JP Radar Kediri -Di pesisir selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tersembunyi sebuah kawasan pantai yang bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi rumah bagi makhluk laut yang kini semakin langka, yaiu penyu.
Tempat itu dikenal sebagai Taman Kili-Kili, sebuah kawasan konservasi yang menjadi saksi bisu perjuangan warga dan relawan dalam menjaga kelestarian penyu laut. Taman Kili-Kili terletak di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul.
Pantainya masih alami, dengan hamparan pasir kecokelatan yang membentang luas dan ombak Samudra Hindia yang bergulung kuat.
Meskipun masih jarang diketahui wisatawan, Taman Kili-Kili memiliki daya tarik tersendiri. Terutama pemandangan pantai ketika matahari terbenam.
Cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati liburan dengan tenang. Namun, daya tarik utama Taman Kili-Kili bukan hanya panoramanya.
Melainkan statusnya sebagai lokasi pendaratan dan peneluran penyu yang masih aktif di Pulau Jawa. Beberapa jenis penyu, seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata), tercatat rutin datang untuk bertelur di kawasan ini.
Kegiatan konservasi penyu di Taman Kili-Kili bermula dari keprihatinan warga terhadap maraknya perburuan telur penyu dan ancaman kerusakan habitat.
Maka dari itu, sejak awal tahun 2010-an sekelompok warga dan relawan membentuk komunitas untuk menyelamatkan telur-telur penyu dari ancaman predator dan tangan manusia.
Telur-telur yang ditemukan dipindahkan ke penangkaran semi-alami hingga menetas, sebelum akhirnya tukik (anak penyu) dilepas ke laut.
Kini, Konservasi Penyu Taman Kili-Kili telah berkembang dengan dukungan dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, serta kampus-kampus yang mengirim mahasiswa untuk program KKN dan penelitian.
Tak hanya itu, Taman Kili-Kili juga menjadi pusat edukasi lingkungan. Para pengunjung, termasuk pelajar dan wisatawan, diajak untuk mengenal siklus hidup penyu, ancaman terhadap keberlangsungan mereka, serta pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Dalam beberapa kesempatan, pengunjung dapat ikut serta dalam kegiatan pelepasan tukik. Tentu pengalaman tersebut tidak hanya menyentuh, tetapi juga menyadarkan akan pentingnya peran manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Pengelolaan kawasan ini juga berupaya mengembangkan ekowisata. Artinya, kunjungan wisatawan diatur agar tidak mengganggu proses alami penyu, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar melalui homestay, pemandu lokal, dan penjualan produk UMKM.
Taman Kili-Kili bukan hanya tentang pantai yang indah, tetapi tentang perjuangan dan harapan. Tempat ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat lokal bisa menjadi garda depan dalam pelestarian alam.
Dengan dukungan berbagai pihak, Taman Kili-Kili dapat terus menjadi tempat di mana alam dan manusia bersinergi untuk masa depan yang lebih lestari.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira