JP RADAR KEDIRI- Ketika cahaya lampu sudah mendominasi gelap malam, sebagian sudut Kota Kediri berubah. Menampilkan surga kuliner rakyat.
Bukan restoran mewah, juga bukan food court modern. Melainkan warung-warung angkringan. Warung kaki lima dengan nuansa hangat yang disalurkan melalui aroma bumbu bakaran, nasi kucing, teh panas, dan beraneka ragam minuman menyegarkan.
Angkringan: Simbol "Nongkrong" Kediri yang Merakyat
Selain dikenal sebagai kota tahu dan produsen rokok yang besar, Kota Kediri juga memiliki budaya "nongkrong" di angkringan yang kuat. Hampir di setiap ruas jalan, mulai dari kawasan Jalan Cokroaminoto, Pattimura, Dhoho, Imam Bonjol hingga Mojoroto, angkringan menjamur menghiasi pemandangan piggir jalan Kota Kediri.
Model duduk lesehan di atas tikar tanpa sekat atau jarak yang berarti, menjadikan angkringan sebagai ruang makan sekaligus ruang sosial untuk menyatukan berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, buruh, karyawan, hingga penggiat seni, berkumpul dan menciptakan interaksi yang ringan dan hangat.
Menu yang Merakyat, Rasa yang Mendekat
Kesederhanaan menu sudah menjadi ciri khas banyak angkringan di Kediri. Berikut menu sederhana angkringanyang tidak lekang oleh watu:
1. Nasi kucing dengan lauk sambal teri atau osen tempe dan sedikit sambal terasi.
2. Nasi bakar yang hadir dengan nasi gurih, ayam atau ikan suwir bumbu pedas kemangi.
3. Sate-satean atau biasa disebut "sundukan" beragam, yakni sate usus, ati ampela, telur puyuh, sosis, dan tahu bakar.
4. Lauk pendamping seperti tempe dan tahu bacem, telur pindang, serta gorengan.
5. Minuman tradisional seperti wedang uwuh, kopi tubruk, susu tape, susu ketan, dan teh poci. Ada pula minuman instan bermacam rasa yang bisa dipilih, jika tidak ingin minuman tradisional.
Angkringan yang menjadi Primadona di Kediri
Selain harga makanan yang bersahabat, gaya penyajian dan suasana yang berbeda juga menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Berikut rekomendasi angkringan yang sering dikunjungi dan menjadi favorit penggemarnya:
1. Angkringan sepanjang Jalan Cokroaminoto dan Pattimura (terutama depan Pasar Pahing dan Pasar Setonobetek).
2. Angkringan 3D yang menawarkan menu serba 3.000,00 di Setono Pande.
3. Angkringan Sebelas di Jalan Imam Bonjol denan pilihan nasi yang variatif.
4. Angkringan 46 di Mojoroto dengan model semi cafe.
Masing-masing mempunyai ciri khas sendiri. Namun gaya penyajian dan nuansa santai pinggir jalan tetap dipertahankan.
Angkringan bukan hanya tentang mengisi perut, namun juga perasaan nyaman dan rasa memiliki ruang bersama. Inilah mengapa angkringan menjadi surga kecil di tengah malam Kota Kediri yang mungkin tidak mewah, tapi selalu di rindukan.
(Catatan Redaksi : Artikel ini ditulis oleh Karunia Syifa mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya.)
Editor : Mahfud