BANYUWANGI, JP Radar Kediri- Alas Purwo selain dikenal sebagai hutan tertua di Jawa, juga terkenal dengan spiritualitasnya.
Di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, terdapat salah satu destinasi spiritual yang hingga kini masih dihormati, yakni Situs Kawitan.
Begini ulasan mengenai Situs Kawitan:
penemuan situs
Menurut pegiat pariwisata Banyuwangi, Eko Suhendro, Situs Kawitan pertama kali ditemukan sekitar tahun 1960-an.
Saat awal ditemukan, wujudnya masih berupa gundukan tanah dan belum menampakkan bentuk bangunan situs secara utuh.
Seiring berjalannya waktu, kawasan Alas Purwo mulai didatangi warga pendatang. Mereka pun mulai melakukan pembabatan hutan.
Baca Juga: Tips Memilih Matcha, Jangan Salah Pilih nyara Ceremonial dan Culinary Grade
Dalam aktivitas meramu, warga sering membentur batu di dalam tanah. Dari situlah keberadaan situs mulai terungkap.
Namun karena ketidaktahuan, sebagian batu temuan tersebut justru diambil dan dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. “Ada yang menjadikannya sebagai cobek, dan sejenisnya. Karena mereka belum tahu soal situsnya,” terang laki-laki yang akrab disapa Endro itu.
Halamanbluk dan pengembalian batu situs
Pengambilan situs batu-batu itu kemudian diikuti munculnya pagebluk atau wabah penyakit di kalangan warga.
Peristiwa tersebut diyakini berkaitan dengan rusaknya dan diambilnya situs sakral itu.
Seorang tokoh spiritual setempat lalu meminta agar batu-batu yang diambil dikembalikan ke tempat asalnya.
Setelah batu dikembalikan, pagebluk itu hilang. Dari situ masyarakat mensakralkan situs itu.
Setelahnya, warga kembali melakukan pencarian. Dari proses itu, bentuk Situs Kawitan mulai terlihat lebih lengkap dan tersusun, sehingga memperkuat dugaan sebagai situs bersejarah.
Baca Juga: Pura Tawang Alun Banyuwangi, Destinasi Religi Kuno di Tepi Samudera Selatan
“Dari situ masyarakat mulai berdatangan. Utamanya umat Hindu,” terang Endro.
Sejarah Situs Kawitan
Secara bahasa, Kawitan berasal dari kata awit dalam bahasa Jawa yang berarti awal mula.
Penamaan ini diyakini mencerminkan fungsi Situs Kawitan sebagai siapa titik awal atau gerbang spiritual bagi pun yang memasuki kawasan Alas Purwo.
Situs ini juga dipercaya sebagai tempat pertapaan Mpu Barada. Dalam kisahnya, Mpu Barada bertapa di Situs Kawitan untuk memperoleh petunjuk dalam mengalahkan Calon Arang. Hal inilah yang menjadikan Situs Kawitan sangat dihormati oleh umat Hindu.
Selain nilai spiritual, Situs Kawitan juga diduga merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan.
Baca Juga: Rahasia Lezatnya Sambal Tumpang Kediri: Mengapa Harus Pakai Tempe 'Busuk'?
Reruntuhan gapura yang tersusun dari batuan gamping diperkirakan berasal dari abad ke-14 Masehi, masa ketika pusat Kerajaan Blambangan berada di kawasan Alas Purwo.
Pemugaran dan pembangunan pura
Seiring meningkatnya kunjungan umat Hindu, Situs Kawitan kemudian mengalami pemugaran.
Beberapa bagian dibangun kembali dengan menyesuaikan bentuk aslinya agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
Karena semakin banyak umat Hindu yang datang untuk beribadah, pemerintah daerah akhirnya membangun tempat ibadah yang lebih besar dan representatif.
Dari proses tersebut kemudian berdirilah Pura Luhur Giri Salaka di kawasan Alas Purwo.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Ini Perbedaan Kebab dan Shawarma dari Segi Rasa hingga Asal-Usulnya
“Pura ini Didirikan agar dapat menarik banyak umat yang beribadah,” jelas Endro.
Menurut kepercayaan masyarakat lokal. Situs Kawitan memiliki dua pintu, yakni pintu depan dan pintu belakang.
Bagi pelaku perjalanan spiritual, situs ini dipercaya sebagai tempat kulonuwun atau izin sebelum memasuki kawasan Alas Purwo.
Oleh karena itu, sebelum melakukan perjalanan spiritual di kawasan Alas Purwo, banyak orang terlebih dahulu datang ke Situs Kawitan untuk meminta izin secara batin.
"Jadi sebelum bertapa di kawasan Alas Purwo, biasanya para pelaku spiritual masuk dari pintu depan dan keluar dari pintu belakang. Ada yang percaya ini merupakan gerbang gaib," jelasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian