Goa Maria Pohsarang Kediri, Destinasi Wisata Kediri yang Dikunjungi Lintas Keyakinan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:25 WIB
source:paltv.disway.id
source:paltv.disway.id

JP RADAR KEDIRI – Goa Maria Pohsarang yang terletak di Desa Pohsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu kawasan religi yang menarik perhatian pengunjung. Meski dikenal sebagai tempat ibadah umat Katolik, kawasan ini tidak hanya didatangi umat yang hendak beribadah. Pengunjung dari berbagai latar belakang keyakinan juga datang untuk menikmati suasana, melihat arsitektur, maupun mengenal lebih dekat kawasan religi yang menjadi salah satu bagian dari wisata di Kediri.

Goa Maria Pohsarang berada di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut membuat kawasan ini memiliki suasana yang sejuk dengan suhu sekitar 21–25 derajat Celsius. Lokasinya berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Kediri ke arah barat daya.

Kawasan Pohsarang juga memiliki sejumlah titik yang menjadi daya tarik pengunjung. Selain Goa Maria Lourdes, terdapat Gereja Pohsarang, Jalan Salib Bukit Golgota, Taman Kana, hingga sejumlah fasilitas pendukung bagi peziarah dan pengunjung.

Keberadaan pengunjung dari berbagai latar belakang menjadi salah satu pemandangan yang menarik di kawasan tersebut. Di tengah aktivitas keagamaan umat Katolik, pengunjung lain tetap dapat menikmati suasana kawasan dengan tertib dan saling menghormati.

Daya tarik Goa Maria Pohsarang tidak hanya terletak pada fungsi religiusnya. Kawasan tersebut juga memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang kuat. Gereja Pohsarang didirikan pada 1936 atas prakarsa Romo Jan Wolters CM dan dirancang oleh arsitek Henri Maclaine Pont. Bangunannya dikenal karena memadukan unsur arsitektur Jawa dengan bentuk dan simbolisme gereja Katolik.

Perpaduan tersebut menjadi salah satu keunikan utama Pohsarang. Unsur budaya Jawa, termasuk pengaruh arsitektur yang berkaitan dengan Majapahit, dipadukan dengan kebutuhan bangunan gereja. Karena itu, kawasan Pohsarang tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah arsitektur di Kediri.

Baca Juga: Pohsarang dan Besuki Jadi Destinasi Wisata Favorit

Sementara itu, Goa Maria yang berada di kawasan tersebut memiliki sejarah tersendiri. Awalnya terdapat miniatur Goa Maria Lourdes di kompleks Gereja Pohsarang. Karena ukurannya dianggap terlalu kecil, pembangunan Goa Maria Lourdes yang baru dimulai pada 11 Oktober 1998 sebagai replika Goa Maria Lourdes di Prancis.

Patung Bunda Maria menjadi salah satu bagian yang mencolok dari kawasan tersebut. Keberadaannya menjadi tujuan utama bagi umat Katolik yang datang untuk berziarah dan berdoa. Namun, kawasan ini juga menarik perhatian masyarakat umum yang ingin melihat langsung keunikan tempat tersebut.

Aktivitas keagamaan di Goa Maria Pohsarang juga berlangsung secara rutin. Selain Misa Kudus, terdapat tradisi khusus seperti Tirakatan Jumat Legi yang diisi dengan Doa Rosario dan Adorasi. Kegiatan keagamaan tersebut pada waktu tertentu dapat membuat kawasan Pohsarang dipadati peziarah. Salah satu catatan kunjungan bahkan menunjukkan ribuan peziarah pernah memadati kawasan tersebut dalam kegiatan ziarah.

Meski memiliki fungsi utama sebagai tempat ziarah umat Katolik, keterbukaan kawasan terhadap pengunjung dengan latar belakang berbeda memperlihatkan sisi lain dari Goa Maria Pohsarang. Masyarakat tidak hanya datang untuk menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga menikmati suasana sejuk, melihat bangunan bersejarah, serta mengenal salah satu warisan budaya yang berada di Kabupaten Kediri.

Kehadiran pengunjung lintas keyakinan tersebut menjadi gambaran bahwa sebuah kawasan religi juga dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Nilai sejarah, arsitektur, suasana alam, dan aktivitas keagamaan berpadu menjadi daya tarik yang membuat Pohsarang memiliki karakter tersendiri dibandingkan destinasi wisata lainnya di Kediri.

Dengan demikian, Goa Maria Pohsarang tidak hanya dapat dilihat sebagai tempat ibadah. Kawasan ini juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kediri sekaligus destinasi yang memperlihatkan pertemuan antara agama, budaya Jawa, arsitektur, dan kehidupan masyarakat yang beragam.

 Kanzul fikri ahmadi - UIN Syekh wasil

Editor : Shinta Nurma Ababil
budaya lintas agama Alami kediri berbudaya wisata alam