KEDIRI, JP Radar Kediri - Desa Sonorejo telah menyandang predikat Desa Wisata sejak tahun 2020 silam. Pemdes wisata religi dan kolam renang bernama wisata Sumber Agung. Nama tersebut dipilih karena di lokasi tersebut ada tiga sumber air alami serta makam tokoh bersejarah pendiri Desa Sonorejo.
Sebelum dikembangkan menjadi kawasan wisata, kawasan tersebut awalnya merupakan rawa-rawa. Kawasan itu dulunya dipenuhi pepohonan rimbun dan rumput tinggi. Mengingat adanya potensi sumber air dan makam leluhur, pemdes kemudian berinisiatif menata dan membangun kawasan tersebut. Sehingga lebih menarik bagi pengunjung.
Baca Juga: Pemdes Tugurejo Ngasem Kediri Bangun Punden Jadi Wisata Terpadu
“Di sana terdapat makam leluhur desa. Yaitu Eyang Sono Truno dan Eyang Kasan Rejo. Beliau berdua merupakan bagian dari Laskar Diponegoro,” ungkap Kepala Desa Sonorejo Choliq Efendi.
Kedua tokoh tersebut dipercaya sebagai leluhur pembabat alas desa. Nama Sonorejo sendiri diambil dari gabungan nama kedua tokoh tersebut. Selain berziarah, pengunjung juga dapat mempelajari kisah perjuangan mereka dan sejarah desa. Yakni melalui museum yang telah didirikan di kawasan tersebut.
Proses pengaturan yang dimulai sekitar tahun 2020 itu fokus pada tiga sumber air utama. Yaitu Sumber Kantil, Sumber Kencana, dan Sumber Drajat. Ketiga sumber tersebut dipercaya oleh masyarakat memiliki khasiat masing-masing. Mulai dari kesehatan hingga kecantikan. “Pengunjung yang datang kebanyakan justru berasal dari luar daerah, seperti dari Kalimantan, Bogor, Ciamis, dan kota-kota lainnya,” lanjut Choliq.
Dia menambahkan bahwa para pengunjung datang karena memiliki keyakinan masing-masing atau setelah melihat informasi di media sosial. Saat ini, fasilitas pendukung terus dilengkapi. Termasuk pembangunan musala dan tempat bilas bagi pengunjung setelah berenang di kolam.
Wisata Sumber Agung mencapai puncak keramaian pada bulan Suro. Hingga saat ini, pemdes belum memberlakukan tarif masuk resmi. Melainkan hanya menyediakan kotak kontribusi seikhlasnya serta penarikan tiket parkir saat pengunjung sedang membeludak.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Ayam Panggang Bangi di Desa Woromarto Kediri Ini Berdiri Puluhan Tahun
“Ada juga kegiatan rutin seperti selamatan dan ritual kirim doa kepada leluhur saat momen bersih desa,” tandasnya.
Kegiatan mengirimkan doa kepada leluhur biasanya dilakukan warga setiap hari Jumat pagi. Terutama bagi mereka yang hendak menggelar hajatan. Sementara itu, ritual bersih desa dilaksanakan setiap bulan Suro sebagai bentuk syukur warga.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian