Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Kediri, Gethuk Lindri Digiling Bukan Ditumbuk

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 27 Maret 2023 | 18:17 WIB
JUALAN GETHUK: Salah seorang pedagang kue menyediakan aneka jajanan tradisional yang salah satunya adalah gethuk lindri. (Foto: Asad)
JUALAN GETHUK: Salah seorang pedagang kue menyediakan aneka jajanan tradisional yang salah satunya adalah gethuk lindri. (Foto: Asad)

Jajanan ini memang ada di mana-mana. Namun, yang dari Kediri memiliki karakteristik yang khas. Toh, senyampang belum ada daerah yang mencatatkan sebagai kekayaan intelektual komunal.


Wanita itu menggerakkan tanganya dengan cekatan. Menggulung-gulung adonan tepung yang sudah matang, yang berbentuk seperti tali. Menjadikannya seonggok gethuk lindri. Setelah jadi tangannya menaburi jajan itu dengan parutan kelapa.

Sulikah nama wanita itu. Seorang pembuat gethuk lindri, jajanan tradisional yang kini tercatat sebagai khas Kabupaten Kediri. Seperti yang tercatat di Kemenkum HAM sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK).

Sebenarnya, banyak daerah yang juga punya gethuk lindri. Namun, yang dari Kediri punya kekhasan tersendiri. Yang membedakan dengan daerah lain.

“Gethuk lindri Kediri digiling pakai mesin. Kalau (di) Jawa Tengah ditumbuk,” terang Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sonny Subroto Maheri Laksono.

Catatan lain, mengapa gethuk lindri diakukan sebagai KIK Kediri, karena daerah lain belum ada yang melakukan! “Meskipun bukan hanya ada di Kediri tapi coba kami catatkan. (Apalagi) Bupati juga oke karena memang di Kediri potensinya tinggi. Yang penting juga, ada yang nguri-nguri (merawat, Red),” terusnya.

Memang, Kediri termasuk ‘surganya’ gethuk lindri. Pembuatnya masih banyak. Termasuk Sulikah. Perempuan 50 tahun itu salah satu yang membuat gethuk lindri tak sekadar jadi mata pencaharian. Tapi, ada niatan lain, untuk melestarikannya di tengah gempuran jajanan modern.

Sebenarnya, gethuk lindri masih menjadi jajanan yang digemari. Setidaknya hingga sebelum pemerintah menetapkan masa pandemi. “Saat itu delapan keranjang habis. (Satu keranjang) isinya 85,” terang wanita yang memulai bisnis gethuk lindri sejak 2019 ini.

Saat pandemi, hingga sekarang, trennya menurun. “Sekarang cuma  habis sekitar 250 mika per hari,” sambungnya.

Pasar boleh sepi tapi Sulikah tetap bertahan. Bersama suaminya, Muhaimin, dia tetap berproduksi.Dari rumah sederhana di Dusun Ngadiloyo, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih. Menghabiskan 25 kilogram singkong sehari. Yang dicampur dengan 2 kilogram gula merah, jadilah 250 gethuk lindri yang dikemas dalam plastik mika.

Sulikah sudah mahir dalam membuat gethuk lindri. Mengupas singkong, merebusnya, dan kemudian menggiling dengan alat khusus.

Mesin giling itu dia dapat dari saudaranya. Karena sang saudara tersebut memilih fokus bertani. Karena itulah mesin giling langsung dia ambil alih. “Eman kalau mangkrak,” ucapnya.

Proses menggiling setelah direbus bukan akhir pembuatan gethuk lindri. Setelah gilingan pertama, singkong yang sudah halus dicampur juruh, gula yang dicairkan. Kemudian masih digiling lagi. Setelah keluar dari mesin penggilingan, Sulikah harus cekatan menerima adonan yang keluar dengan tangannya. Bila tidak maka bentuk gethuk jadi tak karuan.

“Harus luwes karena lumayan sulit,” ingatnya, sembari memeragakan gerakan saat menerima adonan gethuk keluar dari mesin penggiling.

Setelah itu, adonan didiamkan agar dingin. “Ben gak kemringet (agar tak basah karena lembab, Red),” jelas perempuan dengan dua anak ini. Setelah dingin gethuk dipotong dan dimasukkan dalam bungkusan mika.

Ada lagi hambatan dalam membuat gethuk lindri berkualitas bagus. Salah satunya adalah cuaca. Yang menjadikan gethuk lindri rawan terkena ‘penyakit’. Bila singkongnya terkena boleng maka gethuk lindri jadi tidak enak. “Karena itu (singkong) boleng harus dibuang,” terang Sulikah.

Sulikah menitipkan gethuk lindri buatannya ke beberapa tempat. Di Pasar Sambi, Ngadiluwih, dan kadang sampai Pasar Mojo. “Di pasar  Sambi 120 mika, Pasar Ngadiluwih 130 Mika,” terangnya.

Harganya? Sangat murah. Ke pedagang yang menjual dia patok harga Rp 800.

“Jualnya Rp 900,” kata Rukayah, salah satu pedagang yang menjual gethuk lindri buatan  Sulikah.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kuliner tradisional #berita viral #berita terbaru #jajanan tradisional