JP Radar Kediri - Desa Bulusari memiliki inovasi menarik dalam memberdayakan warga. Khususnya para petani jeruk. Salah satunya dengan menjalankan program wisata petik jeruk yang telah dirintis sejak tahun 2020.
Wisata yang berlokasi di belakang Stadion Gelora Dhaha Jayati (GDJ) ini awalnya digagas setelah melihat fenomena harga jeruk yang kerap anjlok saat panen raya. Kala itu, petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah ke pengepul. Untuk menyelamatkan nilai jual tersebut, Pemdes Bulusari mencetuskan ide wisata petik buah.
“Lahannya milik petani setempat. Lalu kami ajak kerja sama dengan Pokdarwis untuk mengantisipasi harga yang anjlok,” ungkap Sekretaris Desa Bulusari Dewi Mirnasari.
Baca Juga: Pemdes Sumberduren Kediri Sulap Bekas Balai Desa Jadi GOR Multifungsi
Jenis jeruk yang ditanam mayoritas adalah varietas Siyem. Sistem kerjasamanya menggunakan pola bagi hasil. Meski ada pula lahan petani yang sepenuhnya disewa oleh Pokdarwis. Biasanya wisata petik jeruk ini dibuka pada bulan-bulan tertentu seperti Juli hingga Oktober. Di luar periode tersebut, petani cenderung menjual hasil panennya secara mandiri. Karena harga di pasar sedang tinggi.
Tiket masuk ke wisata ini dibanderol seharga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per orang. Dengan harga tersebut pengunjung bebas makan jeruk sepuasnya di lokasi. Namun, jika ingin membawa pulang, jeruk akan ditimbang dan dikenakan biaya sesuai harga pasar.
“Selain petik jeruk, Pemdes juga tengah mengajak warga untuk mengolah hasil panen menjadi produk lain seperti sari buah,” ucap Dewi.
Baca Juga: Strategi Pemdes Gogorante Ngasem Tingkatkan PAD Desa, Kelola Lapangan dan Ruko Desa
Pengunjung yang datang tidak hanya warga sekitar. Melainkan juga dari luar daerah hingga rombongan anak sekolah. Pihak pengelola menyediakan berbagai paket. Mulai dari paket edukasi hingga paket makan yang bekerja sama dengan UMKM setempat.
Promosi dilakukan melalui media sosial. Tak jarang, banyak influencer atau YouTuber yang datang untuk membuat konten di sana. Saat musim panen, setiap Sabtu dan Minggu pengunjung bisa mencapai 20-30 orang. “Bahkan ada rombongan kereta kelinci. Rata-rata dari luar desa seperti Nganjuk, Prambon, hingga Surabaya,” terangnya.
Mengingat musim jeruk umumnya hanya sekali setahun, Dewi menyebut bahwa saat ini petani mulai belajar teknik agar tanaman bisa berbuah dua kali setahun. Mulai dari optimalisasi pemupukan hingga perawatan intensif.
Baca Juga: Pemdes Turus Gurah Kediri Bangun TPS3R, Sukses Atasi Masalah Sampah
Editor : Andhika Attar Anindita