JP Radar Kediri - Desa Banjarejo, Kecamatan Plemahan, tidak hanya dikenal dengan UMKM bakpia saja. Di sana juga mulai dikembangkan produk jamu tradisional. Menariknya, pengembangan produk minuman tradisional itu berawal dari terpukulnya sektor ekonomi imbas pandemi Covid-19.
Usaha jamu itu dirintis oleh Istiana. Perempuan berusia 50 tahun itu mulai menekuni usaha jamu sekitar tujuh tahun lalu. Sebelumnya, Istiana bekerja sebagai petani bawang merah. Namun saat pandemi Covid-19 melanda, ia mencoba mencari sumber penghasilan lain dan memilih merintis usaha jamu tradisional.
“Awalnya saya petani bawang. Saat pandemi mencoba membuat jamu dan ternyata banyak yang suka,” ujarnya.
Baca Juga: UMKM Keripik Tempe Desa Plosorejo Kediri Tembus Pusat Oleh-Oleh dan Luar Pulau
Dalam memproduksi jamu, dia belajar secara otodidak. Berbekal kemauan belajar dan mencoba, Istiana sudah bisa memproduksi beberapa jenis jamu tradisional. Di antaranya kunyit asam, beras kencur, dan gepyokan daun sirih.
Dari ketiga varian tersebut, kunyit asam menjadi produk yang paling diminati pelanggan. Untuk menjaga kualitas bahan baku, kunyit dibeli langsung dari petani di wilayah Kecamatan Banyakan.
“Kalau beli langsung ke petani harganya lebih murah dan kualitasnya juga lebih bagus,” katanya.
Istiana mengungkapkan, jamu buatannya masih diproses secara tradisional di rumah. Kunyit terlebih dahulu dicuci hingga bersih untuk menghilangkan kulit dan kotoran yang menempel. Setelah itu kunyit diblender hingga halus, kemudian disaring sebanyak tiga kali agar menghasilkan sari kunyit yang jernih tanpa mengurangi cita rasanya.
Baca Juga: Pemdes Bulusari Tarokan Kediri Gandeng Petani, Bangun Wisata Petik Buah
“Disaring maksimal tiga kali supaya sari kunyitnya tetap terasa,” terangnya.
Seluruh proses produksi juga masih dikerjakan sendiri. Praktis kapasitasnya memproduksi jamu juga terbatas. Dalam satu kali produksi, ia mampu menghasilkan sekitar 400 hingga 500 botol kecil berukuran 250 mililiter. Sedangkan untuk kemasan besar ukuran satu liter, dia bisa membuat sekitar 30 botol.
Produksi biasanya dilakukan satu hingga dua kali dalam seminggu. Sebagian besar jamu yang dibuat langsung didistribusikan ke pelanggan dan toko-toko langganan di wilayah Plemahan, seperti Desa Sukoharjo, Payaman, Sidowarek, dan beberapa desa lainnya.
Baca Juga: Strategi Pemdes Gogorante Ngasem Tingkatkan PAD Desa, Kelola Lapangan dan Ruko Desa
“Dulu keliling jualan sendiri. Sekarang lebih banyak setor ke toko dan pelanggan yang sudah langganan,” ungkapnya.
Meski merupakan produk rumahan, namun jamu produksi Istiana telah dilengkapi label usaha dan mengantongi sertifikat halal. Untuk menjaga kualitas, produk disarankan disimpan dalam lemari pendingin agar bisa bertahan hingga satu minggu. Sedangkan jika disimpan pada suhu ruang, daya tahannya tidak sampai dua hari.
Editor : Mahfud