JP Radar Kediri - Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, terkenal dengan lanskap pegunungan yang memanjakan mata. Di balik itu, desa ini juga menyimpan jejak sejarah yang menarik perhatian. Bahkan, menyangkut sosok pahlawan nasional Tan Malaka.
Keberadaan makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Tan Malaka membuat Desa Selopanggung kerap didatangi pegiat sejarah. Tidak hanya dari lokal Kediri, tapi juga luar daerah. Sejumlah jurnalis dari Jakarta, sejarawan, hingga penghobi sejarah kerap datang untuk menelusuri jejak tokoh pergerakan tersebut.
Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priatno Triwarso mengatakan, memang ada dua versi yang berkembang soal lokasi akhir Tan Malaka. Salah satunya merupakan versi sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang menyebut Tan Malaka ditangkap di wilayah pegunungan Wilis di Kecamatan Semen. Sebelum kemudian dieksekusi dan dimakamkan di Selopanggung.
Baca Juga: Mengenal Candi Surowono di Kediri, Situs Peninggalan Majapahit yang Reliefnya Memiliki Banyak Makna
“Ada dua versi, yang pertama yang dikenal sampai saat ini dimakamkan di Selopanggung. Namun ada juga versi lain kalau beliau meninggal di sekitar Mojo,” ujarnya.
Eko menjelaskan, versi itu berkembang berdasarkan kesaksian warga Desa Petok, Kecamatan Mojo, yang pernah melihat ada anggota tentara membawa seseorang dengan kondisi tangan terikat dan mata tertutup. Orang tersebut kemudian dibawa ke sebuah rumah warga dan warga diminta meninggalkan rumah.
Keesokan harinya, anggota tentara tersebut sudah tidak berada di lokasi. Termasuk orang yang dibawa bersama mereka. Warga tersebut kemudian menemukan bekas darah pada sebuah pohon kelapa yang berlubang. Saat pergi ke sungai, dia lalu melihat jenazah yang diduga orang yang sebelumnya dibawa tantara tersebut. Jenazah itu disebut mengalami luka pada bagian kepala.
Di sisi lain, makam yang berada di Desa Selopanggung tetap menjadi bagian dari jejak sejarah Tan Malaka di Kediri. Eko mengatakan, pihaknya juga pernah mendampingi proses penggalian makam untuk keperluan pemeriksaan DNA. Namun, hingga kini dirinya mengaku belum mengetahui secara pasti hasil pemeriksaan tersebut.
“Ketika dilakukan tes DNA sampai sekarang kan enggak ngerti benar apa enggak. Belum muncul itu beritanya, apa benar tes DNA-nya identik atau enggak,” beber Eko.
Terlepas dari perbedaan versi tersebut, keberadaan makam Tan Malaka di Desa Selopanggung telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah. Hingga kini, menurut Eko lokasi tersebut masih cukup sering dikunjungi pegiat sejarah. Mereka datang untuk mengenang sekaligus mempelajari perjalanan hidup Tan Malaka.
“Banyak para pejuang-pejuang demokrasi. Bahkan sering ada jurnalis dari ibu kota yang datang, selain itu juga para sejarawan dan penghobi sejarah yang ramai datang ke sana,” ungkapnya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri