Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (16): Pertahankan Budaya Jawa Kuno lewat Ruwatan Tanah

rekian • Rabu, 18 Juni 2025 | 20:11 WIB

TRADISI: Ritual tola bala di Kediri.
TRADISI: Ritual tola bala di Kediri.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Masyarakat masih memegang erat budaya leluhurnya. Salah satunya adalah melakukan ruwatan tanah setiap kali membangun rumah. Hingga kini masyarakat mengenal istilah ada tanah yang layak dan tidak layak untuk menjadi tempat bangunan rumah.

Menurut Wikan Sasmita, dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, setiap arsitek yang ingin membangun rumah pasti akan mempertimbangkan kondisi tanahnya. Tujuannya untuk merancang pondasi bangunan agar nanti bisa stabil dan aman. Kondisi tanah tersebut berkaitan dengan jenis tanah, dan kualitas tanah. 

Nah, pandangan masyarakat Jawa Kuno memang harus tahu tanah yang layak dan tidak layak untuk jadi bangunan rumah.  Sedikitnya ada 14 nama tanah yang layak. Yakni tanah manik mulya, tanah indraprasta, tanah sungsang buwana atau kawula katubing kala, tanah bumi langupulawa, tanah darmalungit, dan tanah sri nugraha.

Lalu tanah wisnumanitis, tanah endragana, tanah srimangepel, tanah arjuna, tanah tigawarna, tanah danarasa, tanah suniyalayu, dan tanah lamurwangke. Adapun nama tanah yang tidak layak untuk dibangun rumah menurut orang Jawa Kuno adalah tanah sri sadana, tanah gelagah, tanah sekarsinom, tanah kalawisa, tanah siwahboja, tanah bramapendem,tanah singarpnjalin, tanah asungelak, dan terakhir adalah tanah singameta. 

Agar terhindar dari bala, masyarakat Jawa Kuno biasanya menggelar ruwatan tanah. “Ini jadi budaya, kini dikenal sebagai ruwatan bumi,” ungkap Wikan. Tujuan dari ruwatan itu adalah untuk membersihkan dan menenangkan tanah sebelum pembangunan. 

Biasanya upacara itu bertujuan untuk menghormati kekuatan spiritual di tanah. Dan mencegah kemungkinan masalah atau malapetaka selama proses pembangunan.  “Biasanya upacara adat ritual pembuka, ngalelemah,” lanjutnya. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (13): Era Kolonial Ciptakan Kota Baru  

Upacara ngalelemah itu dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan meratakan tanah. Maksudnya adalah untuk meminta berkah kepada Yang Maha Kuasa. Serta memohon izin kepada para karuhun (leluhur) agar pelaksanaan pembangunan rumah berjalan dengan lancar.

Tempat yang akan dibangun rumah harus dibersihkan. Kemudian pada sore menjelang maghrib pukul 18.00 di tengah halaman diletakkan senthir seperti lampu teplok.

Di masyarakat Jawa Kuno semua orang yang berhubungan atau bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pembangunan rumah harus lek-lekan. Yakni tidak tidur semalam suntuk sejak dimulai upacara senthir pukul 18.00 sampai pagi. Dan harus makan tumpeng yang telah disiapkan.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : rekian
#kediri #jawa kuno #lintas negara #indonesia-malaysia #warisan #ruwatan #simposium internasional #budaya jawa