Mengintip Sejarah Candi Tegowangi Kediri yang Menyimpan Jejak Sejarah Majapahit

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:23 WIB
source:jejakpiknik.com
source:jejakpiknik.com

JP RADAR KEDIRI - Candi Tegowangi berada didesa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, merupakan warisan dari kerajaan Majapahit yang didirikan atas perintah  seorang Raja bernama "Bree Matahun," yang wafat pada tahun 1388M. Pada masa itu, kondisi politik sedang tidak stabil didominasi oleh konflik internal, sehingga pembangunan candi Tegowangi terhenti, meninggalkan hanya bagian kaki setinggi 4 meter, sedangkan tubuh dan atapnya belum dikerjakan.

Walaupun belum sepenuhnya dibangun, candi ini memiliki sejumlah keunikan, terutama pada dindingnya yang menampilkan kisah Sundamala tentang transformasi Betari Durga menjadi seorang Dewi.

Candi Tegowangi terlihat seolah olah belum rampung. Di sekitar candi, banyak ditemui pohon Sono, sementara pohon Sonokeling (Dalbergia latifolia), yang dalam bahasa Jawa bermakna "pengiling iling," menandai keberadaan candi Tegowangi. Beragam vegetasi juga tumbuh di sekeliling pelataran candi, termasuk tumbuhan Maja Berenuk (Crescentia Cujete L. ), pohon Mahoni, dan pohon Randu.

Relief yang ada di Candi Tegowangi berfungsi sebagai penunjuk arah yang dibaca menggunakan cara prasawiya, dengan arah berlawanan jarum jam. Selain itu, struktur candi Tegowangi dibangun dengan batu andesit, yaitu jenis batuan beku vulkanik ekstrusif yang memiliki warna abu-abu hingga hitam serta kandungan silika berkisar antara 53-63%. Perbedaan utama antara batu bata Majapahit dan batu bata modern terletak pada ukuran, bahan dasar, dan teknik pembuatan.

Batu bata pada era Majapahit berbentuk persegi panjang yang lebih besar dan dibuat secara tradisional dari tanah liat berkualitas tinggi menggunakan metode khusus, sementara batu bata modern memiliki ukuran standar dengan bentuk lebih persegi panjang dan proses produksinya lebih cepat menggunakan campuran bahan tambahan.

Baca Juga: Mengenal Candi Surowono di Kediri, Situs Peninggalan Majapahit yang Reliefnya Memiliki Banyak Makna

Dimensi dari struktur Candi Tegowangi tergolong lebar (L) 11. 20 M, panjang (P) 15. 25 M, dan tinggi (T) 4. 29 M. Desain candi Tegowangi dapat diamati pada relief di sisi timur struktur tersebut, di mana terdapat relief bermotif candi. Menurut informasi dari narasumber, ini merupakan desain asli candi Tegowangi yang terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan atap candi.

Candi dengan ciri khas Majapahit umumnya terbuat dari batu bata, sementara Candi Tegowangi menggunakan batu bata andesit sebagai bahan karena daerah pembangunan candi dan sekitarnya kaya akan batu andesit, sehingga pemilihan material ini menjadi logis.

Akses menuju candi dapat ditempuh melalui simpang lima Gumul, arahkan kendaraan menuju Pare (JL. Erlangga) dan lanjutkan hingga melewati Monumen Garuda Pancasila, lalu belok kiri sejauh 2,9 km. Candi ini berjarak sekitar 1,5 km dari SDN Tegowangi. Lokasinya cukup strategis dan tidak jauh dari Kampung Inggris. Banyak pengunjung lokal dan dari berbagai daerah, khususnya para pelajar dari Kampung Inggris di Pare, juga siswa dari berbagai sekolah mulai dari tingkat dasar hingga mahasiswa yang sering berkunjung ke sini.

KANZUL FIKRI – UIN SYEKH WASIL KEDIRI

Editor : Shinta Nurma Ababil
candi kediri sejarah kediri kediri Candi Tegowangi candi