Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Salah Satu Gang di Desa Muneng Purwoasri Kediri ini Konsisten Pertahankan Predikat Sentra Opak Ladu

Diana Yunita Sari • Selasa, 16 Desember 2025 | 13:15 WIB
Sumarti menjemur kerupuk ladu miliknya (Diana Yunita Sari)
Sumarti menjemur kerupuk ladu miliknya (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri- Desa Muneng dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kerupuk ladu atau yang populer disebut Opak Ladu. Di desa ini, terdapat sebuah gang yang mayoritas warganya bergelut dalam usaha pembuatan camilan khas tersebut.

Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Sumarti, 63, warga Dusun Muneng Kulon. Dia memulai usaha pembuatan kerupuk ladu ini sejak tahun 2000. Sebagai generasi ketiga, dia berkomitmen meneruskan usaha keluarganya yang berjalan lebih dari 60 tahun lalu.

“Usaha dari Mbah saya, dulu saya hanya membantu Mak (Ibu, red),” ungkap Sumarti.

Dia bercerita, kerupuk ladu adalah jajanan khas Desa Muneng. Dulu, gang ini terkenal dengan nama Gang Marning. Namun, seiring berjalannya waktu semakin banyak pengusaha kerupuk ladu. Sehingga kini lebih dikenal sebagai Gang Opak Ladu.

Sumarti melakukan produksi setiap hari. Proses pembuatannya dimulai dengan merendam beras ketan semalaman. Setelah itu, beras ketan ditanak selama 3 jam. Dicampur gula putih. Lalu didiamkan. Keesokan harinya, adonan ditanak lagi hingga matang. Setelah itu, adonan ditumbuk dan diratakan. Saat masih agak hangat, adonan kembali diratakan lalu dijemur.

Dalam sehari, Sumarti bisa menghabiskan 15 hingga 20 kg beras ketan. Setelah kerupuk kering, adonan digunting dan digoreng. Kerupuk ladu produksinya tersedia dalam dua warna. Yaitu putih dan merah. Keduanya juga dijual dengan varian rasa original dan dengan tambahan gula.

Dalam menjalankan usahanya, Sumarti dibantu oleh sembilan orang karyawan. Enam orang bertugas di bagian menumbuk dan tiga orang di bagian menggoreng. “Bagian yang susah itu menumbuk, makanya butuh banyak orang. Kalau menumbuknya tidak halus, maka hasilnya juga tidak bagus,” jelasnya.

Penjualan paling ramai terjadi menjelang puasa. Pesanan dari satu pelanggan saja bisa mencapai dua kuintal. Sumarti sudah memiliki langganan tetap yang biasanya mengambil sendiri ke rumah.

Para tengkulak ini kemudian mengemasnya dengan merek mereka sendiri. Kemudian dijual mulai dari Kediri hingga luar kota. Kerupuk ladu tersebut dibanderol dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per 2 kilogram.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah faktor cuaca. Jika kerupuk tidak terkena panas matahari langsung, ia terpaksa menggunakan oven. Namun, hasil yang didapatkan dari oven kurang maksimal. “Agak keras,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kabupaten kediri #purwoasri #kediri #umkm #Jajanan Jadul #Opak Ladu #purwoasri kediri