
JP Radar Kediri - Bagi warga Kediri yang ingin mencari suasana alam di akhir pekan, Coban Rondo di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, bisa menjadi salah satu pilihan.
Destinasi ini menawarkan air terjun setinggi 84 meter yang berada di kawasan sejuk lereng Gunung Kawi.
Coban Rondo berada di Dusun Krajan, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari Kota Batu dan 20 kilometer dari Kota Malang.
Dari Kediri, perjalanan menuju kawasan wisata ini dapat ditempuh melalui jalur menuju Pujon dan Batu.
Selain air terjun, Coban Rondo juga memiliki cerita legenda yang sudah dikenal masyarakat. Nama “Rondo” dalam bahasa Jawa berarti janda. Nama tersebut dikaitkan dengan kisah Dewi Anjarwati yang kehilangan suaminya setelah terlibat duel dalam perjalanan mereka.
Dalam cerita yang berkembang, Dewi Anjarwati merupakan perempuan yang baru menikah dengan Raden Baron Kusuma. Keduanya kemudian melakukan perjalanan menuju Blitar untuk menemui orang tua sang suami.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang pangeran bernama Klonosewandono. Sang pangeran tertarik kepada Dewi Anjarwati dan menantang Raden Baron Kusuma untuk berduel. Pertarungan tersebut berakhir dengan meninggalnya kedua pria tersebut.
Dewi Anjarwati kemudian tinggal di kawasan air terjun tersebut. Dari kisah inilah nama Coban Rondo kemudian dikenal hingga sekarang. Legenda tersebut juga melahirkan mitos yang masih sering diperbincangkan, salah satunya tentang pasangan yang belum menikah dan datang bersama ke kawasan air terjun.
Coban Rondo memiliki ketinggian sekitar 84 meter. Sumber airnya berasal dari Mata Air Cemoro Dudo di lereng Gunung Kawi.
Debit airnya disebut dapat mencapai 90 hingga 150 liter per detik, tergantung kondisi musim.Pengunjung juga tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk melihat air terjun. Dari area parkir, jaraknya sekitar 50 meter dengan jalur yang sudah tersedia menuju lokasi air terjun.
Baca Juga: Konvoi Menuju Perbatasan Kediri-Malang, Puluhan Pelajar Diduga Suporter Persik Diamankan Polisi
Suasana di kawasan Coban Rondo juga terasa sejuk. Suhu rata-rata berada di kisaran 18 hingga 22 derajat Celsius. Di sekitar jalur menuju air terjun, pengunjung juga perlu memperhatikan keberadaan monyet liar yang cukup aktif.
Coban Rondo tidak hanya menawarkan pemandangan air terjun. Kawasan wisata ini juga memiliki sejumlah wahana yang bisa dinikmati pengunjung.Salah satu yang cukup dikenal adalah Taman Labirin.
Wahana ini memiliki ukuran sekitar 60 x 40 meter dengan tanaman hidup yang membentuk lorong-lorong. Di bagian tengah terdapat kolam air mancur yang menjadi titik akhir perjalanan di dalam labirin.Selain itu, terdapat wahana Fun Tubing yang mengajak pengunjung menyusuri aliran sungai menggunakan ban pelampung dengan pendampingan pemandu.
Sejumlah wahana lain juga tersedia, seperti Flying Fox, Paintball, Segway, ATV Fun, sepeda gunung, hingga Shooting Target. Untuk pengunjung yang datang bersama anak-anak, tersedia pula wahana memberi makan rusa dan pony riding.
Berdasarkan informasi yang dimuat Suara Malang pada Mei 2026, tiket masuk Coban Rondo dibanderol Rp30 ribu per orang untuk hari biasa dan Rp35 ribu pada akhir pekan atau hari libur.
Tiket tersebut mencakup akses ke area air terjun dan taman wisata, sedangkan wahana dikenakan biaya tambahan.Fasilitas di kawasan wisata juga cukup beragam. Pengunjung dapat menemukan camping ground, area outbound, jogging track, lintasan sepeda gunung, kolam pemancingan, penginapan, kafe, toilet umum, hingga musala.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana lebih tenang, datang pada pagi hari bisa menjadi pilihan. Kawasan sekitar air terjun biasanya masih diselimuti udara sejuk dan kabut tipis. Pada akhir pekan, pengunjung disarankan datang lebih awal karena kawasan wisata dapat lebih ramai saat siang hari.Dengan perpaduan air terjun setinggi 84 meter, suasana alam pegunungan, beragam wahana, serta legenda Dewi Anjarwati, Coban Rondo menjadi salah satu destinasi yang dapat dimasukkan dalam daftar perjalanan dari Kediri menuju Malang.
kanzul fikri ahmadi - UIN SYEKH WASIL KEDIRI
Editor : Shinta Nurma Ababil