Bila menuju wilayah Tulungagung melalui jalur trans-nasional, kita pasti akan menyaksikan pemandangan ini. Terutama ketika tiba di wilayah Desa Branggahan, salah satu desa di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Warung-warung tenda berjajar di sepanjang tepi jalan. Tenda penutupnya bertuliskan soto ayam kampung. Orang menyebutnya sebagai Soto Branggahan.
Sangat wajar bila cap yang diberikan adalah Soto Branggahan. Nama ini tak terkait dengan resep khusus atau rasa. Tapi lebih mengarah pada lokasi tempat kuliner ini yang berada di wilayah Branggahan.
Walaupun ada di Desa Branggahan, ragam asal penjualnya berbeda-beda. Mereka tak hanya dari desa setempat. Tapi juga berasal dari desa-desa di sekitarnya. Bahkan ada yang berasal dari luar Kecamatan Ngadiluwih. Para bakul soto di Branggahan ada yang berasal dari Kecamatan Mojo, Kras, Ringinrejo, hingga Ngasem.
Menu soto ayam di tempat ini sangat khas. Wajar bila kemudian sampai muncul brand Soto Branggahan. Karena karakternya berbeda dengan soto-soto di tempat lain. Kuah yang lebih kental dengan suwiran daging ayam kampung yang kebanyakan babon alias ayam betina.
Ditambah lagi, cara penyajian juga khas. Mangkuknya sangat, sangat kecil. Kebanyakan pembeli selalu memesan lebih dari satu mangkuk.
Sayangnya, meskipun sudah jadi brand kuliner Kabupaten Kediri, suasananya terlihat kurang rapi. Jejeran pedagang satu dengan yang lain juga tak rapi. Apalagi bila kondisi ramai, kendaraan konsumen yang terparkir membuat suasana menjadi sumpek.
Sebenarnya, kuliner Soto Branggahan ini sempat akan dibuatkan ‘wadah’. Alias tempat para penjualnya agar ‘bersatu’. Ada sentra kuliner khusus Soto Branggahan. Hanya, sampai sekarang belum terwujud.
Rencana seperti itu dibenarkan Camat Ngadiluwih Harminto. Dia kemudian menyubut bahwa Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana sempat menyinggung hal itu ketika berlangsung Festival Kuliner Khas Kediri, Agustus lalu. Yaitu tentang perlunya peningkatan kelas pada kuliner-kuliner khas Kediri.
“Saat itu juga disebutkan pecel tumpang dan makanan lain,” kata sang camat.
Nah, khusus untuk brand Soto Branggahan, Harminto menyebut, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak Pemerintahan Desa (Pemdes) Branggahan. Karena desa mereka menjadi tempat bagi puluhan penjual soto. Rencana yang paling sering diusulkan adalah penyediaan lahan kosong sebagai sentra kuliner Soto Branggahan.
“Seperti menjadi pusat jajanan serba ada,” terang Harminto.
Sayang, rencana itu masih sebatas rencana. Kalau versi Harminto, masih dalam tahap kajian. Dia berdalih butuh waktu lama untuk memindahkan puluhan penjual dalam satu tempat. Apalagi, saat ini mereka ada yang sudah membuat warung semi permanen. Bahkan, ada juga yang menggunakan rumah.
“Nanti sifatnya dari desa seperti apa, perlu dirumuskan. Juga harus ada perundingan dengan para warga. Jadi, semuanya harus saling sinergi,” sebut Harminto.
Alasan Harminto ada benarnya. Bila diterapkan, relokasi bakul Soto Branggahan bakal mendapat banyak hambatan. Salah satunya dari para pedagang sendiri. Banyak dari mereka yang enggan pindah kalau diminta dalam waktu dekat ini.
“Kalau disuruh pindah, dan sewanya belum habis, ya berat Mas,” aku Suparti, pemilik soto ‘bermerk’ Pak Jo ini.
Wanita ini mengaku menyewa tempat berjualan dari pemilih lahan yang ada di belakangnya. Harganya, Rp 3 juta per tahun. Uang sewa itu sudah mereka bayarkan di muka.
Ada lagi alasan pedagang enggan pindah. Kali ini soal kekhasan Soto Branggahan. Yaitu adanya pedagang soto yang berjajar di tepi jalan. Satu hal yang menjadi daya tarik orang yang melintas. Kadang, mereka yang mampir tidak berniat terlebih dahulu. Namun, ketika melihat jejeran warung tenda mereka kemudian berhenti. Dengan kata lain, keberadaan mereka akan mudah untuk nengeri alias menjadi tanda. “
“Kadang bus pariwisata melihat spanduk ini bilan, berarti sudah dekat Kediri. Mangkanya banyak yang mampir. Menghentikan bus di bahu jalan yang agak luas kemudian penumpangnya mencari soto di tenda-tenda yang tersedia,” terang anak dari salah satu ‘legenda’ awal Soto Branggahan ini.
Apalagi, ada beberapa pedagang yang sudah ‘menetap’. Artinya, menggunakan rumah yang permanen untuk berdagang. Seperti yang dilakukan oleh Soto Benno, salah satu stan paling laris di tempat itu.
“Wacana pembuatan pujasera rumornya memang ada dari dulu. Kalau kami nanti dulu deh. Lihat seperti apa kebijakannya. Karena jualannya kan juga di bangunan rumah sendiri saat ini,” kata Sumarah, pengelola Soto Benno. Editor : Anwar Bahar Basalamah