KEDIRI, JP Radar Kediri- Satu lagi anak muda Kediri yang bersinar di kancah olah raga. Meski masih berusia muda, Nabilla Dinda Ayuningtyas punya segudang prestasi di dunia voli.
Kini, dia memperkuat tim Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia dalam kompetisi Livoli Divisi Utama 2025.
Voli sudah seperti bagian dari kehidupan Nabilla Dinda Ayuningtyas. Bagaimana tidak, remaja kelahiran 2004 itu sudah menggeluti olahraga ini sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar (SD).
Jauh sebelum dia mengenal berbagai rumus matematika atau teori-teori pelajaran di sekolah, Dinda sudah lebih awam dengan cabang olahraga ini.
Perkenalannya dengan dunia voli tidak bisa dilepaskan dari pengaruh orang tuanya. Bungsu dari tiga bersaudara itu lahir dari pasangan yang juga pemain voli pada masanya.
Sering melihat kedua orang tuanya bermain voli dan melatih anak-anak muda di lingkungannya membuatnya tertarik.
“Kebetulan tempat di belakang rumah itu didirikan klub. Terus ayah bilang, ‘Ayo, ikut latihan voli di belakang’. Awalnya juga cuma ikut-ikutan saja karena masih kecil. Tapi lama-lama tertarik akhirnya ikut terus,” kenangnya.
Latihan dengan tekun yang dia jalani sejak belia itu mengantarkannya pada kompetisi-kompetisi bergengsi.
Saat berita ini ditulis, remaja asal Desa Doko, Ngasem, Kabupaten Kediri itu tengah mengikuti kompetisi Final Four Livoli Divisi Utama 2025.
Dia bergabung dalam tim voli putri Petrokimia Gresik Pupuk Indonesia sejak dua tahun terakhir.
Sebelumnya di tahun 2023, putri pasangan Sumarni dan Hadi Purnomo itu juga tergabung dalam tim voli Jakarta Electric PLN dan berkompetisi di Proliga.
Sejumlah ajang pertandingan voli lainnya yang juga pernah diikutinya antara lain Kapolri Cup 2023 dan 2024 bersama tim dari Provinsi Kepulauan Riau.
Kemudian Porprov 2025, piala Gubernur Cup Jawa Tengah, hingga Livoli Divisi Satu bersama Batam Electric PLN pada 2022 lalu.
“Ada rasa tertantang di setiap match (pertandingan) yang membuat saya senang saja setiap mengikuti pertandingan,” ujar Dinda tentang berbagai pertandingan yang diikutinya.
Sebagai seorang atlet, rutinitasnya tentu tak bisa lepas dari latihan. Hampir setiap hari dia harus berlatih agar bisa menampilkan yang terbaik untuk timnya. Di waktu yang sama, Dinda juga seorang mahasiswa yang kini mulai memasuki semester 7.
Dengan waktu latihan dan segala persiapan jelang kompetisi yang padat merayap, mahasiswi Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu harus pandai-pandai membagi waktu.
“Biasanya kalau ada waktu senggang gitu baru bisa ngerjain tugas. Biasanya kalau malam seperti ini (pukul 21.00) baru bisa santai untuk mengerjakan tugas,” tandasnya sembari menyebut, pendidikan tetap harus dia jalankan meski dengan kesibukannya yang padat sebagai atlet voli.
Di usianya yang menginjak 21 tahun di 2025 ini, alumnus SMA Negeri 7 Kediri itu masih punya banyak mimpi-mimpi yang ingin dicapai.
Khususnya di dunia olahraga voli yang digelutinya saat ini. Dalam waktu dekat, dia berharap timnya bisa kembali membawa gelar juara dalam kompetisi Livoli Divisi Utama 2025 yang berlangsung di GOR Ki Mageti, Magetan.
“Ke depannya masih tetap ingin mengembangkan diri di voli ini, sih. Sambil mengikuti alurnya,” sambung pemain setter itu.
Sebagai salah satu atlet muda, bagi Dinda mengasah kemampuan dengan disiplin latihan menjadi kuncinya.
Meskipun tinggi badannya terbilang di bawah tinggi rata-rata atlet voli putri lainnya, tak membuat semangatnya kendor.
Dia juga berkaca pada idolanya, Pornpun Guedpard, setter asal Thailand yang membuktikan bahwa kondisi fisik tak menjadi penghalang.
Meski dengan tinggi badan di bawah rata-rata pemain lainnya, namun dia bisa mengecoh lawan dengan skill mengumpannya.
“Soalnya aku kan juga pendek. Tapi walaupun aku pendek, harus bisa kayak dia. Kayak pengen aja,” aku Dinda.
Melihat semakin banyaknya anak-anak muda yang mulai tertarik dengan olahraga voli, Dinda berharap mereka tak mudah menyerah.
Disiplin latihan menjadi kunci agar bisa menjadi pemain voli yang unggul. Tak hanya itu, dia juga mendorong agar anak-anak muda lainnya tak mudah merasa takut dalam proses belajar.
“Harus berani bertanya ke pelatih kurangnya apa, berani mencoba hal-hal yang belum pernah dicoba. Karena kalau nurutin takut itu pasti nggak akan berkembang,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita