
JP RADAR KEDIRI – Sumber Ubalan tidak hanya dikenal sebagai salah satu kawasan wisata air di Kabupaten Kediri. Mata air yang terletak di Dusun Kalasan, Desa Ubalan, Kecamatan Plosoklaten ini juga menyimpan sejarah panjang sejak masa pemerintahan Hindia Belanda serta legenda yang hingga kini masih berkembang di tengah masyarakat.
Dengan aliran airnya yang jernih, Sumber Ubalan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Selain menjadi kawasan pariwisata, air dari sumber tersebut digunakan untuk mengairi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Plosoklaten hingga Kecamatan Gurah.
Air dari Sumber Ubalan juga dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kediri untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.Sumber Ubalan mulai dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1891. Sebelum dibangun, Sumber Ubalan merupakan mata air alami yang berada di tengah hutan dan dibiarkan tumbuh secara alami.
Untuk menemukan sumber tersebut, pemerintah kolonial harus membabat hutan terlebih dahulu. Mata air yang berada di tengah hutan itu memiliki debit yang sangat besar dengan diameter mencapai sekitar dua meter.
Besarnya sumber air tersebut membuat pemerintah kolonial saat itu khawatir aliran air semakin melebar dan berpotensi merendam wilayah Kecamatan Plosoklaten. Karena itu, dilakukan upaya untuk memperkecil ukuran sumber mata air tersebut.Dalam proses pengerjaannya, pemerintah kolonial berkoordinasi dengan masyarakat setempat. Pengerjaan dilakukan dengan mempertimbangkan perhitungan atau hitungan Jawa dalam menentukan waktu pelaksanaannya.
Baca Juga: Ribuan Warga Serbu Sumber Ubalan Kediri, Ini Tarif Masuknya
Setelah hari yang dianggap baik ditentukan, upaya memperkecil sumber mata air mulai dilakukan. Namun, proses tersebut tidak berjalan mudah.Berkali-kali upaya teknis yang dilakukan mengalami kegagalan. Derasnya aliran air dari dalam sumber mampu menjebol bangunan yang dibuat untuk menahan aliran air.
Berdasarkan petunjuk tokoh spiritual setempat, pemerintah kolonial kemudian menggunakan cara yang dipercaya masyarakat sebagai cara-cara Jawa untuk memperkecil sumber tersebut.Mata air kemudian disumpal menggunakan lidi aren, tanaman kedelai, dan kapas. Cara tersebut berhasil memperkecil ukuran mata air.Setelah sumber mengecil, di sekitar mata air kemudian dibangun bendungan dan saluran air untuk mengatur alirannya.Air dari Sumber Ubalan selanjutnya dialirkan ke lahan pertanian dan perkebunan di sekitar kawasan tersebut. Sebagian aliran air juga dimanfaatkan untuk kolam renang.
Bekas kolam renang tua dari masa tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Lokasinya berada di sebelah barat kolam renang yang ada saat ini. Kolam tersebut pada masa lalu digunakan sebagai tempat latihan renang khusus anak-anak Belanda.
Pada 1970-an, debit air yang keluar dari Sumber Ubalan masih tergolong besar dan dikhawatirkan akan semakin membesar. Beberapa titik sumber kemudian ditutup untuk kembali memperkecil aliran air.Berbeda dengan upaya sebelumnya, kali ini beberapa titik sumber cukup ditutup menggunakan batu-batu besar.
Sejak saat itu, hanya tersisa tiga titik mata air di kawasan Sumber Ubalan. Titik mata air terbesar memiliki diameter sekitar 30 sentimeter. Meski ukurannya telah mengecil, debit air dari sumber tersebut masih tergolong besar.Selain menyimpan sejarah pembangunan dan pemanfaatan sumber air, Sumber Ubalan juga memiliki cerita mitos yang masih berkembang di sebagian masyarakat.
Mitos tersebut berkaitan dengan legenda Joko Gendam dan Putri Asmaradana. Dalam cerita masyarakat, keduanya dikisahkan melarikan diri dari kejaran Adipati Panjer dari Kerajaan Kediri sebelum akhirnya terjun dan menghilang di Sumber Ubalan.Legenda tersebut bermula ketika Adipati Panjer memiliki ayam jago aduan yang tidak terkalahkan. Bersama Asmaradana, istrinya, Adipati Panjer selalu memenangkan pertarungan ayam jago.Hingga suatu saat, ayam jago milik Adipati Panjer harus berhadapan dengan ayam milik Joko Gendam. Dalam pertarungan tersebut, ayam milik sang Adipati mengalami kesulitan untuk mengalahkan ayam jago milik Joko Gendam.
Di tengah pertarungan sengit itu, Joko Gendam dan Asmaradana kemudian saling beradu pandang. Dari pertemuan tersebut, muncul rasa cinta di antara keduanya.Bersamaan dengan kemenangan ayam jago milik Joko Gendam atas ayam milik Adipati Panjer, Joko Gendam kemudian mengajak Asmaradana untuk melarikan diri.Adipati Panjer tidak menerima tindakan tersebut. Ia kemudian mengejar Joko Gendam dan Asmaradana bersama pasukannya.
Pengejaran tersebut akhirnya sampai di kawasan Sumber Ubalan. Karena tidak ingin ditangkap dan telah berjanji untuk bersama sehidup semati, Joko Gendam dan Asmaradana memutuskan untuk terjun ke dalam sumber dan kemudian menghilang.
Dari cerita tentang janji cinta sehidup semati tersebut, berkembang mitos mengenai pasangan yang datang ke Sumber Ubalan.Konon, pasangan muda-mudi yang datang ke tempat tersebut akan berjodoh dan akhirnya menikah. Mitos tersebut berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari cerita yang melekat pada Sumber Ubalan.
Keberadaan Sumber Ubalan hingga kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air dan kawasan wisata. Sejarah pembangunan sejak masa Hindia Belanda serta legenda yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian dari cerita yang melekat pada sumber mata air tersebut.Bagi masyarakat sekitar, Sumber Ubalan bukan hanya tempat dengan aliran air yang jernih. Lebih dari itu, sumber tersebut menyimpan sejarah, cerita turun-temurun, serta mitos yang masih dikenal hingga saat ini.
Kanzul fikri ahmadi - UIN Syekh wasil
Editor : Shinta Nurma Ababil