JP Radar Kediri- Kampung adat Wae Rebo yang terletak di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berdiri megah di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi pegunungan hijau dan diselimuti kabut tebal hampir setiap pagi, Wae Rebo sering dijuluki sebagai “kampung di atas awan”. Keindahan alamnya dipadukan dengan kekayaan budaya yang telah bertahan sepanjang generasi.
Sejarah Kampung Adat Wae Rebo: Dari Minangkabau hingga Pegunungan Flores
Menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, Wae Rebo Didirikan oleh Empo Maro, seorang leluhur yang dipercaya berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat . Dalam perjalanannya ke wilayah timur Nusantara, ia menetap di beberapa tempat sebelum akhirnya sampai di pegunungan Manggarai dan membangun perkampungan yang kini dikenal sebagai Wae Rebo sekitar seaad yang lalu.
Nama “Wae Rebo” itu sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Manggarai: “wae” yang berarti udara dan Rebo berarti nama tempat atau sumber . Secara harfiah, Wae Rebo berarti “udara dan dari Rebo”, merujuk pada sumber udara yang menjadi pusat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di Kawasan pegunungan tersebut.
Baca Juga: Liburan Asik di Malang: 8 Spot Wisata Keluarga yang Lagi Hits
Mbaru Niang: Rumah Kerucut yang Menyatu dengan Alam
Salah satu daya Tarik utama Wae Rebo adalah Mbaru Niang , ruamh adat berbentuk kerucut tinggi yang tampak seolah tumbuh dari tanah. Seluruh bagian rumah dibuat dari bahan alami seperti bambu, ijuk, dan kayu. Setiap Mabru Niang memiliki lima tingkat (loteng) dengan fungsi yang berbeda.
1) Lutur: tempat tinggal keluarga
2) Lobo : tempat menyimpan bahan makanan
3) Lentar: tempat menyimpan benoh tanaman
4) Lempa Rae : tempat menyimpan stok makanan cadangan
5) Hekang Kode: ruang persemahan untuk leluhur
Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal sementara, tetapi juga melambangkan persatuan, kehangatan, dan keberlangsungan budaya masyarakat Wae Rebo.
Tradisi yang Tetap Hidup
Wae Rebo bukan hanya indah karena pemandangannya, tapi juga karena adat dan tradisi yang terus dijaga oleh warganya. Salah satu ritual terpenting adalah Upacara Penti, sebuah perayaan tahunan disetiap bulan November sebagai ucapan terima kasih atas hasil panen dan doa keselamatan bagi seluruh warga.
Selai itu ada juga tradisi Ita Beo , upacara adat yang menandai penyatuan dua keluarga dalam pernikahan. Tradisi ini melambangkan kasih sayang, persaudaraan, dan harapan akan kehidupan yang seimbang antara manusia dan leluhur.
Baca Juga: Nikmati Simfoni Masa Lalu di Kampoeng Heritage Kajoetangan Kota Malang
Sebagian besar penduduk Wae Rebo berprofesi sebagai petani kopi dan cengkeh, hasil bumi yang menjadi kebanggan sekaligus sumber ekonomi utama kampung ini.
Dari Kampung Tersembunyi Hingga Warisan Dunia
Keunikan budaya dan arsitektur Wae Rebo menyajikan des aini memperoleh penghargaan internasional dari UNESCO pada tahun 2012 dalam kategori Pelestarian Warisan Budaya. Sejak saat itu, Wae Rebo dikenal luas sebagai ikon pariwisata budaya Flores dan menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan dunia yang ingin menyaksikan kehidupan adat yang masih lestari ditengah modernisasi.
Makna yang Tak Lekang oleh Waktu
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Wae Rebo adalah cermin kehidupan yang damai dan penuh makna. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tengah keramaian pikuk kota, melainkan dalam kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Di balik kabutnya yang lembut, Wae Rebo menyimpan pesan sederhana: bahwa tradisi bukanlan sesuatu yang mengikat masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun generasi kini untuk tetap berpijak pada akar budaya.
Baca Juga: Destinasi Wisata Pantai Lon Malang, Rekomendasi Liburan Akhir Pekan
Artikel ini ditulis oleh Emerensiana Jufianti Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian