Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Desa Kaliboto Tarokan Lestarikan Camilan Keripik Lamuk Emplek

Diana Yunita Sari • Sabtu, 22 November 2025 | 22:28 WIB
Warga menunjukkan produk krupuk emplek lamuk (Diana Yunita Sari)
Warga menunjukkan produk krupuk emplek lamuk (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Desa Kaliboto terkenal dengan industri kerupuk lamuk emplek. Camilan ini merupakan khas Kediri yang terbuat dari singkong. Usaha rumahan ini banyak digeluti oleh warga setempat. Salah satunya adalah Wiwin dan Haniah, warga Dusun Sumberkepuh.

Kakak-beradik tersebut konsisten meneruskan usaha yang telah dilakukan keluarga secara turun-temurun sejak 50 tahun. Haniah berfokus pada produksi tepung tapioka. Sementara Wiwin mengolahnya menjadi keripik emplek, rempeyek lamuk, rempeyek beras, dan lain sebagainya.

“Usaha ini turun-temurun sejak kakek dan nenek. Diteruskan Bapak, lalu sekarang ke anak-anaknya. Alhamdulillah masih lancar dan sudah memiliki pelanggan masing-masing,” ungkap Haniah.

Semua olahan tersebut berbahan utama tepung tapioka. Untuk membuat tepung tapioka, singkong yang didatangkan dari pegunungan di Nganjuk itu dicuci bersih. Kemudian dikupas dan digiling menggunakan mesin. Lalu, dikeringkan hingga menjadi tepung.

Hasil produksi singkong dapat dimanfaatkan kembali secara maksimal. Misalnya, kulit ketela dimanfaatkan untuk pakan ternak. Ampas atau limbahnya digunakan untuk keripik emplek. Sedangkan tepungnya menjadi bermacam-macam olahan.

“Satu hari bisa memproduksi hingga 4 ton ketela mentah dan hasil akhirnya bisa menjadi sekitar 1 ton tepung,” ungkapnya.

Proses pengeringan tepung masih menggunakan cara tradisional. Yaitu memanfaatkan sinar matahari penuh. Oleh sebab itu, musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi produksi mereka.

Tepung tapioka milik Haniah dijual kepada pembeli-pembeli yang sudah menjadi langganan. Mereka mayoritas berasal dari daerah sekitar Tarokan hingga Ngadiluwih. Penjualan dilakukan baik secara offline maupun online melalui Facebook.

Sementara itu, Wiwin selaku pelaku usaha keripik emplek dan rempeyek lamuk mengatakan, dalam sehari ia bisa memproduksi hingga 10 kg keripik. Saat menjelang puasa dan Idul Fitri pesanan meningkat. Mencapai 2 ton.

“Paling ramai ya Idul Fitri, karena banyak yang pesan untuk oleh-oleh. Pembuatannya bahkan dimulai hingga satu bulan sebelumnya,” ungkap Wiwin.

Sama seperti sang adik, Wiwin juga telah memiliki pelanggan tetap. Pelanggannya kebanyakan adalah para pemilik toko yang menjual kembali secara eceran. Keripik emplek miliknya dibanderol dengan harga Rp 34 ribu per kilogram. Emplek basah Rp 5 ribu per biji. Sedangkan rempeyek lamuk Rp 5 ribu per plastik.

Baca Juga: Kreatif! Warga Desa Sukoharjo Kayenkidul Kediri Geluti Usaha Susu Jelly dan Buah Parcel Premium

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #kediri #makanan tradisional #umkm #Desa Kaliboto #kerupuk lamuk #grogol