Mengenal Candi Surowono di Kediri, Situs Peninggalan Majapahit yang Reliefnya Memiliki Banyak Makna

Diana Yunita Sari • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 11:35 WIB
BERSEJARAH: Pengunjung Candi Surowono mengajak seorang anak naik ke atas bangunan.
BERSEJARAH: Pengunjung Candi Surowono mengajak seorang anak naik ke atas bangunan.

 

JP Radar Kediri - Kabupaten Kediri menyimpan banyak peninggalan era Kerajaan di masa lalu. Salah satunya adalah di Desa Canggu Kecamatan Badas yang memiliki potensi wisata edukatif dari peninggalan sejarah yang tersimpan di sana yaitu Candi Surowono. Lokasinya berada tak jauh dari Balai Desa Canggu. 

Juru Pelihara Candi Surowono Nur Ali mengatakan, Candi Surowono merupakan situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Dulunya, candi ini berfungsi sebagai tempat pendharmaan bagi Raja Bhre Wengker.

“Bhre Wengker adalah paman dari Raja Hayam Wuruk. Jika Anda pernah ke Candi Tegowangi, itu adalah makam bersaudara dengan yang ada di sini karena dibangun pada era yang sama,” terang Nur Ali.

Baca Juga: Peletakan Batu Kemuncak Jadi Wujud Penghormatan Leluhur, Kirab Agung Candi Dorok Dimeriahkan Delapan Tumpeng

Dibandingkan dengan Candi Tegowangi, pembangunan Candi Surowono dilakukan lebih awal. Tepatnya saat Kerajaan Majapahit masih berada di masa kejayaannya. Sementara itu, Candi Tegowangi dibangun saat kerajaan mulai menghadapi banyak peperangan.

Candi ini mulai dikelola oleh pemerintah pusat sekitar tahun 1960. Meskipun area aslinya tergolong luas, bagian yang tersisa kini hanya terbatas pada lokasi candi tersebut. Banyak sisi candi yang masih terkubur. Penggalian lebih lanjut tidak bisa dilakukan karena lokasinya terlalu berdekatan dengan permukiman warga.

“Melihat dari sisa-sisanya, bentuk asli candi ini sebenarnya mengerucut, namun kemudian runtuh,” lanjut Nur Ali.

Berbeda dengan Candi Tegowangi yang struktur bangunannya memang belum selesai terbangun. Candi Surowono dulunya merupakan bangunan utuh yang telah tuntas dikerjakan. Hanya saja strukturnya mengalami keruntuhan karena dua faktor utama, yaitu alam dan manusia.

Baca Juga: Temuan Dwarapala di Blabak Kediri Beri Sinyal Keberadaan Candi, Disparbud Simpan Fragmen di Museum Airlangga

Faktor alam itu—lanjut Nur Ali— meliputi bencana yang terjadi bertahun-tahun silam, seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi. Sementara itu, faktor manusia terjadi karena sebelum adanya undang-undang perlindungan cagar budaya, banyak orang yang mengambil batu candi untuk membangun rumah atau keperluan lainnya.

“Batu-batu yang berserakan di depan itu merupakan reruntuhannya. Dahulu, sistem pembangunannya adalah batu ditata terlebih dahulu, baru kemudian diukir reliefnya,” sambungnya.

Pada dinding candi, terdapat relief yang mengisahkan tiga cerita atau legenda besar. Yakni, kisah tentang Arjuna Wiwaha, Bubuksah Gagang Aking, dan Sri Tanjung. Kisah legenda tersebut mengandung pesan moral yang mendalam bagi masyarakat Jawa pada masa itu.

Baca Juga: Drama Tari Berpadu Magis-nya Candi Tegowangi, Disparbud Kabupaten Kediri Siapkan Amphitheater Museum Daerah Jadi Opsi Pementasan Seni

Pelestarian cagar budaya itupun terus dilakukan dengan perawatan rutin. Di antaranya seperti membersihkan lumut yang menempel pada batu hingga merawat kebersihan taman di sekitar area candi.

Sebagai salah satu destinasi wisata sejarah, kunjungan masyarakat di sana juga cukup tinggi. Dalam sebulan, jumlah wisatawan bisa mencapai 1.000 orang. Sebagian besar berasal dari kalangan pelajar yang datang untuk menambah wawasan terkait sejarah situs tersebut. (na/ais)

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
kabupaten kediri majapahit kecamatan badas Candi Surowono peninggalan sejarah