Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Daya Tarik Candi Surowono Kediri yang Berhasil Memikat Anak-Anak Muda

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 25 Februari 2025 | 13:32 WIB

 

BERSEJARAH: Pengunjung Candi Surowono mengajak seorang anak naik ke atas bangunan.
BERSEJARAH: Pengunjung Candi Surowono mengajak seorang anak naik ke atas bangunan.

KEDIRI, JP Radar Kediri– Kunjungan wisata sejarah ke Candi Surowono di Desa Canggu, Kecamatan Badas mengalami peningkatan. Tingginya kunjungan itu terjadi di beberapa bulan terakhir.

Wisatawan yang paling banyak berkunjung berasal dari generasi muda. Tren anak muda berkunjung ke lokasi wisata sejarah seperti Candi Surowono itu tidak lepas dari peran komunitas.

Mereka menawarkan program atau kegiatan yang berhubungan dengan sejarah.
Juru Kunci, Zainal Abidin, 40, mengatakan, kunjungan selama Desember hingga Januari jumlah kunjungannya mencapai ribuan orang.

Saat Desember lalu, kunjungan wisata ke Candi Surowono itu mencapai 3 ribu orang dalam sebulan. “Januari jumlahnya lebih banyak lagi,” jelas Zainal yang belum merekap kunjungan pada Februari ini.

Tingginya kunjungan itu tidak lepas dari adanya momen tertentu. Seperti libur panjang. Selain untuk melihat langsung kondisi candi, mereka juga asyik berswafoto.

Mereka yang datang berkelompok biasanya akan lebih detail lagi memahami sejarah Candi Surowono yang bercorak Hindu di peninggalan Kerajaan Majapahit. Candi tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Dan cand ini memiliki ciri khas. Jika umumnya candi Hindu bentuknya runcing ke atas. Berbeda dengan Candi Surowono yang memiliki bentuk seperti kubus.

Selain memiliki karakteristik arsitektur yang berbeda, cerita yang terkandung di dalamnya juga beragam. Mulai dari tempat pendharmaan Bhre Wengker hingga simbol kegiatan yang dilakukan pada kehidupan sehari-hari.

“Peristiwa pencurian, aborsi, penipuan, minum-minuman keras tergambar semua di relief kaki bagian bawah,” ungkap Zainal, lelaki asal Desa Tunglur.

Wisata sejarah mulai banyak berdatangan karena didorong oleh rasa ingin tahu terhadap kehidupan masa lalu. Selain itu, karena adanya faktor spiritual. Mereka mulai menyadari pentingnya tempat-tempat suci untuk bermeditasi dan berdoa.

Kunjungan untuk keperluan spiritualitas ini meningkat pada saat menjelang bulan puasa. Mayoritas luar kota datang ke sana. Mereka berasal dari Kudus, Solo, dan Yogyakarta. Sedangkan wilayah Kediri didominasi oleh warga Kepung, Medowo, dan Blitar.

Terpisah, Galang, 25 mengatakan, kedatangannya ke lokasi candi karena kegemarannya mempelajari sejarah. Dia ingin memperkenalkan peninggalan bersejarah itu ke generasi berikutnya. Agar cerita sejarah tidak terkikis oleh waktu.

“Ini mencoba untuk memperkenalkan wisata sejarah ke anak sedini mungkin,” tutur Galang, lelaki asal Bence Kecamatan Pesantren yang saat itu mengajak keluarganya ke lokasi candi.

Selain karena banyak pengetahuan baru tentang Candi Surowono, Galang dan keluarganya juga merasa senang karena suasana di candi itu tenang dan dama. Suasana tersebut membuatnya rileks dan nyaman.

Adapun Dani, warga setempat mengaju senang datang ke lokasi candi. “Saya biasanya masin sama teman-teman di area candi yang luas dan bersih ini. Terkadang juga sambil belajar,” ujar pemuda yang tinggal di sekitar Candi Surowono.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : rekian
#komunitas #kediri #wisata #anak muda #kecamatan badas #Candi Surowono #desa canggu #candi #sejarah