Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berbekal Pelatihan, Warga Desa Kalibelo Gampengrejo ini Geluti Usaha Pembibitan Padi

Diana Yunita Sari • Jumat, 21 November 2025 | 22:02 WIB
Purwoko menyiapkan media tanam untuk menyemai benih padi (Diana Yunita Sari)
Purwoko menyiapkan media tanam untuk menyemai benih padi (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Desa Kalibelo terkenal memiliki pertanian yang maju. Mata pencaharian warganya juga mayoritas adalah petani. Namun, tak hanya menggarap lahan. Banyak warga Desa Kalibelo yang juga menggeluti usaha pembibitan tanaman. Terutama padi. 

Salah satu warga yang menggeluti usaha tersebut adalah Purwoko, 55, warga Dusun Kalibelo. Dia telah menjalankan usaha tersebut selama lima tahun. Usaha tersebut dimulai setelah para anggota kelompok tani mendapatkan pelatihan pembibitan padi. Kini usahanya tersebut selalu ramai pemesan saat musim tanam.

Purwoko mengaku sebelumnya hanya seorang petani saja. Awalnya, dia juga takut mau mulai usaha. “Tapi setelah dapat pelatihan sekaligus pendanaan dari desa, akhirnya telaten dijalani hingga sekarang,” ungkap Purwoko saat ditemui di tempat pembibitan padinya.

Di Desa Kalibelo yang menekuni usaha pembibitan ada 3-4 orang. Namun, hampir semua petani juga melakukan pembibitan mandiri untuk lahan masing-masing. Bibit padi milik Purwoko ramai dipesan hingga luar desa. Mencakup wilayah sekitar Kecamatan Gampengrejo, Ngasem, hingga Prambon, Nganjuk.

Benih-benih padi tersebut dia semai di halaman rumah dan sawah yang keseluruhan memiliki luas sekitar 100 ru. Pembibitan dimulai sejak bulan Oktober hingga Januari. Dari masa semai hingga panen memakan waktu sekitar dua minggu.

“Pertama, pelataran diisi tanah lumpur atau tanah sungai. Bibitnya yang disemai macam-macam tergantung pesanan, ada jenis bramo, Inpari 32, Inpari 42, dan lain-lain,” jelasnya.

Perawatan yang dilakukan meliputi penyiraman secara berkala dan pemberian obat jamur. Bibit yang siap panen kemudian dijual per gulung atau per luas lahan. Harga satu gulungnya yang memiliki ukuran 90 x 30 meter adalah Rp 13 ribu. Petani yang memesan bibit di tempatnya bahkan telah memesan satu bulan sebelum masa tanam. Pesanan bisa diambil sendiri atau diantar.

Meskipun telah menggeluti usaha tersebut sejak lama, Purwoko mengaku tantangan tetap ada. Beberapa di antaranya seperti unggas yang memakan benih atau curah hujan yang tinggi. “Ya tantangannya itu kalau banyak ayam. Lalu kalau hujan deras benihnya bisa morat-marit karena akarnya belum kuat,” pungkasnya.

 

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #kediri #pertanian #umkm #padi #bibit padi #kecamatan gampengrejo