat perapian. Tujuannya, sapi bisa tidur nyenyak. Tidak digigit nyamuk.

Ketenangan Boscu itu sama sekali tidak terusik. Padahal, bunyi “Duarrr.. Duarrr… Duarrrr…” beberapa kali terdengar. Boscu tak terpengaruh. Karena dia yakin itu hanya bunyi petasan dari anak-anak. “Hanya lombok impling. Aman,” ujar Boscu dalam hati.

Baca Juga :  Boscu Teler Makan Mi Ayam Dobel L

Kembali Boscu nyeruput kopi pahitnya. Dia melanjutkan nonton televisi. Tiba-tiba, Boscu kaget. Karena ada teriakan. “Kebakaran… Kebakaran… Kebakaran…,” teriak tetangga sambil menggedor pintu rumah Boscu.

Bingung tentu saja. Karena Boscu tidak sedang membakar apa-apa. Kompor juga tidak menyala. Namun, kenapa tetangga berteriak kebakaran. Rumah siapa yang terbakar? Seketika, Boscu beranjak dari tempat duduknya. Dia membuka pintu. Saat itulah, warga sudah ramai menuju rumah Boscu. Alangkah terkejutnya Boscu, saat melihat si jago merah berkobar. Kandang sapinya terbakar.

Dengan buru-buru Boscu dan tetangga langsung menuju kandang sapi di belakang rumah. Keselamatan sapi yang diutamakan. Sapi dibawa keluar kandang. Api yang berkobar membuat sapi juga ketakutan. Setelah sapi berhasil diselamatkan, Boscu dan tetangga berusaha memadamkan api dengan alat seadanya.

Baca Juga :  Rela Babak Belur demi Ayam

Api terus berkobar. Boscu dan tetangga semakin panik. Jika tidak dipadamkan, rumah Boscu akan disantap si jago merah. Untuk menghentikan amukan si jago merah, warga menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk.

Beruntung, petugas datang cepat. Belum sempat api menjalar ke rumah, petugas segera menyemprotnya. Api akhirnya bisa dipadamkan. Namun, kandangnya Boscu tidak selamat. Jadi arang. Boscu menangis terisak-isak. Kesedihan dialaminya. Karena besok pagi, dia harus membangun lagi kandang. Tentu, uang yang dikeluarkan juga tidak sedikit.

Saat diselidiki ternyata api berasal dari ledakan petasan. Hal itu membuat Boscu tambah sedih. Karena dia tidak mungkin minta ganti rugi ke anak-anak. “Tidak tega,” ujarnya.






Reporter: Karen Wibi

Artikel Terkait

Mbak Pur Nyanyi, Boscu Emosi

Nemu Uang, Mbak Sri Bingung

Pintu Digedor, Mimpi Pasutri Sultan Ambyar

Cincin Tak Bisa Lepas, Anak Nangis

Most Read


Artikel Terbaru

/