Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Rujak Cingur, Warisan Kuliner Ikonik Asli Surabaya hingga Jadi Warisan Budaya Takbenda

Internship Radar Kediri • Selasa, 30 September 2025 | 12:20 WIB

Rujak cingur khas Surabaya disajikan dengan bumbu petis kental dan isian sayur segar.
Rujak cingur khas Surabaya disajikan dengan bumbu petis kental dan isian sayur segar.

JP RADAR KEDIRI- Bicara soal kuliner khas Jawa Timur, khususnya Surabaya, sulit rasanya melewatkan rujak cingur. Hidangan tradisional yang memadukan sayuran segar, lontong, tahu, tempe, dan bumbu petis udang kental ini telah lama menjadi ikon kuliner Kota Pahlawan.

Pada 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkannya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia, menekankan pentingnya posisi rujak cingur dalam khazanah kuliner Nusantara.

Sejarah panjang rujak cingur diperkirakan bermula sejak Kerajaan zaman Majapahit. Saat itu, masyarakat Jawa Timur sudah gemar membuat rujak dari aneka bahan lokal. Kehadiran daging sapi, khususnya bagian mulut atau hidung yang dalam bahasa Jawa disebut “cingur”, menambah cita rasa sekaligus kandungan gizi. Sejak saat itulah, rujak ini menjadi berbeda dari rujak pada umumnya.

Keunikan rujak cingur tidak hanya pada bahan utamanya saja, namun juga terletak pada bumbunya yang khas. Kuah petis yang terbuat dari perpaduan petis udang, kacang tanah goreng, cabai, bawang putih, gula merah, dan air asam menciptakan harmoni rasa gurih, manis, dan sedikit asam.

Ketika dipadukan dengan tekstur kenyal cingur, lontong, serta sayuran segar seperti kangkung, tauge, bengkuang, dan timun, lahirlah cita rasa kompleks yang membuat penikmatnya selalu ingin kembali.

Baca Juga: Rujak Cingur Viral di Kediri, Dijual di Emperan Toko Tapi Bikin Pembeli Rela Antre!

Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa harus memakai cingur? Menurut para budayawan Jawa Timur, penggunaan cingur bukan sekedar pelengkap. Ia adalah simbol kearifan lokal, mencerminkan filosofi masyarakat Jawa yang menghargai setiap bagian hewan ternak. Tekstur kenyal cingur juga memberi kontras dengan kelembutan sayuran dan lontong, menghasilkan sensasi makan yang unik dan autentik.

Kini, rujak cingur tak hanya menjadi kebanggaan warga Surabaya, tetapi juga mulai mendunia. Sejumlah restoran Indonesia di luar negeri, seperti di Belanda dan Malaysia, telah menyajikan rujak cingur sebagai menu utama. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Surabaya pun menjadikannya kuliner wajib coba, meski awalnya sempat terkejut dengan penggunaan mulut sapi sebagai bahan utama.

Pemerintah Kota Surabaya bersama para pelaku kuliner terus berupaya melestarikan hidangan legendaris ini. Festival kuliner bertema rujak cingur rutin diadakan untuk memperkenalkan sekaligus menjaga eksistensi kuliner khas ini di tengah generasi muda. Dengan cara itu, rujak cingur diharapkan tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga terus dikenal dunia sebagai simbol kebanggaan kuliner Kota Pahlawan.

Baca Juga: Mencicipi Kelezatan Rujak Cingur Mbok Jo di Jalan Joyoboyo Kota Kediri

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Dita Amelia Ningsih Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : rekian
#Ikonik #kuliner #rujak cingur #Warisan Budaya Takbenda #warisan #rujak #warisan budaya #surabaya #cingur