Desa Sitimerto banyak dikenal sebagai penghasil jajanan jadul. Seperti marning dan opak gambir. Muri Astutik, 61, adalah salah satu pelaku usahanya.
Opak gambir ‘Cap Jempol’ miliknya telah berdiri lebih dari 40 tahun. Tepatnya sejak tahun 1982 silam.
Usaha milik Tutik pada awalnya didirikan oleh ibunya, Murtiah. Kemudian dia teruskan pada 2004 setelah ibunya wafat.
Tak hanya opak gambir. Usahanya juga mencakup kue kering, kue basah, dan katering makanan. Namun, sekarang dia lebih fokus pada opak gambir saja.
“Makin tua tenaganya sudah tidak ada, jadi sekarang cuma opak gambir saja. Izin usaha PIRT juga sudah diurus sejak 2009,” ucap Tutik.
Pesanan opak gambir paling ramai saat menjelang Idul Fitri. Oleh karena itu, dia sudah mulai membuat stok tiga bulan sebelumnya.
Untuk adonan, dia buat sendiri. Sedangkan proses penggorengan dibantu oleh lima orang pegawainya.
Menjelang Idul Fitri, Tutik bisa menjual hingga 225 kg opak gambir yang dikemas dengan berbagai ukuran.
Mulai dari kemasan plastik hingga blek besar. Omzet yang didapatkan juga mencapai Rp 5-10 juta.
Sedangkan di hari biasa, karena jarang pemesan, dia hanya mendapat omzet sekitar Rp 1-2 juta per bulan.
“Ini kan jajanan jadul, kebanyakan orang beli untuk oleh-oleh. Kalau hari biasa begini, ya cuma pesanan beberapa orang saja,” ungkapnya.
Pemasaran produk ‘Cap Jempol’ menurut Tutik hanya dilakukan dari mulut ke mulut. Dia meminta pembelinya untuk merekomendasikan ke teman atau keluarganya.
Sambil sesekali diunggah ke media sosial dengan bantuan teman dan putranya.
Pembeli opak gambir miliknya juga berasal dari berbagai kota. Mulai dari Mojokerto, Jombang, hingga Surabaya.
Proses pengiriman diambil langsung oleh pembeli yang kebanyakan untuk dijual kembali.
“Dulu pernah ikut gabungan UMKM dan dijual di pusat oleh-oleh, tapi tiga tahun berhenti karena tidak efisien,” ucap wanita yang juga berprofesi sebagai pegawai Tata Usaha SMP PGRI 2 Pagu tersebut.
Setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, Tutik sudah menyiapkan adonan yang siap untuk dicetak oleh kedua pegawainya. Proses produksi dan penjualan dilakukan di kios yang terletak di depan rumahnya.
Harga opak gambirnya bervariasi. Mulai dari ukuran kecil dengan harga Rp 19 ribu hingga blek besar dengan harga Rp 190 ribu.
Editor : Andhika Attar Anindita