Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lamongan Tak Hanya Terkenal dengan Sotonya! Tapi Juga Ada Jumbrek, Camilan Terompet dari Abad ke-15

Redaksi Radar Kediri • Kamis, 11 Desember 2025 | 11:00 WIB
Jumbrek, camilan tradisional berbentuk terompet dengan rasa manis legit khas Lamongan
Jumbrek, camilan tradisional berbentuk terompet dengan rasa manis legit khas Lamongan

JP Radar Kediri- Saat nama Lamongan disebut, kebanyakan orang langsung teringat pada Soto Ayam Lamongan dengan taburan koya yang khas. Padahal, daerah ini memiliki khazanah kuliner lain yang tak kalah penting dan sarat nilai sejarah: Jumbrek.

Yaitu kudapan tradisional berbentuk kerucut menyerupai terompet ini bukan sekadar jajanan biasa, melainkan peninggalan kuliner yang telah bertahan sejak abad ke-15—menegaskan bahwa kekayaan gastronomi Lamongan jauh lebih luas dari sekadar hidangan soto.

Baca Juga: Soto Lamongan di Kediri Ini Harganya Tetap Rp 10.000 meski Nambah Kulit dan Balungan

Jumbrek berasal dari wilayah Paciran dan telah melekat dalam tradisi masyarakat setempat selama ratusan tahun. Dahulu, makanan ini tidak dijual bebas seperti sekarang. Statusnya cukup istimewa karena disajikan hanya kepada tamu terhormat atau menjadi bagian dari rangkaian upacara adat seperti sedekah bumi dan kenduri. Keberadaannya mencerminkan nilai penghormatan dan pelestarian masyarakat Lamongan, di mana setiap sajian menghadirkan jejak budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu ciri paling mencolok dari Jumbrek adalah bentuknya yang unik, menyerupai terompet atau corong. Bentuk tersebut bukan karena estetika semata, melainkan lahir dari proses pengolahan yang memanfaatkan daun siwalan—jenis palem yang banyak tumbuh di Lamongan—sebagai cetakan alami. Adonan dituangkan ke dalam gulungan daun siwalan berbentuk kerucut, lalu dikukus hingga matang. Hal inilah yang menghasilkan bentuk terompet khas sekaligus memberikan aroma daun yang lembut pada camilan tersebut.

Baca Juga: Kafe di Babat Lamongan Terbakar, Tiga Orang Tewas di Lokasi Kejadian

Keunikan Jumbrek juga terletak pada rasa dan kemudahan bahan yang digunakan. Adonannya hanya terdiri dari tepung beras, gula jawa, dan santan. Perpaduan ini menghasilkan rasa manis yang halus dan tidak berlebihan, berpadu dengan tekstur kenyal lembut tanpa membuat lengket di mulut. Gula jawa memberikan sentuhan karamel yang dalam, sementara santan menghadirkan rasa gurih yang menyeimbangkan keseluruhan cita rasa. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik utama.

Proses pembuatan Jumbrek membutuhkan keuletan. Campuran tepung beras, gula jawa cair, dan santan diaduk hingga homogen, lalu dituangkan ke dalam cetakan daun siwalan. Setelah dikukus, Jumbrek dilepaskan dari cetakan dan siap dihidangkan. Kini, camilan ini jauh lebih mudah ditemukan, terutama saat ada acara tradisi, di pasar khas Lamongan, dan toko oleh-oleh Paciran. Jumbrek menjadi simbol yang menghubungkan budaya masa lalu dengan generasi masa kini.

Baca Juga: UMKM Wingko Babat Lamongan Sukses Puluhan Tahun Berkat Dukungan BRI

Pada akhirnya, Jumbrek menjadi representasi keaslian kuliner Lamongan yang berakar kuat pada tradisi. Ia mengingatkan bahwa Lamongan tidak hanya dikenal dengan kuah soto yang gurih, tetapi juga memiliki jajanan berumur lebih dari enam abad yang menyimpan nilai budaya tinggi. Mencicipi Jumbrek ikut berarti menjaga jejak sejarah rasa Nusantara yang patut dijaga keberlangsungannya. Jadi, jika berkunjung ke Lamongan, pastikan untuk mencoba camilan “terompet” manis sarat cerita ini.

Penulis adalah Dita Amelia Ningsih Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#makanan tradisional #jumbrek #kuliner jadul #jajanan pasar #Khas Lamongan