JP RADAR KEDIRI- Ketika mendengar kata pecel kita pasti akan teringat dengan siraman sambal kacang diatas nasi dan rempeyek. Makanan khas jawa timur ini cocok untuk teman sarapan kita setiap hari.
Namun, ada varian pecel yang unik datang dari Blitar yaitu Pecel punten. Tetap dengan siraman sambal kacang tetapi yang disiram bukan nasi melainkan punten yang berasal dari nasi ditanak dengan santan.
Di Blitar sendiri tidak asing ketika mendengar pecel punten. Pecel punten ini banyak dijual di pasar-pasar tradisional maupun di warung-warung yang disajikan dengan cita rasa menggugah selera.
Pecel punten Blitar diracik dari bahan-bahan yang sederhana dan mudah ditemukan di dapur orang Jawa. Justru kesederhanaan itu yang membuatnya bertahan sebagai menu sarapan favorit warga Blitar. Ini dia bahan-bahannya :
Bahan Punten:
230 gram beras
300 ml santan murni atau santan kara
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas
1/4 sdt garam
Bahan Pecel
150 gram sambal pecel yang dilarutkan dengan air panas secukupnya
100 gram kangkung
75 gram tauge
100 gram pepaya muda yang diparut
100 gram kacang panjang yang potong
50 gram daun kemangi
Cara Membuat
- Rebus santan, daun salam, dan garam hingga mendidih
- Saat mendidih, masukkan beras dan aduk sesekali. Masak santan hingga diserap oleh beras. Setelah terserap, angkat beras dan diamkan selama 10 menit didalam wadah tahan panas.
- Panaskan dandang kukusan. Masukkan wadah berisi beras tadi kedlaam dandang dan biarkan selama 30 menit sampai matang.
- Rebus kangkung, tauge hingga matang secara bergantian lalu tiriskan.
- Larutkan sambal pecel didalam mangkuk dengan air panas secukupnya sesuai selera.
- Potong- potong secukupnya punten lalu letakkan diatas piring.
- Letakkan juga kangkung dan tauge yang sudah direbus secukupnya lalu siram dengan sambal pecel yang sudah dilarutkan.
- Letakkan juga kemangi yang sudah dicucui bersih diatas sambal pecel dan pecel punten siap dinikmati bersama rempeyek.
Pecel punten memang sederhana, tetapi kelezatannya membuat siapa saja rindu untuk kembali menikmatinya. Di Blitar, kuliner ini bukan sekadar sarapan, melainkan bagian dari keseharian yang tak tergantikan.
(Catatan Redaksi : Penulis adalah Aurora Putri Salsabillah Susanto, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Mahfud