Sebagian telah berjualan selama puluhan tahun dan diteruskan dari generasi ke generasi. Keberadaannya tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan kuliner Kota Kediri.
Mulai dari soto, pecel tumpang, hingga sate ayam, beberapa tempat berikut bisa menjadi pilihan bagi yang ingin menikmati Kediri lewat wisata rasa.
Baca Juga: Jajanan Pasar di Kediri, dari Manis sampai Gurih
Soto Podjok Bertahan Sejak 1926
Berada di kawasan Jalan Dhoho, Soto Podjok menjadi salah satu kuliner lawas yang masih dikenal di Kota Kediri.
Tempat makan ini telah hadir sejak 1926. Soto yang disajikan memiliki kuah bening tanpa santan dengan ayam sebagai salah satu bahan utamanya.
Lokasinya di Jalan Dhoho No. 146 membuat Soto Podjok bisa menjadi salah satu tempat singgah ketika berkeliling pusat Kota Kediri.
Perjalanannya yang mendekati satu abad membuat Soto Podjok tidak hanya menarik dari sisi rasa, tetapi juga dari kemampuannya bertahan mengikuti perubahan zaman.
Depot Wilis Pertahankan Nuansa Klasik
Jejak kuliner lama juga dapat ditemukan di Depot Wilis yang berada di Jalan Panglima Sudirman No. 41, Ringin Anom.
Rumah makan ini telah berdiri sejak 1943 dan masih mempertahankan suasana klasik yang menjadi salah satu cirinya.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Khas di Lereng Gunung Wilis Kediri
Beragam masakan Indonesia tersedia, mulai dari rawon, nasi pecel, soto, sop buntut, hingga menu rumahan lainnya.
Nuansa lawas yang masih terasa menjadi bagian dari pengalaman makan di Depot Wilis, terutama bagi pengunjung yang ingin mencoba kuliner sekaligus merasakan suasana rumah makan tempo dulu.
Soto Bok Ijo Tumbuh Bersama Kawasan Tamanan
Soto Bok Ijo memiliki hubungan yang kuat dengan kawasan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Nama Bok Ijo berasal dari lokasi para penjual soto pada masa lalu yang berada di sekitar jembatan kecil berwarna hijau. Dari tempat tersebut, sebutan Bok Ijo kemudian melekat pada kuliner soto di kawasan Tamanan.
Setelah bertahan selama puluhan tahun, Soto Bok Ijo masih dikenal sebagai salah satu pilihan kuliner ketika berkunjung ke kawasan tersebut.
Baca Juga: Nasi Goreng Pagi di Kediri, Warung Pak Eko Buka Pukul 06.30 WIB Sejak 1997
Kuah gurih menjadi salah satu karakter sajian ini. Soto juga dapat dinikmati bersama berbagai lauk pendamping sesuai selera.
Keberadaannya hingga sekarang membuat Soto Bok Ijo tidak hanya menjadi tempat mencari makanan, tetapi juga bagian dari perjalanan kuliner kawasan Tamanan.
Pecel Mak Ni Burengan Hadir Sejak 1983
Pecel dan sambal tumpang juga menjadi bagian yang dekat dengan kuliner Kediri.
Salah satu tempat yang telah bertahan selama puluhan tahun adalah Pecel Mak Ni di kawasan Burengan.
Warung yang berada di Jalan Letjen Suprapto Gang 3 No. 22 ini telah berjualan sejak 1983.
Baca Juga: Masuk ke Sendang Jogotowo di Desa Sumberejo Kediri, Pengunjung Harus Lepas Alas Kaki, Kenapa?
Pilihan menunya tidak hanya nasi pecel. Pembeli juga dapat menemukan nasi tumpang, nasi campur, nasi kuning, serta berbagai lauk pendamping.
Kehadiran sambal tumpang membuat tempat ini bisa menjadi salah satu tujuan bagi pengunjung yang ingin menikmati karakter kuliner tradisional Kediri.
Sate Ayam Pak Siboen Dirintis Sejak 1939
Kuliner lawas Kediri tidak hanya berupa soto dan pecel. Ada pula Sate Ayam Ponorogo Pak Siboen yang berada di Jalan Panglima Sudirman No. 134.
Usaha ini telah dirintis sejak 1939 dan masih menjadi salah satu nama yang dikenal dalam kuliner Kota Kediri.
Sate ayam disajikan bersama bumbu kacang, kecap, sambal, serta irisan bawang merah sebagai pelengkap.
Perjalanan panjang usaha tersebut membuat Pak Siboen menjadi salah satu pilihan ketika ingin menikmati kuliner yang telah bertahan lintas generasi.
Baca Juga: Gethuk Pisang Kediri, Jajanan Tradisional dengan Rasa Manis dan Sedikit Asam
Kuliner Lama Tetap Punya Tempat
Bermunculannya tempat makan baru tidak serta-merta membuat kuliner lawas kehilangan tempat.
Soto Podjok, Depot Wilis, Soto Bok Ijo, Pecel Mak Ni, hingga Sate Ayam Pak Siboen menunjukkan bagaimana sebuah tempat makan dapat bertahan selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari perjalanan kuliner kota.
Bagi wisatawan maupun warga Kediri, mengunjungi tempat-tempat tersebut bisa menjadi cara lain untuk menikmati kota.
Bukan hanya mencicipi makanan, tetapi juga mengenal cerita yang ikut tumbuh bersama kuliner yang disajikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Editor : Mahfud