Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pasar Pon Jadi Identitas dan Pusat Perputatan Ekonomi Masyarakat Desa Turus Kediri

Diana Yunita Sari • Kamis, 4 September 2025 | 06:26 WIB
Pasar Pon Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo.
Pasar Pon Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Turus memiliki tak kurang dari tiga ribu penduduk dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani, pedagang, dan pelaku industri.

Desa yang terdiri dari dua dusun, Turus dan Celelek, ini memiliki lokasi strategis. Pasalnya dekat dengan jalan utama dan kawasan pabrik.

Salah satu infrastruktur desa yang menjadi sumber penghidupan masyarakat adalah Pasar Pon atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Turus.

Meski tidak sebesar Pasar Pagu maupun Pasar Bangsongan, pasar ini menjadi opsi warga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Masyarakat sini kalau belanja ya di situ setiap hari. Pedagangnya pun kebanyakan dari desa kami sendiri,” terang Edi Asrori, salah seorang perangkat desa setempat.

Edi menjelaskan, Pasar Pon berdiri sejak 1998. Sebelum ada pasar, para pedagang biasanya berjualan di timur rel kereta api.

Tepatnya di samping balai desa. Mereka menjajakan bakso, nasi, sayuran, dan kebutuhan lainnya. Seiring waktu, pedagang mulai menetap di barat rel kereta api.

Melihat ramainya aktivitas perdagangan, pemdes kemudian merencanakan pembangunan pasar di tepi jalan raya Kertosono-Kediri itu. Pemdes bekerja sama dengan seorang investor.

Kebetulan seorang pengusaha asal Desa Turus. Investor tersebut menanggung seluruh biaya pembangunan dan memperbolehkan pembayaran dilakukan setelah kios pasar mulai terisi pedagang.

“Embrionya dari dekat balai desa, lalu pindah ke pinggir jalan besar karena warga berdagang di situ terus. Akhirnya kita buat pasar,” jelasnya.

Sejak pasar berdiri, pedagang lama maupun warga lain berebut menyewa kios. Hingga kini terdapat 25 kios yang aktif beroperasi.

Pengelolaan pasar dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Sementara pemdes hanya melakukan pemantauan.

Barang dagangan yang tersedia meliputi kebutuhan pokok seperti sayur, beras, pakaian, hingga warung makan.

“Pasar ini kecil, jadi buka tidak lama, paling jam 8 pagi sudah sepi. Kami menyebutnya pasar krempyeng,” tambah Edi.

Meski tergolong pasar kecil, keberadaan Pasar Pon cukup mampu menggerakkan roda ekonomi warga.

Bahkan, sejumlah pedagang dari luar kota juga ikut menyewa kios di sana. “Yang buka sampai malam biasanya hanya kios makanan,” tandasnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri #ekonomi #Pasar Pon