KEDIRI, JP Radar Kediri- Keberadaan bandara dinilai menjadi faktor penting mendorong pertumbuhan pariwisata.
Khususnya jika sebuah daerah ingin membidik pasar wisatawan mancanegara.
Bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi penentu daya saing destinasi.
Hal itu tercermin dari pengalaman Kabupaten Banyuwangi yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan asing secara signifikan setelah memiliki bandara.
Pegiat Pariwisata Banyuwangi, Eko Suhendro menegaskan, bandara merupakan satu-satunya sarana transportasi yang secara nyata mampu memangkas waktu tempuh.
Menurutnya, perjalanan yang sebelumnya bisa memakan waktu satu hari melalui jalur darat atau laut, dapat dipersingkat menjadi hanya satu hingga dua jam dengan moda udara.
Efisiensi waktu tersebut sangat menentukan bagi wisatawan mancanegara.
“Wisatawan asing itu menghitung waktu secara ketat karena setiap hari mereka berada di Indonesia itu berbiaya. Perpanjangan visa saja Rp 500 ribu per 30 hari. Maka, bandara jadi pertimbangan utama mereka,” ujar laki-laki yang akrab disapa Endro itu.
Ia menjelaskan, dengan waktu tempuh yang lebih singkat, wisatawan dapat mengunjungi lebih banyak destinasi dalam satu kunjungan.
Kondisi ini membuat daerah yang memiliki bandara lebih menarik dibanding wilayah yang hanya mengandalkan akses darat.
Endro menuturkan, sebelum memiliki bandara, pariwisata Banyuwangi cenderung stagnan.
Namun setelah bandara beroperasi, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat tajam, terutama dari negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Meski sebagian penerbangan masih transit, akses udara tetap memberi kemudahan dan persepsi positif bagi wisatawan asing.
“Wisatawan luar negeri jauh lebih percaya datang ke daerah yang punya bandara. Mereka menganggap akses transportasinya bagus dan pelayanannya siap,” jelas aktivis pariwisata Banyuwangi itu.
Berkaca dari Banyuwangi, Endro menilai Bandara Internasional Dhoho Kediri memiliki potensi besar untuk mendorong pariwisata daerah, meski hingga kini belum melayani rute internasional langsung.
Ia menekankan, agar bandara dapat berfungsi optimal, pemerintah daerah harus aktif mempromosikan destinasi unggulan dan membangun ikon wisata yang kuat.
Menurutnya, Kediri memiliki modal wisata sejarah yang khas, seperti peninggalan Kerajaan Kediri, serta wisata alam Gunung Kelud yang memiliki keunikan sebagai gunung kecil dengan aktivitas vulkanik tinggi.
Keunikan tersebut, kata Endro, perlu dikemas dengan narasi sejarah, dokumentasi, dan kearifan lokal agar mampu menarik wisatawan untuk datang dan kembali berkunjung.
“Semua tergantung kemasan. Gunung Kelud itu unik, sejarah letusannya panjang dan dampaknya luas. Itu bisa jadi daya tarik kalau dikemas serius,” ujarnya.
Selain promosi destinasi, Endro menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait kebersihan, keamanan, dan keramahan.
Ia menilai, pemberdayaan masyarakat merupakan pondasi utama dalam membangun destinasi pariwisata berkelas internasional.
“Bandara dan pariwisata itu saling terkait. Kalau hanya mengandalkan penumpang lokal, bandara tidak akan hidup. Tapi kalau pariwisata tumbuh, penerbangan pasti ikut berkembang,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian