Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menyusuri Jejak Kerajaan Kediri di Desa Menang, dari Sendang Tirta Kamandanu hingga Petilasan Jayabaya

Diana Yunita Sari • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:57 WIB
Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang Kecamatan Pagu (Diana Yunita/JPRK)
Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang Kecamatan Pagu (Diana Yunita/JPRK)

JP Radar Kediri - Kawasan Desa Menang, Kecamatan Pagu, telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan yang menyimpan jejak penting sejarah Kerajaan Kediri. Di desa ini terdapat dua situs bersejarah yang dikenal dengan nama Sendang Tirta Kamandanu dan Petilasan Sri Aji Jayabaya. Objek itu kini menjadi ikon wisata budaya dan spiritual Desa Menang. 

Juru Kunci Sendang Tirta Kamandanu Sempu menjelaskan, keberadaan kedua situs tersebut tidak dapat dipisahkan dari sosok Sri Aji Jayabaya. Yakni, raja besar Kerajaan Kediri yang memerintah pada abad ke-12. Nama Jayabaya dikenal luas sebagai pemimpin bijaksana yang meninggalkan warisan budaya dan ramalan yang terkenal sebagai Jangka Jayabaya.

"Beliau dikenal sebagai raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan perkembangan kebudayaan," ujarnya.

Baca Juga: Ingin Berwisata 'Double Track', Datang ke Nambaan Ngasem, Ada Dua Arca Kala Raksasa yang Jadi Pemikat

Tak jauh dari petilasan terdapat Sendang Tirta Kamandanu yang dipercaya sebagai patirtan atau sumber mata air suci pada masa Kerajaan Kediri. Menurut Sempu, sendang tersebut awalnya bernama Sendang Buntung yaitu karena aliran airnya yang tidak bisa mengalir jauh. Menurutnya dulu mata air ketika dialirkan selalu habis di tengah jalan.

Kemudian setelah itu dikenal sebagai Kolosunyo yang berarti tempat menghilangkan penyakit. Setelah dikelola Yayasan Hondodento, namanya berubah menjadi Sendang Tirta Kamandanu yang bermakna sumber kehidupan.

Pada masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya, lokasi ini dipercaya menjadi kaputren atau tempat bermain serta pemandian keluarga kerajaan. Hingga sekarang, air sendang masih dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan bersuci.

Masyarakat juga meyakini Sendang Tirta Kamandanu digunakan Sri Aji Jayabaya untuk melukat atau membersihkan diri sebelum berperang maupun sebelum menjalani moksa.

Baca Juga: Kuliner Legendaris Sate Kambing Muda Bu Jumangin Eksis sejak 1980-an 

“Karena dianggap sakral, pengunjung yang mandi di sendang tidak diperbolehkan menggunakan sabun maupun bunga agar tidak mengotori sumber mata air,” lanjutnya.

Sementara itu, Petilasan Sri Aji Jayabaya dipercaya sebagai tempat moksa atau hilangnya sang raja beserta raganya setelah melakukan semedi. Area inti petilasan yang dikenal sebagai Loka Muksa menjadi tujuan utama para peziarah yang datang dari berbagai daerah.

Menurut cerita turun-temurun, kawasan tersebut awalnya hanya berupa pamuksan sederhana. Namun sejak abad ke-19, tempat itu mulai dikenal luas sebagai tujuan wisata spiritual. Kini, kawasan petilasan telah ditata dengan berbagai gapura bergaya Hindu-Jawa yang menambah nilai sejarah dan estetika.

Baca Juga: Tradisi Jamasan Keris Masih Lestari di Kediri, Warga Rogoh hingga Rp 10 Juta Saat Bulan Suro

Hingga kini keberadaan dua objek wisata tersebut tetap dijaga kelestariannya. Pemerintah desa juga membentuk tim khusus yang bertugas di kawasan wisata. 

“Kalau pas nggak ada acara, panitia tugasnya ya bersih-bersih, lalu melakukan pengecatan jika dibutuhkan,” ungkap Sekretaris Desa Menang, Hartono.

Editor : Andhika Attar Anindita
#wisata kediri #desa menang #sendang tirta kamandanu kediri #sri aji jayabaya #kerajaan kediri