BANYUWANGI, JP Radar Kediri – Alas Purwo selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tertua di Pulau Jawa.
Bagi sebagian masyarakat, kawasan ini juga melekat dengan nuansa spiritual dan mistis.
Salah satu lokasi yang sering menjadi tujuan pelaku perjalanan batin adalah Pantai Pancur, yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi.
Berikut ulasan Pantai Pancur dari berbagai sisi.
Baca Juga: Menilik Sejarah Situs Kawitan Banyuwangi, Gerbang Masuk Menuju Misteri Alas Purwo
Asal Usul Nama Pancur
Pantai Pancur memiliki ciri khas berupa aliran air tawar yang berasal dari mata air di kawasan perbukitan atau gunung.
Aliran tersebut mengalir ke arah pantai dan membentuk pancuran alami seperti air mancur. Dari fenomena itulah nama Pancur muncul.
“Disebut Pantai Pancur karena ada aliran air dari arah gunung yang jatuh ke bawah seperti pancuran,” jelas Eko Suhendro, aktivis pariwisata Banyuwangi.
Tujuan Spiritualitas dan Pencarian Ketenangan
Selain menjadi destinasi wisata alam, Pantai Pancur juga dikenal sebagai tempat mencari ketenangan batin.
Menurut Eko Suhendro yang akrab disapa Endro, banyak pengunjung datang dengan tujuan spiritual.
“Rata-rata yang datang bukan hanya untuk rekreasi, tapi mencari ketenangan dan ketenteraman hidup,” ujarnya.
Endro menyebut, tidak sedikit pelaku spiritual yang mengaku mendapatkan ilham atau petunjuk setelah menjalani perjalanan batin di kawasan Alas Purwo.
Baca Juga: Pura Tawang Alun Banyuwangi, Destinasi Religi Kuno di Tepi Samudera Selatan
Selain itu, ada pula cerita pengunjung yang sempat mengambil benda dari kawasan tersebut, lalu kembali lagi untuk mengembalikannya.
“Biasanya mereka kembali lagi untuk semedi lagi. Secara spiritual, hutan ini dianggap bertuah,” katanya.
Titik-Titik Semedi di Area Pantai Pancur
Aktivitas semedi umumnya dilakukan di daerah Sumber Pancur, khususnya di sekitar aliran sungai.
Terbukti dari lokasi tersebut yang sering dijumpai sisa dupa atau perlengkapan ritual.
Selain di kawasan Sumber Pancur, semedi juga sering dilakukan di Gua Istana yang berjarak sekitar dua kilometer dari Pantai Pancur.
Setelah menjalani semedi, pelaku spiritual biasanya melanjutkan ritual dengan mandi di kolam Sendang Kamulyan.
Pada masa lalu, banyak pelaku spiritual yang menginap hingga berhari-hari di kawasan tersebut.
Namun saat ini, pengelola tidak lagi mengizinkan pengunjung bermalam karena faktor keamanan dan keselamatan yang dijamin.
“Kalau sekarang pengelola tidak berani menjamin soal keselamatan,” jelas Endro.
Baca Juga: Rahasia Lezatnya Sambal Tumpang Kediri: Mengapa Harus Pakai Tempe 'Busuk'?
Jejak Tokoh-Tokoh Besar
Gua Istana disebut-sebut sering dikunjungi tokoh-tokoh penting.
Menurut Endro, sejumlah pejabat hingga tokoh nasional pernah datang ke lokasi tersebut.
"Katanya Presiden Soekarno pernah datang. Selain itu, ada menteri, pejabat, sampai caleg yang datang untuk mencari petuah," ungkapnya.
Deretan Gua di Kawasan Alas Purwo
Selain Gua Istana, kawasan Alas Purwo juga memiliki sejumlah gua lain yang dikenal oleh pelaku spiritual maupun wisatawan.
Diantaranya Gua Putri, Gua Pajarakan, Gua Selombang Keleng, Gua Mayangkoro, dan Gua Kucur.
Keberadaan Pantai Pancur dan gua-gua tersebut menjadikan Alas Purwo tidak hanya dikenal sebagai kawasan konservasi alam, tetapi juga ruang budaya dan spiritual yang sarat nilai sejarah.
Baca Juga: Soto Podjok Kediri: Rahasia Kelezatan Kuliner Legendaris yang Tak Pernah Sepi Sejak Puluhan Tahun
Pengunjung diimbau untuk tetap menjaga kelestarian dan mematuhi aturan selama berada di kawasan taman nasional.
"Yang terpenting niatnya. Jangan punya niat buruk kalau ke sini," pesan Endro.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian