JP Radar Kediri - Konsep Pasar Wates memang menggabungkan tiga hal sekaligus. Modern, tradisional, dan kultural.
Modern dirupakan dalam arsitektur dan pemakaian teknologi terkini. Seperti pemasangan close circuit television (CCTV) di setiap sudut.
Sebagai pasar tradisional, wajah Pasar Wates memang sangat jauh berbeda. Lebih bersolek. Terutama di malam hari.
Bangunan pasar seluas 8.268 meter persegi itu terasa gagah terutama di malam hari.
Meskipun model bangunannya ‘hanya’ berupa los besar dengan tiga atap pelana, namun lebih mentereng dengan lampu hias di sekitarnya.
Apalagi, dinding atas pasar dihiasi gambar motif topeng Kelana Sewandana. Sesuai dengan tagline Kabupaten Kediri, Kediri Berbudaya.
Karena itulah, pasar ini tak hanya jadi jujugan orang berbelanja di pagi hari. Namun juga untuk jalan-jalan di malam hari.
Apalagi dilengkapi dengan fasilitas bangku taman sebagai tempat duduk.
Demikian pula di halaman depannya. Persisnya di bagian trotoar, dikemas berkonsep seperti Malioboro Jogjakarta.
Semakin menarik karena malam hari ada sentra kuliner. Membuat pengunjung dari luar kota pun membanjir.
“Ada yang dari Jombang, Nganjuk, Blitar, Tulungagung. Pernah itu datang, terus tanya, ini apa Pasar Wates yang viral di TikTok itu ya. Jadi banyak yang datang karena tahu dari sosmed,” terang Gunawan, wakil Kepala Pasar Wates.
Membeludaknya pengunjung juga membuat petugas harus kerja keras. Agar ketertiban pasar tetap terjaga.
“Personelnya ada 12 orang, termasuk ketua. Dibagi dua shift. Karena pasarnya kan beroperasi 24 jam. Saat dini hari sampai sore pedagang pasar. Sore sampai dini hari kulineran,” terang laki-laki 55 tahun itu.
Fasilitas modern yang lain adalah CCTV. Keberadaan alat ini sekaligus memberi kenyamanan dan ketenangan pedagang.
“Baru ada saat pasar baru ini. Karena ada CCTV itu jadi merasa lebih aman,”
Pedagang memang terbantu dengan keberadaan CCTV ini. Seperti yang dirasakan Agung, 47.
Suatu kali pedagang ini ini kehilangan dua gembok. Padahal hendak digunakan mengunci lapak.
Agung pun menghubungi petugas pasar. Minta dicek dari rekaman CCTV. Gambarnya yang jernih dan jangkauannya yang luas membuat ketahuan siapa yang mengambil gembok tersebut.
Pernah pula ada yang mengeluh temboknya rontok lapisan semennya. Setelah dicek di CCTV ternyata rontoknya lapisanitu karena terkena freezer yang dipindahkan pedagang lain.
Tapi, kadang pedagang sedikit kelewatan. Ketika kehilangan satu buah timun pun minta dilihat dari CCTV.
“Katanya ingin mengerti. Mau bagaimana lagi, kami harus melayani,” ucap Gunawan.
Terpisah Kepala Dinas Perdagangan Tutik Purwaningsih mengatakan, konsep pakaian jadul merupakan inisiatif pihak pasar.
Disdag hanya memberikan dukungan saja. Harapannya, hal tersebut juga bisa menjadi contoh bagi pasar lain. Agar menjadi salah satu pemikat pengunjung.
“Wates sedang kami konsep untuk bisa menjadi percontohan. Pasar yang lain nanti bisa belajar dari Wates. Tanpa contoh kadang agak susah mengajak pedagang berubah, apalagi termasuk hal baru,” terang Tutik.
“Waktu merencanakan Pasar Wates, konsep pedistrian memang kamia masukkan. Sebagai pendukung adanya pasar yang berkonsep tradisional, berbudaya, dan modern,” imbuhnya
Ke depan, beberapa pasar juga akan dibangun dengan konsep seperti itu. “Yang terdekat ini Pasar Ngadiluwih,” terang Tutik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah