JP Radar Kediri - Kediri memiliki banyak pelaku UMKM yang unik dan menarik, Salah satunya adalah warung sederhana di pinggir jembatan Desa Jagung Kecamatan Pagu milik Purnami, 57, warga setempat. Warung makan itu sudah berdiri sejak belasan tahun lalu. Ada beberapa makanan khas Kediri yang disajikan. Mulai dari nasi tumpang, nasi pecel, hingga nasi campur. Yang menarik, harganya pun sangat merakyat. Untuk satu porsinya dibanderol jauh di bawah rata-rata harga nasi pecel saat ini. Yakni, hanya Rp 3.500!
“Jualan dari 17 tahun yang lalu. Dulu tetap Rp 3 ribu, sekarang dinaikkan sedikit jadi Rp 3.500,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bu Pur itu.
Di tengah harga bahan pokok yang terus meningkat, Purnami memilih tetap mempertahankan harga murah. Tujuannya tak lain agar tidak ditinggalkan pelanggan lama sekaligus menarik pembeli baru.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Sate Kambing Muda Bu Jumangin Eksis sejak 1980-an
“Tidak apa-apa untungnya sedikit, yang penting laris,” akunya.
Keputusan tersebut membuahkan hasil. Karena harganya yang terjangkau, banyak warga dari luar desa yang penasaran dan datang untuk mencicipi langsung nasi tumpang dan pecel buatannya. Sehingga pembelinya tidak hanya berasal dari wilayah Kecamatan Pagu saja. Melainkan juga dari Pare, Jombang, Nganjuk, hingga daerah lainnya.
Selama menjalankan usaha itu, Purnami juga selalu memulai aktivitasnya lebih awal. Dia mulai memasak pukul 02.30 dini hari. Setelah itu, dia mulai menata dagangannya di warung mulai pukul 06.00 pagi hingga habis terjual.
“Biasanya, sekitar pukul 09.00 sudah habis dan tutup,” lanjutnya.
Baca Juga: Wisata Kuliner Kediri, Warung Lumintu Sajikan Sate Bekicot Legendaris Sejak 1976
Dalam sehari, Purnami mampu menghabiskan sekitar 7 hingga 8 kilogram nasi pada hari biasa. Sementara saat akhir pekan, terutama hari Minggu, penjualannya bisa mencapai 12 kilogram nasi.
Dengan harga Rp 3.500, pembeli sudah bisa menikmati seporsi nasi pecel atau nasi tumpang, lengkap dengan aneka sayuran, tahu, dan rempeyek. “Alhamdulillah ramai. Banyak juga pembeli yang awalnya penasaran, akhirnya jadi langganan,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita