Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Socotra Pulau Alien yang Mengajarkan Cara Menjaga Alam

Internship Radar Kediri • Jumat, 26 September 2025 | 16:58 WIB

 

Socotra Pulau Alien
Socotra Pulau Alien

JP RADAR NGANJUK-Pernah dengar tentang Socotra? Sebuah pulau kecil di Samudra Hindia ini sering disebut “pulau alien”. Julukan itu muncul bukan karena ada makhluk luar angkasa, melainkan karena bentuk pohon-pohonnya benar-benar tak biasa. Dari kejauhan, sebagian besar terlihat seperti jamur raksasa atau payung besar yang tumbuh di tengah padang tandus.

Socotra, pulau terpencil milik Yaman di Samudra Hindia, sering dijuluki “pulau alien”. Julukan itu bukan tanpa alasan. Pohon berbentuk jamur raksasa, batang pohon yang gemuk seperti ketimun, hingga getah merah dari batang pohon naga membuat pulau ini terasa seperti dunia lain. Namun lebih dari sekadar keindahan, Socotra menyimpan banyak pelajaran berharga untuk manusia di mana pun berada.

Mengapa Socotra Begitu Spesial?

Socotra terpisah dari daratan besar selama jutaan tahun. Karena isolasi itulah, flora dan fauna di sini berkembang unik. UNESCO mencatat sekitar 37 persen tumbuhan di pulau ini tidak ditemukan di tempat lain. Pohon darah naga (Dracaena cinnabari) adalah ikonnya, batang kokoh dengan tajuk seperti payung, getah merahnya digunakan sebagai obat, pewarna, hingga dupa sejak zaman kuno. Selain itu ada pohon ketimun raksasa yang hanya tumbuh di Socotra. Laut di sekitarnya juga kaya, dihuni lebih dari 700 spesies ikan dan 300 jenis karang. Tidak heran, pulau ini ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada 2008.

Warga dan Budaya yang Menjaga Tradisi

Selain lanskapnya yang membuat mata terbelalak, masyarakat Socotra juga punya ciri khas yang membedakan mereka. Bahasa yang digunakan bukan bahasa Arab standar, melainkan bahasa Soqotri yang berasal dari rumpun kuno. Aktivitas sehari-hari masyarakat masih sederhana seperti bertani, melaut, dan beternak.

Kehidupan yang dekat dengan alam membuat warga pulau terbiasa menjaga keseimbangan. Mereka tahu kapan waktu memanen, bagaimana menggembalakan ternak agar tidak merusak ekosistem, hingga menjaga tradisi pengobatan dengan memanfaatkan tumbuhan khas. Harmoni itu sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

Mengapa Dunia Harus Peduli

Socotra memang terlihat eksotis di foto dan video wisata. Namun, nilainya jauh lebih besar dari sekadar destinasi liburan. Pulau ini ibarat laboratorium hidup. Ia menyimpan bukti nyata bagaimana makhluk hidup bisa bertahan dan beradaptasi dalam kondisi ekstrem.

Jika ekosistemnya rusak, dunia akan kehilangan salah satu tempat terbaik untuk memahami evolusi. Masyarakat lokal juga akan kehilangan sumber hidup, mulai dari bahan pangan, obat tradisional, hingga identitas budaya yang lekat dengan alam.

Socotra adalah pengingat bahwa bumi masih menyimpan banyak rahasia menakjubkan. Julukan pulau alien bukan sekadar label eksotis, tapi tanda bahwa keajaiban ini begitu rapuh. Tugas kita bukan hanya mengagumi keindahannya lewat layar ponsel, melainkan ikut menjaga agar Socotra tetap hidup. Jika tidak, dunia bisa saja kehilangan surga kecil ini, hanya tinggal cerita dalam buku sejarah.

Apa yang Bisa Kita Lakukan dari Rumah

Kita memang tidak bisa serta-merta terbang ke Socotra untuk ikut menjaga keunikannya. Tapi ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan dari rumah, dan dampaknya tetap berarti bagi bumi.

1. Kurangi plastik sekali pakai.

Sedotan, kantong belanja, atau botol plastik memang praktis, tapi meninggalkan jejak panjang di bumi. Sampah plastik bisa bertahan ratusan tahun tanpa terurai. Mulailah dengan kebiasaan kecil: bawa tumbler sendiri, gunakan tas kain, atau pilih wadah isi ulang. Langkah ini sederhana, tapi jika dilakukan banyak orang, hasilnya besar.

2. Pilih produk yang ramah lingkungan.

Belanja tidak hanya soal harga dan kualitas. Perhatikan juga kemasan dan proses produksinya. Produk lokal dengan kemasan daur ulang atau bahan alami jauh lebih ramah lingkungan. Dengan mendukung pilihan semacam ini, kita ikut mendorong produsen untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan.

3. Bijak menggunakan listrik dan air.

Mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut charger, atau memakai peralatan hemat energi adalah contoh kecil penghematan listrik. Begitu juga air, gunakan secukupnya ketika mandi, mencuci, atau menyiram tanaman. Hemat energi dan air bukan hanya meringankan biaya rumah tangga, tapi juga menjaga sumber daya yang makin terbatas.

4. Menanam tanaman lokal.

Tidak perlu lahan luas untuk berkontribusi. Pot kecil di teras atau balkon sudah cukup menambah kesejukan. Tanaman asli daerah lebih mudah tumbuh karena sesuai iklim setempat. Selain mempercantik rumah, udara pun lebih segar. Kalau dilakukan bersama warga sekitar, lingkungan bisa berubah lebih hijau dan sehat.

5. Ikut kampanye atau donasi konservasi.

Banyak gerakan lingkungan yang bisa kita dukung, mulai dari kampanye digital hingga donasi untuk program pelestarian. Kita tidak harus terjun langsung ke lapangan, cukup berbagi informasi atau menyisihkan sedikit rezeki. Sekecil apa pun partisipasi kita, tetap punya arti bagi upaya menjaga ekosistem.

Langkah sederhana ini jika dilakukan banyak orang bisa memberikan dampak nyata bagi bumi. Socotra memang tampak seperti pulau dari dunia lain, tapi sejatinya ia adalah cermin bumi kita. Pulau ini menunjukkan betapa kayanya keanekaragaman hayati bila dijaga, sekaligus betapa rapuhnya bila diabaikan. Socotra memberi pesan jelas: menjaga alam bukan tugas satu bangsa saja, melainkan tanggung jawab seluruh umat manusia.

 

Penulis: Annisa Aulia Mujiono Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya-Magang Jawa Pos Radar Kediri

 

Editor : Jauhar Yohanis
#unesco #Samudra Hindia #alam #yaman #Socotra