KEDIRI, JP Radar Kediri– Ekonomi warga di sekitar Bandara Dhoho Kediri sempat menggeliat beberapa tahun lalu. Sekitar empat tahun lalu, warga yang semula bekerja sebagai petani berubah menjadi pengusaha kos-kosan. Masyarakat di sekitar bandara memanfaatkan ramainya pekerja proyek yang berasal dari luar daerah.
Dulu, keberadaan pekerja proyek itu membawa berkah. Seperti yang dilakukan warga Dusun Grogol Etan, Desa/Kecamatan Grogol, saat desanya ramai pendatang, mereka memanfaatkannya untuk membuka usaha kosan dan kontrakan.
Di kawasan Dusun Grogol Etan, Desa/Kecamatan Grogol, biaya kosan per bulan dibanderol Rp 500 ribu. Sedangkan untuk rumah kontrakan sebesar Rp 4 juta per bulan. Karena itu, warga tidak perlu bersusah payah mencari penghasilan karena kosan yang mereka sediakan banyak peminatnya.
“Yang kos disini dulu kebanyakan mandor proyek. Kalau pekerja biasa tidak mampu. Paling pekerja biasanya tinggal di rumah kontrakan dengan jumlah 20 orang,” ujar Dasri, 63, pemilik kosan yang masih bertahan di Desa/Kecamatan Grogol.
Bukan hanya di tempat Dasri, rumah kosan untuk para pekerja itu menyebar di banyak tempat. Bahkan ada yang membangun khusus kosan yang lebih bagus untuk meraup pundi-pundi uang dari para pekerja proyek.
Tidak heran di depan rumah atau pagar, selalu disediakan tulisan ada kosan. Atau menerima kos. Dalam sebulan pemilik kos bisa mendapat cuan hingga jutaan rupiah.
Jika dulu menjadi rebutan, sekarang justru sebaliknya. Para pemilik kosan kesulitan mendapatkan pelanggannya. Dia mengaku, jumlah warga yang membuka usaha kos berangsur menurun. Mereka memilih untuk menutup usahanya.
Hal itu disebabkan karena di wilayah yang berada di dekat bandar udara itu mulai ditinggalkan pekerja. “Sekarang kos maupun kontrakan di sini sudah mulai sepi. Tidak seperti 5 tahun lalu,” keluh Dasri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian